Monday, September 2, 2013

Apakah Itu Ketidakkekalan?

Hujan rintik membasahi tanah berpasir,
Sejuk alam seketika terbawa angin semilir,
Termenung di tepian air mengalir,
Kemanakah jalan saat menuju ke pantai akhir?
Apakah kematian adalah akhir segalanya?
Ataukah malah permulaan dari semuanya?
Siapa yang dapat menjawabnya?
Hanya teka-teki ataukah misteri?
Lautan hati tak bertepi,
Lautan jiwa tak terhingga.
Jauh sebelum tercipta dunia,
Tak berujung juga tak berawalan...
Apakah itu ketidakkekalan...???
(Written by : Kepik Romantis / PVA)

Mutiara Kata Khalil Gibran

*Salahlah bagi orang yang mengira bahwa cinta itu datang karena pergaulan yang lama dan rayuan yang terus menerus.
*ATAS NAMA CINTA : Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.
*Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan abad.
*Ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku, jika cinta memelukmu maka dekaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu.
*Cinta tidak menyadari kedalamannya dan terasa pada saat perpisahan pun tiba. Dan saat tangan laki-laki menyentuh tangan seorang perempuan mereka berdua telah menyentuh hati keabadian.
*Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia karena cinta itu membangkitkan semangat hukum-hukum kemanusiaan dan gejala alami pun tak mampu mengubah perjalanannya.
*Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang.
+ Saling mengasihi satu dengan yang lainnya, tetapi jangan membuatnya terikat, biarkan bergerak seperti air laut di antara tepi pantai jiwamu.
+ Love has no other desire but to fulfill itself. But if you love and must needs have desires, let these be your desires; to melt and be like a running brook that sings its melody to the night. To know the pain of to much tenderness. To be wounded by your own understanding of love; and to bleed willingly and joyfully. To wake at dawn with a winged heart and give thanks for another day of loving.
= Cinta tidak memiliki keinginan lain kecuali untuk memenuhi cinta itu sendiri. Tapi jika Anda mencintai dan membutuhkan keinginan, biarlah cinta ini menjadi keinginan Anda; Mencair dan mengalir seperti sungai, yang menyanyikan melodinya pada malam hari. Mengetahui rasa sakit dari banyaknya kepedihan. Telah melukai diri anda sendiri dalam memahami cinta; Dan rela berbahagia berkorban untuk terluka berdarah. Terbangun pada waktu fajar dengan hati bersayap dan bersyukur telah diberikan hari berikutnya untuk mencintai.
+ If you love somebody, let them go, for if they return, they were always yours. And if they don't, they never were.
= Jika Anda mencintai seseorang, biarkan mereka pergi, karena jika mereka kembali, mereka selalu akan menjadi milikmu. Dan jika mereka tidak pernah kembali, mereka tidak pernah ada untuk dimiliki.

Sunday, September 1, 2013

Bao Zheng (Hanzi: 包拯) (999-1062)




Bao Zheng (Hanzi: 包拯) (999-1062) adalah seorang hakim dan negarawan terkenal pada zaman Dinasti Song Utara. Karena kejujurannya dia mendapat julukan Bao Qingtian(包青天) yang berarti Bao si langit biru, sebuah nama pujian bagi pejabat bersih. Musuh-musuhnya menjulukinya Bao Heizi (包黑子) yang artinyasi hitam Bao karena warna kulitnya yang gelap. Nama kehormatannya adalah Xiren (希仁).

Kehidupan :
Bao dilahirkan dalam keluarga sarjana di Luzhou (sekarang Hefei, provinsi Anhui). Kehidupan awalnya banyak memengaruhi kepribadiannya. Orang tuanya walaupun hidup pas-pasan, namun masih sanggup menyekolahkannya dengan baik. Ketika sedang mengandungnya, ibunya sering turun naik gunung untuk mengumpulkan kayu bakar. Di kampungnya dia banyak berteman dengan rakyat jelata sehingga dia mengerti beban hidup dan masalah mereka. Hal ini membuatnya membenci korupsi dan bertekad untuk menegakkan keadilan dan kejujuran. Orang yang berpengaruh besar pada kehidupannya adalah Liu Yun, seorang pejabat kehakiman di Luzhou, seorang pejabat yang ahli dalam puisi dan literatur serta adil dan membenci kejahatan. Dia juga seorang yang menghargai intelektual dan bakat Bao. Di bawah pengaruh Liu, Bao bertekad untuk memberikan kesetiaannya terhadap kerajaan dan cintanya pada negara dan rakyat.

Pada usia 29 tahun, dia lulus ujian kerajaan tingkat tertinggi dibawah pengujian langsung dari kaisar hingga menyandang gelar Jinshi. Sesuai hukum dan peraturan saat itu yang mengatakan bahwa seorang sarjana Jinshi dapat ditunjuk menempati posisi penting dalam pemerintahan, maka Bao diangkat sebagai pejabat kehakiman mengepalai Kabupaten Jianchang. Namun dia mengundurkan diri tak lama kemudian karena sebagai anak berbakti dia memilih pulang kampung untuk merawat orang tuanya yang sudah tua dan lemah selama sepuluh tahun. Baru setelah kematian orang tuanya, dia kembali diangkat sebagai pejabat, kali ini sebagai pejabat kehakiman Provinsi Tianchang. Ketika itu dia telah berumur 40 tahun.

Sebagai pejabat, Bao bekerja dengan adil, berani, dan berpegang pada kebenaran. Kecerdasan dan bakatnya membuat banyak orang kagum, termasuk Kaisar Song Renzong yang mempromosikannya dan memberikannya jabatan penting termasuk sebagai hakim di Bian (sekarang Kaifeng), ibukota Dinasti Song. Dia terkenal karena pendiriannya yang tak kenal kompromi terhadap korupsi di antara pejabat pemerintahan saat itu. Dia menegakkan keadilan bahkan menolak untuk tunduk pada kekuasaan yang lebih tinggi darinya bila itu tidak benar termasuk pada Guru Besar Liu Pang(庞太师), ayah mertua kaisar yang merangkap guru besar yang membimbing putra mahkota sehingga Liu Pang sangat menganggap Bao sebagai musuhnya.

Sejarah mencatat bahwa selama kurang lebih 30 tahun sejak dia memegang jabatan pertama kalinya, sebanyak lebih dari 30 orang pejabat tinggi termasuk beberapa mentri telah dipecat atau diturunkan pangkatnya olehnya atas tuduhan korupsi, kolusi, melalaikan tugas, dan lain-lain. Dia sangat berpegang teguh pada pendiriannya dan tidak akan menyerah selama dianggapnya sesuai kebenaran. Enam kali dia melaporkan pada kaisar dan memintanya agar memecat pejabat tinggi, Zhang Yaozhuo, paman dari selir kelas atas kerajaan, tujuh kali untuk memecat Wang Kui, pejabat tinggi lain yang kepercayaan kaisar, bahkan dia pernah beberapa kali membujuk kaisar untuk memecat perdana mentri Song Yang. Dalam kapasitasnya sebagai juru sensor kerajaan dia selalu sukses meyakinkan kaisar tanpa membawa kesulitan bagi dirinya, padahal dalam sejarah banyak juru sensor telah mengalami nasib yang buruk, seperti misalnya Sima Qian, sejarawan dan filsuf Dinasti Han yang dikebiri karena Kaisar Han Wudi tidak bisa menerima pendapatnya. 

Dalam pemerintahan, teman dekatnya adalah paman kaisar yaitu Zhao Defang yang lebih dikenal dengan nama pangeran ke delapan (八王爷, Ba Wang Ye). Di kalangan rakyat, Bao Zheng dikenal sebagai hakim yang adil dan berani memutuskan segala sesuatu berdasarkan keadilan tanpa rasa takut, juga mampu membedakan mana yang benar dan yang salah. Baginya siapapun termasuk kerabat dekat kaisar sekalipun harus dihukum bila terbukti bersalah melakukan pelanggaran. Bao meninggal tahun 1062 dan dimakamkan di makam keluarganya di Hefei, di kota itu juga dibangun kuil untuk mengenangnya (包公祠).

Bao Zheng dalam legenda :
Bao Zheng banyak menghiasi karya literatur dalam sejarah Tiongkok, kisah hidupnya yang melegenda sering ditampilkan dalam opera dan drama, kebanyakan kisah-kisah ini didramatisasi. Dalam opera biasanya dia digambarkan sebagai pria berjenggot dengan wajah hitam dan tanda lahir berbentuk bulan sabit di dahinya (beberapa versi menyebutkan tanda ini berasal dari luka ketika dia memberi hormat dengan sangat keras pada ibunya untuk menunjukkan baktinya). Makam Bao Zheng di Hefei, Anhui. 
Makam Bao Zheng di Hefei, Anhui.

Disebutkan juga bahwa kaisar menganugerahi Bao tiga gilotin (alat penggal) dalam tugasnya sebagai hakim. Ketiga gilotin itu mempunyai dekorasi yang berbeda dan digunakan untuk menghukum orang sesuai statusnya. Guilotine kepala anjing untuk menghukum rakyat jelata, kepala macan untuk menghukum pejabat korup, dan kepala naga untuk menghukum bangsawan jahat. Dia juga dianugerahi tongkat emas kerajaan oleh kaisar sebelumnya untuk menghukum kaisar sendiri bila bersalah dan pedang pusaka kerajaan sebagai tanda berhak untuk menghukum siapapun termasuk anggota kerajaan tanpa melapor atau mendapat persetujuan dulu dari kaisar. Dalam tugasnya dia dibantu oleh enam deputinya yaitu polisi Zhan Zhao, sekretaris Gongsun Zhi, dan empat pengawal Wang Chao, Ma Han, Zhang Long, dan Zhao Hu. Selain itu juga lima pendekar dari dunia persilatan yang dijuluki lima pendekar tikus. Keduabelas orang ini disebut “tujuh pendekar lima ksatria” (七侠五义, qi xia wu yi).

Beberapa kisah legendanya yang terkenal adalah :
鍘美案, mengisahkan Bao Zheng mengeksekusi Chen Shimei, seorang sarjana yang meninggalkan anak istrinya setelah lulus ujian kerajaan dan menikahi seorang wanita bangsawan, Chen bahkan mencoba membunuh istrinya dengan mengirim pembunuh bayaran.

貍貓換太子, mengisahkan Bao membongkar konspirasi dalam istana, dimana bayi putra mahkota ditukar dengan anak kucing ketika baru dilahirkan. Dalam kasus ini Bao harus berhadapan dengan kasim yang menjadi temannya pada awal kariernya, Guo Huai sehingga Bao harus memilih antara perasaan pribadi sebagai teman dan kewajibannya menegakkan keadilan. Bao menyamar sebagai dewa Yama, raja neraka untuk membongkar kejahatan Guo Huai. Guo pun akhirnya mengakui segalanya karena dia mengira telah berada di neraka.

Bao Zheng dalam budaya populer :
Kisahnya yang difilmkan oleh sebuah perusahaan film Taiwan dengan judul Justice Bao (包青天) meraih popularitas luar biasa di Asia pada dekade 90-an, tak lama kemudian untuk mengikuti kesuksesannya, Hongkong pun ikut menggarap kisah ini dengan aktor pemeran Bao yang sama pula, Jin Chaoqun, namun tidak sesukses versi Taiwannya. Di Indonesia serial ini dulu ditayangkan di dua stasiun TV sekaligus yaitu RCTI dan TPI (Sekarang MNCTV).

Hampir semua kisah dalam serial ini adalah fiksi yang dihubungkan dengan kehidupannya, namun sarat dengan nilai-nilai tradisional Tiongkok, seperti bakti pada orang tua, kesetiaan pada negara, dan kehormatan.



ANGIN (Lucu-lucuan)



Angin di darat..,Angin di laut (-->pelajaran sekolah..wkwk :v :v)Angin malam, angin pagi, siang, sore, malam, subuh..tambahin sendiri cape ngetiknya. Ada Arah Mata Angin dari : Timur, Tenggara, Selatan, Barat daya, Barat, Barat Laut, Utara, Timur laut.. (lengkap banget dah..) Musim rontok banyak angin..., musim angin, angin musiman.. (kok dibolak balik) Dari Angin mamiri, Angin kencang, Hujan Angin, Angin topan, Angin ribut, Angin-anginan, Ketiup Angin, Kabar Angin, Angin duduk, Makan Angin, sampai Masuk Angin.. Dikerokin pakai Minyak Angin, Minum Jamu Antangin tambah Tolak Angin dan Teh Angin (loh kok iklan??) Biar Bisa BUANG ANGIN..(dhuut..dhuut..bruut eh dasar bau...),

yang nulis hanya mirip sama Anak si Angin cuma lagi Mabok Angin.., Ibu Bapa Kakak si Angin lagi olahraga Angin (masa iya...), Hati-hati Cuaca Ber-Angin, sambil lihat-lihat roti, kue di Negeri Kincir Angin (maksa banget). Eh, Jangan Lupa Jemuran Di-Angin-anginin yah..
Wkwkwkwkwakakaka...hahaha..hihihi..xixixi :v :p :D terusin aja sendiri Angin-angin-nya...  
Written by : Kepik Romantis

Tuesday, August 27, 2013

Legenda Asal-Usul Ikan Kayu



Mengapa kayu mulai digunakan dalam ibadah Buddhis Tiongkok ? Mengapa bentuknya ikan dan apa arti dari itu? Inilah legenda asal mulanya.

Kisah ini dicatat dalam buku Xuanzang Zhi Gui Qu. Sepulang dari ziarah ke India, Biksu Buddha Xuanzang bertemu dengan seorang Bapak tua ketika ia melewati Shu (sekarang Provinsi Sichuan).
Saat Bapak tua itu sedang berburu, istrinya (yang merupakan ibu tiri) melemparkan anaknya yang berusia 3 tahun ke sungai. Demi berkabung bagi anaknya, bapak tua menawarkan makanan vegetarian untuk biksu itu. Namun demikian, Xuanzang bersikeras ingin makan ikan. Oleh karena itu, bapak tua membelikannya seekor ikan besar di pasar nelayan terdekat.
Saat bapak tua memotong dan membuka perut ikan, ternyata di dalamnya ada anaknya yang masih hidup.
Xuanzang berkata kepadanya: "Ini adalah buah pahala perbuatan baik anakmu karena ia mematuhi ajaran tidak membunuh dalam kehidupan sebelumnya. Oleh karena itu, ia mampu bertahan hidup meskipun ia ditelan ikan; ikan ini tidak membunuhnya, malah menyerahkan diri kepada nelayan untuk ditangkap."
Bapak ini bertanya kepada Xuanzang bagaimana dia bisa membalas budi baik ikan. Xuanzang menjawab: "Ikan berkorban untuk menyelamatkan anak. Harus ada sepotong kayu diukir menjadi bentuk ikan, dan tergantung di kuil. Ketuklah ikan kayu ketika menyediakan makanan. Dengan demikian, bantuan besar ini dapat dibayar kembali." Ini adalah salah satu legenda tentang asal-usul ikan kayu dalam Buddhisme Tiongkok.
Di atas adalah legenda turun temurun, namun kisah lain mengatakan arti sebenarnya dari penggunaan ikan kayu adalah merupakan salah satu aturan di Bai Zang Qing Gui, Tata Tertib Guru Bai Zang: biksu Buddha Mahayana harus mengetuk ikan kayu saat melafalkan (kitab suci) sutra.
Mengapa harus ikan yang dijadikan simbol? alasan peraturan ini adalah ikan tidak pernah menutup mata mereka, yang berarti bahwa para bhiksu harus selalu waspada untuk menjaga kebajikan dan belajar dengan rajin, tidak boleh lengah, juga melambangkan kesadaran, perhatian yang murni. Dengan kata lain, ikan kayu merupakan instrumen penting digunakan sebagai pengingat bagi para bhiksu selalu rajin dan senantiasa sadar.

Wednesday, August 21, 2013

Lagu Indonesia Raya Asli (1928)

Lirik Modern INDONESIA RAYA
I
Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.
Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg'riku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.
II
Indonesia, tanah yang mulia,
Tanah kita yang kaya,
Di sanalah aku berdiri,
Untuk s'lama-lamanya.
Indonesia, tanah pusaka,
P'saka kita semuanya,
Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia.
Suburlah tanahnya,
Suburlah jiwanya,
Bangsanya, Rakyatnya, semuanya,
Sadarlah hatinya,
Sadarlah budinya,
Untuk Indonesia Raya.
III
Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
N'jaga ibu sejati.
Indonesia, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
Indonesia abadi.
S'lamatlah rakyatnya,
S'lamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Neg'rinya,
Majulah pandunya,
Untuk Indonesia Raya.
Refrain :
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg'riku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.

NB : Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Republik Indonesia. Lagu ini pertama kali diperkenalkan oleh komponisnya, Wage Rudolf Soepratman, pada tanggal 28 Oktober 1928 pada saat Kongres Pemuda II di Batavia. Lagu ini menandakan kelahiran pergerakan nasionalisme seluruh nusantara di Indonesia yang mendukung ide satu "Indonesia".
Sumber dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia_Raya
https://www.youtube.com/watch?v=PrlSmi734Zs

Tragedi Rahwana Mencintai Shinta I

Pada suatu ketika di Zaman Era Millenium sekitar tahun 2015 – 2020 di bagian arah utara benua Asia, terdapat Negara Mantili, yang terkenal memiliki banyak pesilat tangguh berilmu tinggi. Negara itu dipimpin oleh seorang Raja bernama Prabu Janaka, yang mempunyai seorang Putri yang sangat cantik jelita bernama Dewi Shinta.

Saat Putri mulai menginjak dewasa, Raja pun berupaya untuk mencarikan jodoh yang terbaik dan terhebat bagi Putrinya dari seluruh Negara Kerajaan di dunia persilatan. Untuk itulah Raja akhirnya membuat sayembara pertarungan hebat yang dihadiri oleh para pesilat (Ksatria) tangguh dari berbagai cabang ilmu bela diri dan kungfu di berbagai Negara dan siapapun yang berhasil memenangkan pertandingan akan mendapat berbagai hadiah, seperti : Hadiah Utama berupa Rumah senilai 99 Milyar, Hadiah peringkat kedua mendapat Mobil Lamborghini-Gallardo dengan design dan type terbaru, Hadiah peringkat ke tiga mendapat Motor Ducati (merk terkenal yang sering dipakai buat balapan motor sejagat) dan Terakhir sebagai Hadiah Harapan Utama akan bersanding menjadi calon suami bagi Dewi Shinta alias menjadi menantu Kerajaan Mantili.Pertarungan sengit terjadi antar para ksatria tangguh dan berakhir dimenangkan oleh Putera Mahkota dari Negara Kerajaan Ayodya, yang terkenal sangat tampan, rupawan (ketampanannya termasuk saingan berat Arjuna, yang jadi bintang “cover boy” di majalah sampul kisah perwayangan Mahabharata) dan berilmu silat tinggi (Gelarnya Sabuk Hitam / DAN Level 9). Akibat kegantengannya itu ternyata telah banyak menarik hati para gadis muda belia hingga para janda dan tante girang sejagat benua Asia, dialah Raden Rama Wijaya. Seselesainya acara pertandingan, Dewi Shinta langsung ditunangkan dengan Raden Rama Wijaya.


Terdengarlah berita tersebut yang terlambat tersebar ke telinga Prabu Rahwana, Raja dari Negara Alengka, sebuah Negara kecil yang telah berkembang sedikit lebih maju dalam bidang perekonomian, perdagangan, perindustrian maupun kepariwisataannya. Letaknya sedikit jauh ke arah selatan benua Asia, berada di seberang samudera, namun rakyatnya hidup sangat berkecukupan, makmur dan sejahtera serta sangat menghormati dan mencintai Rajanya yang adil dan bijaksana.


Saat mendengar berita itu, Sang Prabu yang terlambat menerima berita hanya dapat datang untuk menghadiri Undangan pesta acara pertunangan dari Raden Rama Wijaya dengan Dewi Shinta (Putri Raja Prabu Janaka di Negara Mantili). Setelah melihat wajah dari Dewi Shinta, Prabu Rahwana terkejut karena dipandangan matanya adalah sosok perempuan titisan Dewi Widowati, istri Prabu Rahwana yang telah meninggal dunia 25 tahun yang lalu akibat persalinannya kekurangan banyak darah saat melahirkan puteranya, Indrajid. Dan selama itu pula Rahwana menderita, hidup menduda, tidak menikah dengan siapapun lagi karena di hatinya, hanya untuk satu nama, Widowati.., yang terukir abadi selamanya. Selama acara pesta berlangsung, Rahwana hanya dapat melamun, terus teringat kembali pesan Dewi Widowati kepadanya di saat-saat sekarat menjelang ajalnya agar Rahwana tetap setia menunggunya datang menitis kembali ke kelahiran berikutnya.


Sang Prabu terus menahan air matanya, menangis pedih, perih dalam hatinya, saat melihat kenyataan pahit dihadapannya karena Dewi Shinta akan menjadi milik Raden Rama Wijaya. Dengan hati hancur, Sang Prabu pun berangkat pulang kembali ke Negara Alengka, sepanjang perjalanan di Kapal pelayaran melewati samudera, Sang Prabu hanya dapat terdiam, melamun, mengenang kembali kisah cintanya di masa lalu dengan kepedihan di hati, sambil menatap mendung di langit yang berubah murung, seolah ikut merasakan kenyerian yang luar biasa di hati Rahwana.


Sekembalinya Rahwana ke Negara Alengka, tidak seperti biasanya Rahwana yang energik, cerah ceria dan bersemangat hingga sering berpatroli keliling desa menemui para penduduk dan memantau keprajuritan, namun malah berubah seketika terus berdiam diri lama mengurung diri di ruang baca dalam Istananya. Hampir lewat 5 (lima) bulan lamanya, Kumbokarno (Ketua Pimpinan Keprajuritan), Indrajid (Putera Rahwana), Wibisana (adik bungsu Rahwana sebagai Penasehat Kerajaan sekaligus Sekertaris Kerajaan), Patih Prahasta (Perdana Menteri/Kepala Pemerintahan) serta para Gubernur, Walikota, Bupati dan Kepala Desa pun kebingungan, akhirnya mereka semua berkumpul bersama di Pendapa Kerajaan Alengka untuk memberikan laporan dan menunggu perintah selanjutnya dari Sang Prabu sambil bertanya-tanya mengenai keadaan Prabu Rahwana, yang akhir-akhir ini jarang keluar Istana.


Tiba-tiba datanglah Sarpakenaka, adik perempuan satu-satunya saudara kandung Prabu Rahwana, berlari tergopoh-gopoh, penuh kecemasan menuju Pendapa Istana, berteriak-teriak meminta tolong para prajurit Istana agar memanggil segera Prabu Rahwana untuk menemuinya di Pendapa karena ada laporan penting yang ingin disampaikan olehnya.


Akhirnya Prabu Rahwana datang menampakkan diri ke Pendapa Istana. “Ada apa Adikku, Sapakenaka, Mengapa begitu cemas?”. “Mohon maaf Kakanda Prabu, bila hamba mengganggu Prabu yang tengah beristirahat. Duh, Prabu Tolong hamba!!!” (sambil menangis meminta tolong). “Masalahnya apa? Kok tiba-tiba minta tolong?!” sahut Rahwana.


“Oooh..Kakanda Prabu, selama hamba berada di pedesaan Hutan Dandaka, hamba tertarik pada seorang Satria. Dia sangat tampan, rupawan dan gagah, namanya Leksmana, hamba berusaha mendekatinya tapi ternyataaa…,dia sungguh kejam tak berperasaan, kasar, menyakitkan, penuh kebencian, menampar dan memukul hamba hingga hidung hamba, lihatlah kakanda, darah mengucur dari hidung hamba, patah seperti ini…”“Haduuuh Adikku…, sudahlah…, pergi aja ke dokter kerajaan, saya ini udah cukup sibuk dengan urusan Negara, bukankah kamu juga sudah punya kekasih? Gimana dengan perasaan Karadusana dan Kalamarica? Apa belum cukupkah kamu dicintai oleh mereka?”“Dooh (kesal dan jengkel) Kakanda Rahwana!?, mengapa sama sekali tidak mengerti perasaanku, aku tidak mencintai mereka, aku hanya ingin Leksmana, adik Rama Wijaya itu, bahkan kakaknya si Rama Wijaya juga setuju dan mendekatkan hamba pada Leksmana, karena dia kan sudah tunangan sama Shinta, sedangkan Leksmana kan masih jomblo.”“Hah!! Apa katamu?! Ngapain Si Rama Wijaya sama Shinta beserta Leksmana ke pedesaan Hutan Dandaka?”, ucap Rahwana yang sangat penasaran setelah mendengar tentang keberadaan Shinta.“Memangnya Kakanda gak tau apa?, Ayahnya Rama Wijaya (Paduka Raja Ayodya) kan belum menyetujui pernikahan Rama dan Shinta, makanya Beliau memberi tugas penting untuk membangun Desa Hutan Dandaka, sekaligus melatih Leksmana menjadi Kepala Pasukan Sniper Kerajaan untuk meningkatkan kekuatan keprajuritan Kerajaan Ayodya dan Mantili. Bila tugasnya berhasil, barulah Ayahnya Rama itu mengizinkan melangsungkan pernikahan Rama dan Shinta, sekaligus kenaikan tahta bagi Rama menggantikan posisi Ayahnya menjadi Raja Ayodya.”“Kalo kamu gak jelaskan, saya mana tau…”, jawab Rahwana dengan ketusnya.“Lah salah Kakanda sendiri, setiap hari hanya mengurung diri gak jelas di ruang baca, bahkan adik sendiri pun gak dipedulikan sama sekali!!!”“Yaaa sudah udaah…, baiklah, saya akan pergi ke sana untuk membuat perhitungan dengan Leksmana dan meminta penjelasan Rama mengenai hal ini. Kumbokarno!!! Cepat, Tolong kau suruh Kalamarica temani saya pergi kesana!!!”. Sesegera Jenderal Kumbokarno memanggil Kalamarica (Kepala Prajurit Baret Merah, pelindung Raja) untuk mempersiapkan keselamatan dan keberangkatan Raja Rahwana menuju Hutan Dandaka.


Di Hutan Dandaka, Rama Wijaya, Putera Mahkota Kerajaan Ayodya bersama adiknya Leksmana dan calon istrinya, Shinta. tengah beristirahat di Villa Pondokan Dandaka Indah, rumah milik seorang pedagang kaya yang mempunyai pabrik kayu ukiran, mebel dan furniture terkenal.
Sepanjang perjalanan, Rahwana hanya memikirkan Shinta, perasaan cintanya pada Shinta yang berwajah begitu mirip dengan Dewi Widowati telah membuatnya tidak nyenyak tidur, tidak berselera makan (nafsu makan menurun), pikirannya menjadi gelap, semakin kacau, emosinya menggebu, jantungnya berdegup kencang, ingin hatinya mendekati dan berbicara langsung, mengungkapkan perasaannya pada Shinta, namun pastilah Rama dan Leksmana akan merasa terganggu, mencurigai dan menghadang keinginannya itu. Sesampainya di dekat Villa Pondokan Rama Wijaya, Rahwana menghentikan niatnya yang semula untuk bertemu muka dengan Rama dan Leksmana. Keraguan dan Kekacauan pikiran Rahwana meminta Kapten Kalamarica dan pasukannya untuk memata-matai dan memantau gerak-gerik Rama, Shinta dan Leksmana.


Dari kejauhan, Kapten Kalamarica memantau bersama Prabu Rahwana diikuti beberapa pasukan penyamar memberikan situasi laporan menggunakan nirkabel Bluetooth ditempel di kuping (walkie talkie modern ala detektif agent terkenal). Prabu Rahwana meminjam salah satu binocular milik pasukan Kalamarica, meneropong jarak jauh, Rahwana melihat perempuan yang dicintainya itu sedang duduk di ayunan Pondokan, wajah Shinta tampak bosan, dia pun beranjak pergi menuju kebun pekarangan halaman belakang memperhatikan tanaman bunga mawar yang tumbuh beraneka macam warna-warni sedang bermekaran sangat indah. Saat itu pula timbul niat Rahwana untuk mendekati dan menemui Shinta yang sedang murung dan kesepian.


Rahwana pun menyusun strategi bersama Kapten Kalamarica untuk membuat Raden Rama Wijaya dan Leksmana terusir jauh dengan membuat keadaaan seolah-olah menyibukkan mereka, mengacaukan konsentrasi mereka agar meninggalkan Shinta sendirian. Kapten Kalamarica memerintahkan pergi bersama beberapa pasukannya menggunakan Mobil Kijang Innova melempari Mobil Alpard milik Rama Wijaya dengan botol dan batu hingga pecah kaca spionnya, serta menembak ban mobilnya dengan Baretta M9 hingga kempes semua. Mendengar kejadian itu Rama Wijaya pun terpancing amarah, namun sebelum berangkat bersama Leksmana, dia meminta Leksmana menyuruh beberapa pengawal sniper (penembak jitu) pasukan terbaiknya menjaga ketat dan melarang Shinta keluar selangkah jengkalpun dari Villa Pondokan tanpa seijin dari Rama Wijaya. Setelah itu, Rama Wijaya dan Leksamana bergegas mengejar Mobil Kijang Innova menggunakan Motor Kawasaki Ninja GT 250R milik beberapa pasukannya. Terjadilah keributan, kejar-kejaran di jalan-jalan dalam pedesaan Hutan Dandaka.


Sementara itu Rahwana terus memperhatikan Shinta dari jauh, meminta beberapa pasukan detektifnya menyamar menjadi tukang buah, sayuran dan tukang kayu, yang semuanya gagal terus saat mencoba masuk ke Pondokan karena diusir dan dipukuli oleh pasukan Sniper Leksmana. Akhirnya Rahwana mencari akal lain agar pasukannya mencari model baju yang mirip seorang pertapa tua di desa dan Rahwana menyamar menggunakan baju lusuh compang-camping, jenggot dan alis panjang palsu menggunakan kapas, kepala ditutup topi jerami dan tangannya menggunakan tongkat bamboo, berjalan bungkuk tertatih-tatih menunju Villa Pondokan.


“Permisi tuan-tuan dan nyonya…, mohon sedikit sedekah, makanan dan minumannya,.. Kasihanilah hamba, yang sudah tua ini, berjalan jauuuh…, sangat lelah sekali..., mohon ketulusan hati tuan dan nyonya…”(sambil suaranya Rahwana dibuat berakting menjadi serak menyedihkan seperti seorang kakek yang tua renta). “Heeeh!!! Pengemis tua, pergi sana!!! Di sini Bukan Panti Jompo Tau!!!” ujar salah seorang sniper itu sembari mencoba mengusir si kakek tua. “Aduh Gusti Allah, uhuk-uhuk… uhuk(terbatuk-batuk sambil ngelus-ngelus dada)…kasihanilah hamba, Tuan-tuan…hamba mohon tolonglah hamba...” (dengan gaya memelasnya). “Haallaaaah! Udah deh, pergi aja!!! Reseh banget sih!!! Udah Tua renta makin Gak tau diri, bukannya diem di rumah aja, malah keluyuran kemana-mana!!! Pulang aja deh kerumahmu Pa Tua!!!”. Kata prajurit yang satunya lagi menyahut si kakek sembari menarik paksa si kakek hingga terjatuh tersungkur ke tanah agar pergi menjauh dari rumah pondokan. “Haduuuh…aduuh..(terjatuh), Yaaa.. Allah…, kasihanilah hamba…, rumahku jauh sekali nak, masih 200 kilometer dari sini, mohon kasihanilah hamba…”.


Melihat kejadian itu dari jendela, Shinta menjadi sangat iba, hatinya pedih dengan kelakuan kasar para pengawal Leksmana terhadap seorang kekek tua. “Apa-apaan kalian ini!!! Keterlaluan!!! Beginikah cara kalian memperlakukan orang tua kalian di rumah!!!” kemarahan Shinta memuncak memaki-maki para pengawal snipernya sambil melangkah keluar dari pagar Pondokan seraya melihat si kakek. “Taaa.. pii, tap..(ii)..Puteri, perintah Komandan Leksmana untuk…”. “Haaaah, UDAH CUKUP!!! (plaakk.., plookk..., sambil menampar satu-satu pasukan sniper yang sedari tadi ngoceh dan berprilaku kasar itu), Perintah lagi, perintah lagi, dari Leksmana lagi, terus mau berapa banyak lagi penduduk desa lainnya yang jadi korban kalian gara-gara demi perintah Leksmana!!!.” “Tapii…Puteri..”. Shinta tidak perduli lagi omongan dan ucapan pengawalnya, Shinta terus berjalan dan meraih tangan si kakek yang terjatuh lalu memapahnya berdiri sambil membersihkan bajunya yang kotor. “Koong…, Engkong baik-baik aja kan? Ada yang luka gak? Aduh, Engkong…, saya Mohon maafkan semua perkataan dan kelakukan para pengawal sinting yang gak tau diri itu, yah…”, ucap Shinta yang tersenyum manis sangat cantik, bersuara lembut dan hatinya penuh kasih sayang itu. “Terima kasih…yah nak, gak apa-apa wong ayu…(sambil menyentuh lembut pipi Shinta yang tersenyum).”
Kalimat terakhir Rahwana itu ternyata sebuah sandi khusus, Rahwana segera menarik Shinta dengan cepat dalam pelukannya agar tidak terkena peluru nyasar pasukannya yang serentak keluar tiba-tiba dari semak-semak di sekeliling Pondokan, gerakannya secepat kilat, mengagetkan, menakutkan dan langsung melumpuhkan para pengawal sniper yang bersenjata M93 dan Remington 700 (didikan Leksmana itu) dengan pisau lempar mereka (gaya pasukan katak angkatan laut) dan peralatan senjata M16 yang dilengkapi alat kedap suara. Shinta kaget, ingin teriak tapi tidak berani, lemas karena takut mati setelah melihat pisau lempar yang berterbangan beberapa inci hampir saja mengenai rambut dan hidungnya, sambil samar-samar melihat pengawal snipernya lumpuh seketika (jatuh terkulai kesakitan tanpa menghilangkan nyawa satupun sesuai titah Prabu Rahwana) ditembaki pasukan yang tidak terlihat dari arah semak-semak hutan. Pasukan Rahwana segera melucuti senjata mereka, mengikat dan menutup mulut para pasukan sniper itu agar tidak berteriak lagi.


Rahwana juga langsung menutup mulut dan mata Shinta, serta mengikat tangan Shinta, lalu membopong Shinta masuk ke Mobil anti peluru Jeep Wrangler SAHARA 1998 miliknya, dikawal beserta iring-iringan Mobil Suzuki Escudo dan Katana yang membawa para pasukan pelindung Raja berangkat kembali pulang menuju Negara Alengka.


Di pedesaan dalam Hutan Dandaka, kejar-kejaran Motor Kawasaki Ninja Rama Wijaya dan Leksmana dengan Mobil Kijang Innova yang dibawa Kalamarica masih terus berlangsung. Terjadilah tembak-tembakan pasukan Kapten Kalamarica dari dalam mobil Kijang mengarah ke motor Leksmana, sementara motor Rama Wijaya berhasil mengecoh pasukan Kalamarica dan menyusul di depan Mobil Kijang Kalamarica, sekejap Motor Rama Wijaya pun ngesot berbalik arah dan berhenti mencegah Mobil Kijang lalu menembak dengan shotgun AA12 automatic tepat ke kaca sopirnya (Kapten Kalamarica), tembakan kedua ke arah salah satu ban mobilnya dan terakhir ke mesin depan mobil, seketika Kalamarica kaget terkena tembak dan hilang kendali, mobil terguling lalu meledak. Booomm.. (Tewaslah Kapten Kalamarica). Setelah kejadian itu, Komandan Leksmana hendak memberitakan (lewat telepon selular) keadaan kepada Kepala pasukan snipernya di Pondokan ternyata berulang-ulang kali dicoba tidak mendapat jawaban sama sekali. Firasat Leksmana mengatakan kejadian ini adalah siasat jebakan Kapten Kalamarica dan memastikan situasi dalam bahaya telah terjadi di Pondokan. Dengan cepat Komandan Leksmana langsung mengajak Putra Mahkota Rama Wijaya untuk kembali pulang ke Pondokan.


Perjalanan Prabu Rahwana membawa Dewi Shinta tidaklah berjalan mulus, pada saat melakukan penyeberangan dengan Kapal Vicem Yachts 92 (Luxury Yachts) keluar pulau Hutan Dandaka menuju Negara Alengka, saat itu Rahwana hendak memberi minum dan makanan untuk Shinta, dibukanya penutup mata dan mulut Shinta, ternyata Shinta malah berteriak ketakutan, “Toloooong!!! Toloong!!! Tolong!!! Saya dicuu…(lik)!!!” dengan sigap dan cepat kedua tangan kokoh Rahwana langsung menutup mulut Dewi Shinta selama berada di kapal, namun ternyata teriakan Shinta itu sedang berada di tengah garis perbatasan wilayah perairan laut continental Negara Kepulauan lain, terdengarlah teriakan Shinta oleh seorang nelayan dari negara lain dan mencoba mengirim pesan singkat (sms) darurat melalui handphone ke nomer telepon Pangkalan Kapal Udara Patroli Penyelamatan nelayan terdekat di kepulauan kecil tengah-tengah samudera, sebelah arah tenggara (jika dilihat dari peta, letaknya sedikit ke utara tenggara Negara Alengka). Kapten Pesawat Helikopter Patroli Penyelamatan (Tim SAR), Jatayu yang sedang bertugas menerima pesan dari nelayan, langsung berangkat menuju lokasi TKP (tempat kejadian perkara). Dilihatnya dari jauh dalam Kapal tersebut terdapat seorang tawanan, Dewi Shinta, Puteri dari Prabu Janaka, sahabat karibnya waktu seangkatan kuliah di Universitas Leiden, Amsterdam tahun 1990.


Pesawat Helikopter Kapten Jatayu langsung mencegah Kapal Rahwana dan meminta untuk segera melepaskan tawanannya, Dewi Shinta. Terjadilah perang sengit tembak-tembakan antara Helikopter Jatayu dan Kapal Vicem Yachts 92 milik Rahwana, salah seorang prajurit Rahwana menembakkan senjata Bazooka M1 (Rocket Launcher) ke arah Badan Ekor Helikopter Jatayu. Seketika itu juga Helikopter Jatayu kehilangan kendali, Kapten Jatayu melompat dari helicopter terjun bebas ke lautan. Booomm… (helikopternya meledak di laut), Jatayu berenang di tengah-tengah lautan sekuatnya, lalu diselamatkan kapal nelayan yang lewat.


Setibanya di Pondokan, Rama Wijaya dan Leksmana terkejut melihat pasukan snipernya telah diikat, tidak berkutik di dalam Villa Pondokan. Setelah melepaskan ikatan mereka, dilaporkan kejadian sebenarnya di Pondokan. Rama Wijaya merasa tertipu oleh jebakan Kalamarica dan Rahwana. Dengan perasaan kesal, Pasukan Rama Wijaya dan Leksmana terus mencoba melacak jejak kepergian Mobil Jeep Rahwana. Sesampainya di pelabuhan kapal terdekat, dilihatnya seorang nelayan tengah membawa Kapten Jatayu.


Rama Wijaya dengan emosi meledak-ledak mengira Kapten Jatayu berkomplot menculik Dewi Shinta. Rama Wijaya menyuruh Leksmana dan pasukannya menangkap, menginterogasi dan menghajar habis babak belur Kapten Jatayu sambil menanyakan dibawa kemana lokasi Dewi Shinta disembunyikan.


Kapten Jatayu yang malang nasibnya, belum sempat menceritakan apapun masih terus dipukuli hingga sekarat akibat amukan para pasukan Leksmana. Sesaat akan dibunuh oleh Rama Wijaya, Leksmana mencegah kakaknya. Leksmana mencoba menenangkan amarah Rama Wijaya dan meminta gilirannya untuk menginterogasi Kapten Jatayu. Akhirnya Kapten Jatayu diberi kesempatan untuk menceritakan semua kejadian sebenarnya hingga nafasnya berhenti (kematiannya). Putera Mahkota Rama Wijaya merasa bersalah dan memberi penghormatan terakhir dengan menguburkan Jenazah Kapten Jatayu secara kemiliteran kerajaan.


Rombongan Putera Mahkota Rama Wijaya dan Komandan Leksmana berjalan pulang ke Negara Kerajaan Ayodya dengan perasan kacau (bête, galau abiz..), sedih dan hampa setelah kehilangan jejak Dewi Shinta. Mereka bersiap membuat strategi untuk mengumpulkan kekuatan pasukan demi melanjutkan misi pencarian dan penyelamatan Dewi Shinta.


Setibanya di Pendapa Istana Ayodya, Putera Mahkota Rama Wijaya mendapat laporan telah kedatangan tamu agung, Mayor Hanoman dari Desa Persilatan di Pegunungan Kiskenda.


“Baiklah, panggilkan Mayor Hanoman menghadap saya sekarang juga”, titah Rama Wijaya kepada seorang pengawal istana. Sesaat itu juga datanglah Mayor Hanoman menghadap Rama Wijaya. “Salam Hormat hamba, Hanoman, kepada Paduka Putera Mahkota”, (sambil berlutut dan memberikan salam hormat). “Ada apakah maksud dari kedatangan Mayor Hanoman ke Istana Ayodya?”.“Mohon maaf Paduka Putera Mahkota Rama Wijaya, hamba datang diutus oleh Paman Sugriwa memohon bantuan pertolongan untuk menyelamatkan isterinya, Dewi Tara, yang direbut oleh Kakaknya yang sangat sakti dan berilmu tinggi bernama Paman Subali akibat perebutan tahta kekuasaan Kerajaan.”“Maaf Mayor Hanoman, saya sendiri pun sedang berduka dan mengalami masalah besar yang sama, kehilangan calon isteri saya, Dewi Shinta”, ujar Rama Wijaya menceritakan (curhat) kesedihannya. “Begini deh, Bila Paduka Putera Mahkota bersedia membantu hamba, maka sebagai balasannya hamba berjanji akan setia mengabdi pada Negara Ayodya dan meminta Paman Sugriwa beserta pasukannya untuk bekerja sama menolong masalah Paduka Putera Mahkota, tapi ini semua terserah kepada Paduka Putera Mahkota, gimana baiknya aja?!”.


Rama Wijaya yang hendak beranjak pergi dari Pendapa, tiba-tiba kembali memikirkan tawaran bantuan Mayor Hanoman, dikarenakan terkenalnya Hanoman yang berilmu silat lumayan tinggi serta ahli dalam segala bidang kemiliteran di Pegunungan Kiskenda, yang juga terkenal dengan Kecanggihan Pesawat tempurnya F-35 (type terbaru dari F-16 yang terkenal sebelumnya) dan Pesawat Siluman F-117 (Stealth Aircraft / Nighthawk) yang mampu menghilang dan memata-matai dari jarak ketinggian yang tidak mampu dijangkau oleh radar pelacak manapun milik musuh. “Hmmm…,(menghela nafas sejenak) Baiklah kalau begitu, saya akan coba membantu semampunya.”
Berangkatlah rombongan Mayor Hanoman mengantar Rama Wijaya dan Leksmana beserta pasukannya dengan menggunakan Pesawat Hercules menuju kediaman Paman Sugriwa. Tanpa menunggu terlalu lama, setelah rombongan tiba di Lapangan Terbang Pegunungan Kiskenda, langsung diterima oleh Paman Patih (PM/Perdana Menteri) Sugriwa, rombongan pun langsung diantarkan Sugriwa ke lokasi TKP di salah satu dari banyaknya Goa dalam Pegunungan Kiskenda, rumah tinggal Kakaknya Subali menyimpan isterinya Sugriwa, Dewi Tara bersama puteranya Anggada.


Dengan kecanggihan pasukan sniper M93 dan Remington 700 didikan Leksmana beserta pasukan laras panjang AK47 milik pasukan Rama Wijaya, dalam hitungan beberapa detik seluruh pasukan penjagaan rumah Subali tewas seketika di tempat. Subali keluar beserta prajuritnya dari dalam rumahnya terkejut karena telah dikepung oleh pasukan Leksmana, terjadi tembak-menembak senjata laras pendek revolver antara pasukan Hanoman dan Subali, namun karena pasukan inti Subali dilengkapi baju anti peluru, tidak mudah mengalahkan pasukan Subali. Sugriwa dan Hanoman pun melawan Subali dan pasukannya dengan tangan kosong, sementara rombongan pasukan Rama Wijaya dan Leksmana menyusup ke dalam goa untuk menyelamatkan Dewi Tara dan Anggada. Setelah berhasil membawa keluar mereka dari dalam goa, pasukan Leksmana dan Rama Wijaya mengepung pasukan Subali, dalam hitungan beberapa detik dapat melumpuhkan dan menewaskan pasukan Subali. Dengan cepat Subali pun ditangkap dan diikat oleh gabungan pasukan Rama Wijaya dan Leksmana. Namun saat Rama Wijaya menodongkan senjata ke kepala Subali hendak membunuh Subali, Sugriwa mencegahnya, Sugriwa meminta agar Subali cukup dipenjarakan di bawah tanah saja.


Subali dibawa pasukan Hanoman menuju penjara bawah tanah, sementara rombongan Rama Wijaya dan Leksmana pun pamitan kepada Raja Sugriwa, (setelah menjatuhkan kekuasaan Subali, Sugriwa menjadi Raja di Kiskenda), Permaisuri Dewi Tara dan Anggada untuk kembali ke Negara Ayodya bersama Mayor Hanoman.


Sebulan sudah waktu yang terlewati semenjak kejadian penculikan calon istrinya (tunangannya), Dewi Shinta di Desa Hutan Dandaka. Rama Wijaya tidak nyenyak tidur, terus gelisah memikirkan dimana keberadaan Dewi Shinta. Mayor Hanoman diutus terus mencari jejak keberadaan Dewi Shinta dan titah Rama Wijaya, Mayor Hanoman tidak boleh pulang menemui Rama Wijaya maupun Leksamana sebelum mendapat kabar bukti keberadaan Dewi Shinta. BERSAMBUNG… ke Sesion II. Written by: Kepik Romantis / Padma Varsa A.). NB : Cerita ini fiksi, khayalan dan imajinasi belaka.