Sunday, October 13, 2019

Syair Hati

Kutuliskan syair ini,
Kugoreskan di relung hati..,
seperti api yang menyelimuti diri di kala dingin,
mulai menusuk tubuh ini.
Demikian seuntai kata yang tak mampu terucapkan,
saat berada di dekat jiwa...

Tertulis di atas langit...,
Saat daku berikrar,
dalam relung kesunyian bait lagu yang berirama,
di setiap sisi alam yang mengelilingi bumi.
'Kan kusimpan di dalam kelembutan angin malam,
di dalam kehangatan mentari pagi,
dan di kesunyian terangnya bulan..

Memancarkan aroma wangi bunga,
bertaburan bintang,
yang menghiasi langit kelam,
dengan cahaya intan,
yang tak pernah berhenti berkilau,
hingga air mata membasahi bumi...
Demikianlah syair yang kutuliskan di hati...  

150811Rewritten & Picture by : PVA / Kepik Romantis

Kehidupan Lampau -Chapter 3-

Ada arti dari setiap pertemuan.
Ada pembelajaran dari setiap pertemuan.

Jika bukan karena jodoh,
Kita tidak akan pernah bertemu.

...Gre, Malaikat Pelindungku...

Hari hampir petang. Setelah menyelesaikan semua pekerjaan di kantor, hatiku tergerak untuk bergegas pergi ke sebuah Gereja “Konstantine” di dekat rumah. Disana terdapat bangunan tua khas Romawi dengan vibrasi energi yang sejuk. Ketika itu aku hanya ingin melarikan diri dari semua kepenatan duniawi. Aku sedang ingin mengistirahatkan hatiku sejenak, menyalakan lilin di sebuah goa Bunda Maria, dan berdoa Rosario, pikirku.

Sesampainya disana, hanya ada beberapa umat yang datang mengunjungi goa Bunda Maria yang terletak di sudut Gereja itu. Seperti biasanya, aku selalu mengambil tempat duduk paling depan, setelah menyalakan lilin dan menancapkannya di tempat lilin yang telah disediakan di bawah patung kaki Bunda Maria.

Dengan khusyuk, aku mendaraskan Doa Rosario pada kalung Rosario buatanku yang terbuat dari kristal amethys ini. Berwarna ungu gelap, dan berdiameter sekitar 8mm per butir. Totalnya ada 59 butir, ditambah tanda salib pada ujung kalungnya.

Seperti biasa, ketika aku mulai mendaraskan doanya, tiba-tiba angin sejuk menghampiriku, menggelitik wajahku. Tengah dadaku mulai merekah dengan bahagia, begitu damai dan tenang sekali.

Dalam doa, aku hanya berfokus pada kebaikan hati dan sifat welas asih Sang Bunda Perawan Maria yang begitu kuat, sabar dan tabah ketika menyaksikan Yesus Kristus Puteranya dihina, dicerca, dan disiksa oleh manusia. Ibu mana yang tega melihat anaknya dalam kondisi itu? Tidak ada. Hanya Bunda Maria yang bisa sabar dan kuat menyaksikan semua penderitaan itu. Itulah sebabnya, aku belajar banyak dari Bunda Perawan Maria tentang kekuatan, dan kewelas asihan yang dimiliki oleh Sang Bunda. Aku berharap agar suatu hari aku pun mampu seperti Sang Bunda.

Tak lama, air mata haru tampak menetes dari kedua pelupuk mataku, mengalir pada kedua pipiku. Selalu...selalu dan selalu begitu ketika aku merasakan welas asih yang terpancar dari Sang Bunda. Ini bukanlah air mata kesedihan, juga bukan air mata kegembiraan duniawi yang fana. Air mata ini adalah air mata Cinta Kasih Sang Bunda Perawan Maria, Cinta Kasih yang berasal dari surgawi yang dapat aku rasakan saat ini.

Setelah selesai mendaraskan Doa Rosario sebanyak satu putaran, aku mendoakan banyak hal. Aku mendoakan kebahagiaan diriku, kebahagiaan orang tuaku, kebahagiaan pasanganku, kebahagiaan teman-temanku, dan kebahagiaan para makhluk yang tidak nampak, baik para malaikat di surga maupun para iblis di neraka. Semoga semuanya berbahagia.

Tak lupa aku juga mendoakan Gre, Malaikat Pelindungku, yang selama ini telah sabar menjaga dan melindungiku di dunia.

Oh ya, omong-omong tentang Gre, aku baru ingat kalau Gre tidak sedang berada disini. Biasanya dia selalu menemaniku berdoa disini.

Aku menutup doaku dengan membuat tanda salib, "Atas Nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, Amen." Lalu aku segera mencari Gre di seluruh sisi dalam ruangan Gereja itu.

Terbesit dalam diriku untuk membuka pintu ruang misa utama. Aku mulai membuka pintu Gereja yang tingginya hampir delapan meter itu yang terkait di ruangan bagian belakang. Aku langsung bisa menatap salib Tuhan Yesus yang menggantung di atas altar Gereja itu. Sangat besar. Gre, Malaikat Pelindungku pun disana. Dia sedang duduk di kursi umat di paling depan dan menatap lama salib Tuhan Yesus yang menggantung di atas altar itu.

Aku menghampirinya. Duduk disebelahnya.

"Gre...apa aku mengganggumu?" tanyaku lembut memecah lamunannya.

"Oh tidak apa, Cherry. Santai saja," jawabnya.

"Kau...baik-baik saja, Gre?" tanyaku khawatir.

"Tidak begitu..." jawabnya masih menatap salib Tuhan Yesus disana.

Kami sama-sama terdiam.

"Apakah Bapa akan menghukumku, bila aku memiliki perasaan cinta terhadap manusia?" Gre bergumam memecah keheningan ini.

Aku pun mengernyitkan dahi, "Maksudmu, Gre?"

Dia hanya menatapku. Tanpa sepatah kata yang terucapkan dari bibirnya.

Aku mencoba berpikir. Mengolah kalimatnya barusan. Sepertinya aku mulai memahami apa yang dimaksudkannya. Apakah seorang Malaikat bisa jatuh cinta?...aku membatin.

Aku mulai tersenyum tipis. Lalu aku berjalan menuju tempat lilin di depan altar. Aku mencoba menyalakannya dengan mengambil sedikit api yang sudah menyala pada kedua lilin altar.

Sembari menyalakan lilin itu. Aku memusatkan konsentrasiku pada samadhi mendalam. Dan sepasang sayap malaikatku, besar dan bercahaya, kembali muncul. Aku duduk pada anak tangga di bawah altar tersebut sambil memegangi lilin yang baru saja aku nyalakan itu. Membuat seluruh ruangan ini jadi bercahaya karena cahaya lilinku. Aku pun juga menjadi bercahaya.

Gre tampak terkejut dan menatapku.

"Gregorious, Malaikat Pelindungku..." sapaku penuh kehangatan. "Dahulu kala...jauh sebelum aku menjadi manusia, aku juga adalah seorang Malaikat Pelindung...sama sepertimu," aku melanjutkan.

Gregorious menyimakku dengan perhatian yang mendalam. Matanya tidak berkedip seolah tidak mau melewatkan apapun gerak gerikku, dan apapun yang ingin aku bicarakan.

"Tentu kau sudah mengetahui hal ini...jauh sebelum aku lahir saat ini. Untuk itulah kau menjadi Malaikat Pelindungku..." kataku untuk memastikannya.

"Iya benar. Aku sudah tahu siapa kau sebenarnya, Cherry," jawabnya lembut, hampir membisik.

"Akan tetapi...selama perjalanan aku menjadi Malaikat Pelindung, melindungi seorang pria, seorang manusia...aku jatuh cinta padanya.

Aku tidak saja berciuman dengan pria manusia itu, tapi aku banyak melakukan kesalahan-kesalahan fatal ketika di dunia. Ego malaikatku mulai muncul ketika itu. Dengan kekuatan malaikat yang aku miliki, aku membuat pria itu tidak bisa menikah dengan manusia. Tidak ada wanita yang bisa mendekati pria yang kucintai pada waktu itu.

Yang aku pikirkan hanyalah keinginan untuk memilikinya, bagaimana bisa hidup berdua dengannya, dan melakukan banyak hal romantis berdua dengannya... sebagai malaikat dan manusia.

Lalu, suatu hari aku tersadar bahwa aku telah melakukan kesalahan. Aku tersadar bahwa...malaikat dan manusia tidak bisa bersatu...selamanya. Aku telah melakukan perbuatan dosa. Aku merasa jijik pada diriku sendiri. Aku merasa hina.

Tiba-tiba cahaya malaikatku mulai memudar...sedikit demi sedikit. Hingga suatu hari...aku merasa tidak pantas untuk kembali ke surga.

Ketika Bapa memanggil-manggil aku dari surga, aku tidak pernah menjawabNya lagi. Aku hanya pergi ke suatu tempat yang sunyi untuk aku bersembunyi dan menyendiri.

Aku merasa tidak pantas memiliki kedua sayap ini. Lalu aku mencoba memotong kedua sayapku ini. Tapi selalu gagal. Sayapku terlalu besar untuk ukuran tubuhku yang mungil waktu itu. Alhasil, aku hanya bisa menyayat-nyayat sayap malaikatku hingga darah berceceran dimana-mana.

Saat itu aku tersadar, bahwa aku punya darah. Saat itu aku bukan lagi seorang malaikat. Entahlah...menjadi apa aku ini. Malaikat bukan, tapi manusia juga bukan. Sangat mengerikan... Dan aku pun menjadi gila..." kisahku. Gre hanya memperhatikanku tanpa mengedipkan pandangannya.

"Dan selama kelahiran demi kelahiran menjadi manusia, aku banyak mengalami kisah cinta yang menderita...Gre..." lanjutku singkat.

"Aku juga mengetahui hal itu, Cherry," pintanya.

"Sekarang, aku akan menjawab pertanyaanmu sebelum ini, Gre," aku berdiri sambil masih memegang lilin dengan kedua tanganku. Kini aku berdiri persis di depan Gre, tempat Gre duduk di bangku barisan paling depan itu. "Ketika itu aku juga tersadar bahwa Bapa tidak pernah menghukumku... menghukum malaikat sepertiku ini. Sesungguhnya, akulah yang menghukum diriku sendiri..."

Gre pun bergegas mengepakkan kedua sayap malaikatnya. Dia terbang dan menghampiriku. Kini dia berdiri di sampingku, tepat di depan altar. Dan aku mulai menaruh lilin itu pada sisi atas bangku Gereja.

Kini kami saling berhadapan, dan saling berpandangan. Aku dapat merasakan semua yang dirasakannya. Karena, aku pernah mengalaminya...jauh sebelum dia mengalaminya saat ini...

"Gre selalu berkata padaku. Bahwa, aku harus mengembangkan Cinta Kasih yang murni kepada semua makhluk...benarkah?" tanyaku lembut sambil tersenyum menatapnya.

"Kau benar, Cherry. Aku selalu berkata demikian agar kau bisa menghilangkan nafsu dan ego manusiamu," katanya perlahan sambil membelai rambutku yang panjang ini.

"Meski aku tidak tahu pasti, siapa manusia yang membuatku jatuh cinta itu, aku harap... jangan ada lagi cherry cherry yang lainnya...sepertiku waktu itu," kataku lembut nan tegas untuk mengingatkannya.

Seketika itu juga Gre langsung memelukku erat...sangat erat sekali...

"Aku sangat menyayangimu Gre...aku tak mau membuatmu menderita..." pintaku lembut bagaikan angin sepoi yang menyibakkan rambut keemasannya itu. "Kumohon...Gre..." mohonku.

Dalam dekapannya dia pun meneteskan air mata. Itu adalah air mata penyesalan dan kesedihannya..."Ya..." dekapannya kian erat. "Ya, Cherry. Terima kasih sudah mengingatkanku. Terima kasih..."

Aku menatap kedua bola matanya yang basah itu.

"Jangan berterima kasih padaku Gre. Berterima kasihlah pada Bapa di sana," sembari menunjuk salib Tuhan Yesus yang besar menggantung di atas altar Gereja.

Written by : Yanti Kumalasari, S.Ds.
Fan-page Writer :  https://www.facebook.com/thesoulreader.jkt/
Editing by : Kepik Romantis / PVA

Sunday, September 1, 2019

Menyapa Elang Terbang Melangit

Picture source : www.wallpapersrc.com/download/sunset-flying-eagle/1125x2436

Penyeberangan Arwah -Chapter 2-

Pada suatu pagi yang cerah, aku menyempatkan diri untuk sekedar berjalan kaki sambil menghirup udara segar. Tentu saja aku tidak sendirian, meski nampak sendirian dalam mata fisik manusia pada umumnya, aku berjalan bersama Gregorious, Malaikat Penjagaku.

Aku dan Gre melepas lelah di kursi taman kota, dekat pendopo taman. Tiba-tiba ada seorang ibu setengah baya menghampiriku. Ibu itu nampak lebih tua dari usianya. Rambutnya memutih dan banyak kerutan pada kulitnya. Dia terlihat kurus sekali. Dia duduk di sebelahku.

"Dik, boleh ya.., Ibu duduk di sini sebentar."

"Oh silakan Bu, tidak apa-apa.."

Kami sama terdiam, sambil menikmati pagi yang cerah dan udara yang bersih kala itu.

Ibu itu nampak mengamati sesuatu. Matanya seperti tertuju dan fokus pada sesuatu di depan wajahnya. Tapi pandangannya kosong. Sebenarnya, tak ada yang dilihatnya. Nampak air mata kesedihan mengalir pada kedua pelupuk matanya.

"Ibu.., Ibu.. lagi sedih ya?" tanyaku.

Ibu itu menatapku sebentar. Lalu kembali pada pandangan kosongnya. "Iya, Dik. Benar."

"Ibu boleh cerita apa saja sama saya. Nama saya Cherry," aku memperkenalkan diri pada ibu itu, disertai dengan senyuman hangatku.

"Oh iya, terima kasih Dik Cherry. Kamu baik sekali," Ibu itu tersenyum tipis dengan air mata sedihnya. "Belum pernah Ibu bertemu dengan anak yang seramah Adik, selain anak Ibu..." matanya berkaca-kaca.

"Lalu anak Ibu kok tidak Ibu ajak kesini?"

"Dia sudah meninggal, Cherry…, dua bulan yang lalu. Karena kecelakaan," jawab ibu itu dengan air mata tampak menetes pada kedua pipinya. Tiba-tiba saja pagi yang cerah itu pun berubah. Langitnya mulai berawan dan mendung.

Aku saling berpandangan mata pada Gre.

"Tapi Ibu masih bisa merasakan kehadirannya, dia sering menghampiri Ibu di rumah," ceritanya. "Ibu sangat sedih dan khawatir dengan kondisi dia di alam sana saat ini. Maka dari itu, Ibu duduk di sebelah Cherry karena Ibu merasa Cherry adalah orang yang tepat untuk membantu Ibu," lanjutnya.

Aku turut bersedih mendengar cerita Ibu itu. "Apa yang Ibu inginkan agar saya membantu Ibu?" tanyaku.

"Ibu minta tolong agar Cherry mendoakan anak Ibu. Sebulan lagi kan 100 hari meninggalnya anak Ibu, bisakah Cherry bantu mendoakan dia sebelum 100 harinya?" pintanya kepadaku.

Tiba-tiba hujan turun dan langit menjadi gelap, sangat gelap dan pekat.

"Bu, kita pindah berteduh di dalam pendopo itu saja yuk," ajakku sambil memapah lengan ibu itu agar tidak terpeleset karena jalanan menjadi licin.

Kami mulai duduk di pendopo. Hanya kami bertiga. Ups, maksudnya berdua dengan ibu itu.

Orang-orang sudah berhamburan keluar taman. Sepertinya, memang tempat pendopo ini sudah disiapkan untuk kami.

"Bagaimana, apakah Dik Cherry bersedia?" tanyanya sekali lagi. Kedua pipinya nampak basah karena air mata yang menggenang terus.

"Dengan senang hati, Bu. Sekarang juga kita bisa sama-sama memanggil arwah anak Ibu dan mendoakannya untuk ditempatkan di alam yang lebih baik..," jawabku tersenyum padanya.

"Bagaimana caranya? Ibu tidak mengerti..," katanya lirih. "Ibu melihat Cherry lebih paham dalam hal seperti ini. Ibu bisa merasakannya..." katanya mantab.

"Ah tidak, Bu. Sebenarnya keluarga sendirilah yang memiliki kekuatan doa yang paling besar," jawabku. "Begini, kita ambil posisi duduk bersila seperti ini ya. Apakah Ibu bisa duduk bersila?"

"Ya, Ibu bisa." Ibu itu mulai mengambil posisi duduk dengan kaki bersila, posisi samadhi.

"Baik, Bu. Kita akan mendoakannya bersama-sama ya Bu," pintaku lembut padanya.

Lalu kami melakukan samadhi. Samadhi yang kami lakukan adalah Meditasi Cinta Kasih. Kami melakukan pemancaran Cinta Kasih bersama sesuai instruksi yang saya berikan untuk ibu tersebut.

Dan aku pun memulai doa di dalam hati sebelum melakukan Meditasi Cinta Kasih dan Doa Penyeberangan Arwah. Aku membatin :

"Para Guru dan makhluk di semua alam. Pada pagi hari ini ijinkan kami bermeditasi di tempat ini. Kami memohon perlindungan Guru saat kami melakukan meditasi. Dan bantulah kami dalam doa penyeberangan arwah supaya dapat bermanfaat untuk semua makhluk dan semoga berbahagia. Amin."

Pertama-tama, kami melakukan pemancaran Cinta Kasih yang dimulai untuk diri sendiri, orang-orang terdekat yang dicintai, orang-orang yang netral tidak dikenal, dan semua makhluk di sekitar taman ini. Seperti biasanya..., sayap malaikat yang aku miliki pun muncul, membentang dan bercahaya secara tiba-tiba.

Sayap yang aku miliki cukup besar jika dibentangkan lurus, mungkin sekitar 3 meter panjangnya satu sayapnya. Warnanya putih bersih dan mengeluarkan kilauan cahaya. Sayap ini hanya muncul saat aku memasuki samadhi yang mendalam dan juga diperlukan untuk membantu para arwah biasanya.

Ketika sudah memasuki samadhi dan energi cinta kasih sudah terasa hangat di dada, tiba-tiba datanglah seorang arwah anak remaja sekitar usia 14 tahun bersama arwah teman-temannya. Dia menangis ketika melihat ibunya. Dia duduk di depan ibunya, dan menangis tanpa henti. Ibunya tetap berkonsentrasi pada samadhi sesuai instruksi yang saya berikan.

Lalu saya mencoba untuk mengajak komunikasi anak itu, yang merupakan arwah gentayangan dari anak ibu itu.

"Hei, Adik Kecil," sapaku membatin. Dia menatapku.

"Maukah hari ini kamu pergi ke tempat yang lebih baik, lebih indah dan bahagia?" tanyaku lembut membatin.

"Tidak mau. Aku masih mau bersama ibu," pintanya sambil menangis.

Saat itu juga datanglah seorang Malaikat Wanita yang sangat cantik dan bercahaya, Dia adalah rekan Gre, Malaikat Penjagaku. Malaikat Wanita itu langsung memeluk erat arwah anak yang sedang menangis itu di depan ibunya. Kehangatan dari Malaikat Wanita itu terasa menjalar di sekujur tubuh arwah anak itu, bagaikan seorang ibu yang memeluk lembut anaknya. Malaikat itu berusaha menenangkan hati arwah anak itu dengan sentuhan Cinta Kasihnya.

Begitu juga dengan arwah anak-anak lainnya, teman-temannya arwah anak itu. Mereka yang tadinya ketakutan dan sedih pun dipeluk dan dibelai dengan lembut oleh para Malaikat Wanita dari surga. Para Malaikat itu memeluk mereka satu per satu, bagaikan seorang ibu memeluk anak tunggalnya.

Tidak lama kemudian, tangisan arwah anak-anak itu, termasuk arwah anak ibu itu pun berubah menjadi sebuah senyuman kebahagiaan perlahan-lahan.

"Bagaimana rasanya sekarang, Adik Kecil? Mau pergi ke tempat yang seperti ini tidak?" tanyaku sambil tersenyum membatin.

"Iya, aku mau. Kakak, aku sangat bahagia sekarang. Bahagia sekali. Sudah lama aku tidak merasakan perasaan bahagia seperti ini, Kak," katanya dengan gembira. "Tapi kak, bolehkah aku mengajak teman-temanku juga untuk pergi bersamaku?" tanyanya.

"Iya, boleh..," jawabku lembut masih membatin dalam samadhi.

Saat itu juga Gregorious melakukan tugasnya dengan membuka gerbang cahaya ke surga. Begitu dia mengangkat pedang surgawinya ke atas langit, langit pun terbuka lebar dan cahaya surgawi pun turun ke atas kami semua.

Arwah anak-anak itu pun dibawa terbang satu per satu oleh para Malaikat Wanita yang masih memeluk mereka menuju gerbang surgawi yang dibuka oleh Gre. Tak lupa satu per satu dari mereka mengucapkan "Terima Kasih" padaku. Hihihi...lucu sekali ya arwah anak-anak ini, mereka sangat manis, pikirku membatin sambil tersenyum.

Terakhir adalah giliran arwah anak ibu itu untuk menyeberang. Tiba-tiba arwah anak ibu itu berubah menjadi makhluk surgawi yang tampan, menawan dengan jubah panjang membungkus tubuhnya yang atletis. Dia memakai sebuah mahkota pada kepalanya. Dia berubah menjadi seoramg dewa yang berusia dewasa.

Tidak heran, karena anak itu semasa hidupnya sangat baik hati, periang, dan juga banyak mengajarkan sesuatu tentang kehidupan pada keluarganya. Ia membawa kebahagiaan pada keluarganya ketika terlahir. Anak itu bukan anak sembarangan. Dia hanya terlahir menjadi manusia untuk membayar karmanya sebentar. Setelah tugasnya di dunia sudah selesai, ia kembali lagi ke surga, menjadi dewa yang tampan. Begitulah ia menceritakan tentang siapa dirinya sewaktu dulu kepadaku.

"Kak, bilang ibu supaya menjaga diri ya di dunia ini. Ibu harus kuat dalam menjalani kehidupan ini. Jangan lagi mengkhawatirkan saya. Saya sudah bahagia. Sekarang tinggal ibu yang harus menjadi bahagia. Semoga kelak ibu bisa terlahir ke alam yang bahagia...seperti saya," pesannya padaku. "Terima kasih untuk kebaikan hati Kakak ya."

"Saya hanya menjalankan tugas yang semestinya dilakukan. Yang penting sekarang kamu sudah terlahir ke alam bahagia, Kakak turut berbahagia," kataku sumringah membatin.

Setelah itu, dia pergi menuju gerbang surgawi itu. Disitulah perpisahan kami.

Tak lama kemudian, banyak arwah gentayangan yang berada di sekitar sana dan menyaksikan semua kejadian ini pun turut minta untuk diseberangkan ke alam yang lebih baik. Gregorious, Malaikat Penjagaku masih berdiri disana menjaga gerbang surgawi terbuka hingga semua arwah gentayangan di sekitar taman itu pun pergi menuju gerbang surgawi.

Setelah selesai menyeberangkan semua arwah yang ingin diseberangkan, Gre kembali menutup pintu gerbang itu dengan kekuatan surgawinya. Aku pun mengakhiri samadhi pagi hari itu. Saat itu juga, sayap malaikatku lenyap kembali. Aku kembali menjadi manusia biasa pada umumnya. Dan selesailah tugas kami pada hari itu.

Hujan pun berhenti. Langit kembali cerah. Dan aku memanggil ibu yang sedang bersamadhi di sampingku itu perlahan, supaya dia tidak kaget.

Aku menceritakan semua kejadian yang baru saja muncul dalam penglihatan batinku pada ibu itu. Tapi ibu itu tidak melihat apapun kali ini katanya. Pada awal samadhi, dia hanya melihat arwah anaknya datang menghampirinya bersama dengan teman-temannya. Itu saja.

Lantas, aku bertanya pada Gre membatin, "Gre, mengapa ibu ini tidak bisa melihatnya?"

"Mata batin ibu ini belum mampu menembus dimensi surgawi, Cherry," jawab Gre, Malaikat Penjagaku. Aku jadi mengerti sekarang.

Terpenting, arwah anak ibu ini sudah bisa terseberangi dengan baik, dan ibu ini sudah bisa berbahagia. Terlihat dari bola matanya kini memancarkan sinar kebahagiaan.
Written by : Yanti Kumalasari, S.Ds.
Fan-page Writer : https://www.facebook.com/thesoulreader.jkt/
Editing by : Kepik Romantis / PVA 

Thursday, August 8, 2019

Termenung Sejenak Senja

Senja merah merona...,
Mulai tenggelam dalam gelapnya dunia...,
Perjalanan cerita tiba di penghujung semesta...,
Mulai mengakhiri kisahnya di alam dosa,
Sesaat pun teringat akan roda samsara,
Menduri laksana derita dalam batin yang tersiksa,
Sambil terus berjalan menuju yang tiada...
Semoga tercapai di akhir pantai yang bahagia...


Written by : Kepik Romantis/PVA
Rewrite 301211 to 080819
Picture Source :  http://davidwstoner.net/obli-and-the-crow/crow-flying-into-sunset-3/

Gregorious, Guardian Angel -Chapter 1-

I can see an angel...
 
Pada suatu Purnama, aku terjaga dari tidurku dan menatap ke arah jendela, dimana di luarnya terdapat hamparan kebun bunga yang cukup luas. Aku melihat sesosok makhluk bersayap dengan cahayanya yang sering menjaga kemanapun aku pergi. Gregorious namanya, yang artinya adalah Penjaga yang Dipercaya.

"Malam, Gre..." sapaku penuh kehangatan.

"Malam, Cherry. Kenapa kamu masih terjaga tengah malam seperti ini?" tanyanya lembut seakan membisikkanku seperti desiran angin.

"Aku melihatmu seperti sedang berpikir sesuatu dan sedih. Ada apa?"

Gre diam sejenak sambil menghembuskan panjang nafasnya. Lalu ia menatap Purnama dengan sangat dalam. "Aku sedang bertanya-tanya di dalam hatiku: Kapan waktunya Cherry Kecil menjadi Bijaksana dan akhirnya selesailah tugasku untuk menjagamu di dunia, sehingga aku bisa kembali ke surga?"

Aku menghembuskan nafas lega. Aku mengira ada sesuatu masalah sehingga membuat Gre, malaikat penjaga yang kusayangi itu begitu cemas. "Jika kau mencemaskanku, aku berjanji akan cepat menjadi Cherry yang Dewasa dan Bijaksana...mulai sekarang," timpalku dengan sebuah senyuman. Senyuman yang manis seperti manisnya buah Cherry, seperti biasanya.

"Ya." Dia menatapku seperti tanpa ekspresi apapun. Aku kira, pernyataanku dapat membuatnya sedikit terhibur dan gembira. Ternyata masih ada hal lain yang ada di dalam hatinya. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Sebab aku tidak dapat membaca pikiran seorang malaikat.

"Mengapa kau tidak gembira? Apakah masih ada hal lain yang kau pikirkan, Gre? Ceritakanlah...malam ini, aku adalah pendengar baikmu. Hitung-hitung, balas budiku karena selama ini aku telah banyak merepotkanmu, Gre," aku menyentuh bahunya yang keras itu, bagaikan memegang sebuah besi baja yang kokoh. Dan tak lupa, aku selalu memberinya senyuman yang indah. Biasanya, senyumanku selalu bisa membuatnya tenang dan mempercayaiku.

"Che...begini. Kau tahu, kita sudah lama bersama. Aku sudah berada di sampingmu, menjagamu, dari kau masih kecil hingga kau sebesar ini, tumbuh menjadi Cherry yang cantik. Sejujurnya, aku bahagia bila tugasku di dunia ini selesai untuk menjagamu, dan membantumu menjadi Seorang yang Bijaksana kelak. Tapi..." suaranya terhenti dengan tiba-tiba dan dia terdiam.

"Tapi apa?" tanyaku lembut, seperti hembusan angin yang membuat helaian daun bergeming kecil.

"Tapi...di lain sisi aku merindukanmu..."

Aku terperangah menatapnya. Mataku membelalak lebar. Bibirku terkunci rapat. Hanya terdengar nyanyian jangkrik dan tarian rerumputan yang harmoni di bawah Purnama malam ini. Sebentar saja. Lalu aku tersadar kembali. "Kalau begitu, aku tetap menjadi Cherry Kecil saja, dengan begitu kita akan tetap selalu bersama seperti saat ini, dan kau tak perlu kembali ke surga," ceplosku tanpa berpikir.

"Tidak. Tidak bisa begitu. Saat itu akan tiba...dan harus tiba. Takdirmu adalah Menjadi Seorang yang Bijaksana kelak. Dan aku hanya ditugaskan untuk menjaga dan membantu sampai pada jalan itu..." pintanya tegas sambil menatapku, dan memegang erat kedua bahu mungilku.

Aku menatap dan menyimak setiap ekspresinya saat ini. Aku dapat merasakan hatinya. Aku dapat merasakan desahan nafasnya. Baru kali ini aku melihatnya cemas seperti itu. Gre yang kukenal biasanya selalu tenang, bahkan tanpa ekspresi. Tapi kali ini berbeda. Kedua bola matanya menatapku sangat mendalam. Wajah kami hampir berdekatan. Pikiranku terhenti untuk sesaat. Aku tak dapat berpikir apapun...baik tentangku, maupun tentangnya.

Hidungnya yang kokoh itu menyentuh hidung mungilku. Dia menghela nafas kecil. Terdiam. Dan melepaskan genggaman tangannya pada kedua bahuku yang mungil ini. "Maaf..." katanya hampir berbisik. "Jika kita berciuman, kedua sayapku...dan juga kekuatanku akan lenyap, aku tak bisa kembali ke surga dan tak akan memiliki kekuatan untuk melindungimu."

"Aku mengerti. Kalau begitu, aku berjanji akan menjadi Seorang yang Bijaksana kelak, sehingga aku dapat memiliki kedua sayapku kembali dan pulang ke surga..", jawabku padanya dengan tersenyum gembira. "Di sana aku akan mencarimu kembali...dan kita bisa bersama lagi," ucapku tanpa berpikir.

Mendengar kata-kataku yang tidak dipikirkan itu, membuatnya tersenyum gemas dan tertawa. "Ha ha ha...Cherry...Cherry...kamu tetaplah Cherry Kecil. Apakah kamu tahu, ketika kamu pulang ke surga nanti, bahkan kamu tidak sempat berpikir untuk memikirkan aku lagi. Hatimu akan dipenuhi oleh tarian dan nyanyian kedamaian surgawi."

"Benarkah?" tanyaku.

"Apakah seorang Malaikat pernah berbohong?" tanyanya tersenyum.

"Tidak. Aku percaya Gre."

"Cherry...apakah kamu pernah berpikir kenapa kamu bisa sampai turun ke dunia dan menjadi manusia?"

"Iya, aku dulunya adalah seorang Malaikat yang nakal. Aku melanggar aturan surga. Karena itu kedua sayapku lenyap dan aku berkali-kali terlahir menjadi manusia," aku mencoba mengingat-ingat kembali.

"Iya benar. Nafsu Cintalah yang menyebabkanmu terlahir berkali-kali menjadi manusia dan harus menjalani beberapa kisah cinta manusia di dunia. Maka dari itu, perjalanan spiritualmu saat ini membawamu kepada ajaran Cinta Kasih. Dimana, kamu harus belajar meluaskan Cintamu kepada banyak orang, semua makhluk, bahkan kepada mereka yang menyakitimu. Cinta Kasih memampukanmu untuk memahami seluruh penderitaan ini dan menjadikanmu Seorang yang Bijaksana kelak."


"Iya Gre. Terima kasih sudah mengingatkanku kembali. Aku berjanji padamu, aku pasti menjadi Cherry yang Bijaksana...dan pulang ke surga."
"Janganlah berjanji padaku. Tapi berjanjilah pada Bapa yang bersemayam di dalam sana," pintanya lembut sambil menyentuh tepat di tengah-tengah antara kedua dadaku dengan jari telunjuknya.


Written by : Yanti Kumalasari, S.Ds.
Editing by : Kepik Romantis / PVA

Thursday, July 4, 2019

Guardian Angel - Prologue -

 "Aku hanyalah Cherry Kecil yang sedang belajar menjadi Cherry Bijaksana agar bisa mendapatkan kembali keempat sayapku dan pulang ke surga."
 
Sepasang sayap putih...
Jubah putih...
Wajah yang memancarkan sinar...
  

“Itu namanya Malaikat, Sayang,” Mom memberitahu.

“Malaikat itu apa sih, Mom?” aku mencoba bertanya pada Mom.

“Malaikat adalah sesosok makhluk yang sangaaat suci. Dia nggak pernah nakal, bandel, berbohong atau pun membantah orang tua.”

“Malaikat punya orang tua ya? Apa orang tua Malaikat punya sepasang sayap juga, Mom?” aku terus bertanya untuk menghilangkan rasa penasaranku.

“Nggak, Sayang. Malaikat itu sebatang kara, ia nggak mempunyai orang tua,” Mom mencoba menjawab pertanyaanku. “Lalu…” Mom menyelimuti tubuhku.

“Lalu…?”

“Malaikat hanya bisa dilihat oleh anak yang baik hati dan suka rajin belajar,” Mom mengukir dalam senyumnya, lalu mencium dahiku.

“Ooo… Kalo gitu, wajah Malaikat itu seperti apa ya?”

“Yang pasti, Malaikat itu sempurna karena ia nggak pernah berbuat jahat,” Mom membelai rambutku dengan lembut.

Di sebelah tempatku berbaring nampak sebuah lampu meja kecil berbentuk kotak persegi panjang dengan sebuah jam alarm berbentuk panda berwarna cokelat muda. Aku menatap wajah Mom.

“Mom, apa Cherry anak yang aneh?”

“...Kenapa tanya itu, Sayang?” Mom mengangkat kedua alisnya.

“Hmm...Cherry merasa beberapa orang menganggap Cherry adalah anak yang aneh."

“Ah, nggak kok Sayang. Nggak ada yang aneh. Cherry kan punya sepasang mata, sepasang tangan, dan sepasang kaki. Kita sama kan?” Mom meyakinkan sambil menunjukkan bagian-bagian tubuhku.

“Tapi, Cherry ingin punya sepasang sayap juga, seperti Malaikat. Biar bisa terbang, Mom.”

“Hush, anak nakal! Kamu mau terbang ke mana memangnya?” tanyanya penasaran dengan kerutan di antara kedua alisnya.

“Cherry mau ke surga,” jawabku sambil menatap dalam kedua mata Mom.

Mom terenyuh setelah mendengar jawaban yang baru saja kulontarkan. Rasa penasaran menyelimuti dada Mom sepertinya, “Memangnya, Cherry tahu apa tentang surga?” sorot mata Mom lunglai dan berkaca-kaca.

“Surga itu luaaaas lho, Mom,” Jelasku sambil merentangkan kedua tanganku lebar-lebar penuh semangat. “Bumi ini kecil sekali kalau dibanding surga. Surga beda sama bumi. Bumi beda sama surga. Dan di surga banyak sekali makhluk yang mempunyai sepasang sayap putih. Seperti...Malaikat yang Mom bilang itu. Jumlahnya ada ratusan juta lho, Mom! ” jelasku bersemangat.

Mom terus menyimak dalam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mungkin ia menunggu sampai aku selesai berbicara.

“Tapi...ada empat makhluk yang masing-masing mempunyai tiga pasang sayap ditubuhnya. Sepasang sayap menutupi dada sampai kakinya, dan dua pasang sayap lagi ada di punggungnya. Wajah keempatnya berbeda-beda. Ada yang seperti manusia. Dan keempat-empatnya mengelilingi cahaya yang sangaaaat terang. Terang sekali,” lanjutku.

Mom mendengarkan celotehku dengan seksama.

“Mom tahu nggak, sebelum Cherry ada di sini kan, Cherry tinggal bersama cahaya itu dan cahaya itu pernah mengatakan sesuatu untuk Cherry. Tapi Cherry nggak ingat. Kira-kira apa ya Mom?”

Mom menghela nafas panjang, “Mungkin, cahaya itu mengatakan jika Cherry lahir nanti, Cherry harus menjadi anak yang baik,” Mom membelai kedua pipiku.

“Mom, apa Cherry bisa seperti mereka?”

“Cherry Sayang, ke surga itu nggak harus punya sepasang sayap. Lagipula, di surga itu kan nggak ada lolipop kesukaan Cherry...dan nggak ada buah ceri yang merah dan manis,” pintanya lembut.

“Masa sih??” tanyaku penasaran. Aku sangat suka buah ceri.

“Hmm...” jawab Mom sambil mengangguk.
“Kenapa Mom?”

“Karena...semua makhluk yang Cherry bilang barusan itu, nggak punya darah dan daging seperti kita,” Mom menyubit pelan lenganku. “Makanya, mereka nggak bisa dilihat.”

"Tapi Mom, Cherry bisa melihat salah satu makhluk bersayap putih itu kok,” aku meyakinkan.

Sorot mata Mom berubah dan menatapku dalam, “Cherry yakin?”

“Iya kok. Belakangan ini, tiga kali Cherry melihatnya. Ada di sana,” menunjuk ke arah taman belakang.

Mom bersamaku menengok ke arah taman belakang arah jendela kamar yang kutunjukkan. Namun, ia tidak menjawab sepatah kata pun.

“Dan terakhir, malaikat itu menoleh ke arah Cherry beberapa hari yang lalu. Kenapa Cherry bisa melihatnya, Mom?” aku heran penasaran.

"Karena Cherry anak yang baik. Iya, Cherry anak yang baik,” kedua bola mata Mom berputar membentuk seperti sebuah putaran.

“Kenapa harus anak yang baik?” alisku sedikit mengangkat.

“Karena malaikat adalah makhluk yang baik. Nah, makanya Cherry jangan berteman sama anak nakal ya, ” Mom menjelaskan.

“Kenapa, Mom?” aku tampak bingung mendengar pernyataan Mom.

“Karena nanti nakalnya bisa ketularan dong.”

“Hihihi... Kayak penyakit aja ya Mom,” aku geli. “Tapi, apa anak nakal itu akan selamanya nakal ya Mom?” aku bingung lagi.

“Nggak juga,” Mom tersenyum.

“Kalau begitu, suatu saat Cherry ingin semua anak nakal menjadi anak yang baik, biar bisa melihat malaikat, Mom,” kataku mantab.

“Bagaimana caranya, Sayang?”

"Semua anak baik berteman aja sama anak nakal biar baiknya bisa ketularan. Hahahaha...”

“Kalau yang ketularan nakalnya gimana dong?”
“Mana mungkin, kan anak baik berteman sama malaikat. Malaikat itu kuat. Pasti malaikat membantu anak baik supaya anak-anak nakal menjadi anak-anak yang baik juga.”

Mom tertegun mendengar jawabanku yang masuk akal entah tidak itu. Padahal aku juga baru mengetahui tentang Malaikat dari Mom. Tapi itulah yang ingin aku katakan, walau hanya spontan terlintas dalam benakku. “Cherry memang anak yang pintar. Jadi, Cherry bukan anak yang aneh. Cherry jangan pernah untuk berpikir seperti itu lagi ya,” Mom membelai rambutku dan menatapku prihatin. Lalu ia memelukku lembut, “Mom bangga mempunyai Cherry. Cherry tahu tidak, Cherry adalah harta Mom yang paling berharga di dunia ini,” bola mata Mom nampak mulai basah.

“Terima kasih, Mom. Cherry juga senang sekali lho mempunyai Mom yang menyayangi dan mengerti Cherry,” kedua tangan mungilku langsung merengkuh tubuh Mom. “Saat ini Cherry seperti di surga, Mom,” aku menarik nafas panjang dan mencoba merasakan suasana ini dengan menutup kedua mataku.

"Anak baik juga nggak selamanya menjadi anak yang baik kan? Makanya, Cherry harus berjanji, Cherry harus menjadi anak baik selamanya. Jangan mengecewakan Mom. Ya?” Mom menunjukkan jari kelingkingnya.

Aku pun mengaitkan jari kelingkingku pada jari kelingking Mom. “Iya. Cherry janji, Mom,” aku tersenyum. Kami pun tertawa.

Kini jari kelingking kami bersatu, seolah tidak dapat dipisahkan. Oleh siapa pun... Aku sangat menyayangi Mom.

Mom memegangi kedua pipi mungilku. “Besok pagi Cherry sekolah kan?”

Aku menjawab pertanyaan Mom dengan mengangguk tanda “iya”.

"Ya sudah, sampai sini dulu ya dongengnya. Cherry harus bobo biar besok bisa bangun pagi,” Mom yang masih memegangi kedua pipiku mencium dahiku sekali lagi.

“Oke, Mom. Nite, Mom.”

Lampu kamarku pun dimatikan oleh Mom. Kini hanya ada sedikit penerang dari lampu meja kamarku. Semuanya terlihat serba samar-samar.
Kupegangi pipiku yang sedikit menghangat. Entah mengapa, aku sangat bersemangat berbicara tentang malaikat pada Mom. Kuambil sebuah cermin kecil di atas meja di samping tempat tidurku. Kuperhatikan sekilas wajahku di cermin di bawah sinar redup pada lampu mejaku. Pipiku masih nampak kemerahan berbentuk hampir bulat diikuti bentuk rahang wajahku yang pendek.

Tiba-tiba saja angin yang tidak diketahui arah datangnya ini sudah menyibak pelan kain gorden jendela kamarku yang menghadap ke arah taman itu. Aku penasaran. Dan aku menantikan kehadirannya untuk yang ketiga kalinya. Segera kuletakkan kembali cermin kecilku pada tempat asalnya dan kusibak kain gorden jendela kamarku yang berada di samping tempat tidurku.

Meski di kejauhan, tetapi kedua mataku tetap bisa terfokus pada sesosok makhluk bersayap serba putih yang memancarkan cahaya itu. Disekeliling tubuhnya hanya terselubung oleh cahaya tipis berwarna putih kekekuningan. Yang paling terang adalah di bagian atas, yaitu wajah tepatnya. Sepasang sayapnya sangat indah dengan bulu-bulu seperti bulu angsa berwarna putih. Putihya seperti salju, dan lembutnya seperti permen Marshmallow yang pernah kumakan beberapa hari yang lalu. Begitu manis rasanya.

Lagi. Atau sebut saja “Malaikat” seperti Mom menyebutnya tadi. Kali ini ia menengok ke arahku. Tapi sayang, aku masih belum bisa melihat dengan jelas wajahnya karena sinar yang memancar dari wajahnya itu. Padahal aku ingin sekali melihat wajahnya. Seperti apa bentuk wajahnya... garis rahangnya... bentuk matanya... bentuk hidungnya... bentuk bibirnya dan... ah, sudahlah...

Apa dia sempurna? Jelek atau tampan ya wajahnya?? Tiba-tiba wajahku semakin menghangat dan memerah seperti...buah ceri, seperti kata Mom.

Aku sering memakan buah ceri dan aku tahu betul warna merahnya benar-benar merah dan terang. Meski kecil tak sebesar buah tomat, tapi rasanya manis. Aku sangat menyukainya, buah ceri, seperti namaku, Cherry Light...

Ups! Gara-gara memikirkan tentang buah ceri, sosok itu menghilang tanpa kusadari. Kedua mataku masih menjelajahi sekitar taman belakang rumahku, mencari sosok itu. Tapi aku tak menemukannya di sisi mana pun. -BERSAMBUNG-

Written by : Yanti Kumalasari, S.Ds.
Editing by : Kepik Romantis / PVA