Saturday, August 22, 2015

"Lilin dan Lampu Teplok"

Di suatu senja yang mulai menggelap, di daerah pedalaman yang sedang dilanda mati listrik. Tuan rumah mulai gelisah mencari penerangan untuk menjaga tidurnya di kala menjelang kegelapan. Kekhawatirannya hilang, dilihatnya masih ada lilin dan lampu teplok di dekatnya. Bergegas Tuan rumah pun pergi ke toko terdekat mencari dan membeli alat pematik api.

Sementara itu, Lilin yang sombong berkata kepada Lampu teplok, "Hei.. teplok, Tuan rumah pasti akan menyalakan aku untuk penerangannya sepanjang malam, dia tidak akan memilihmu, karena mencari bahan bakarmu (minyak) begitu sulit dan mahal sekarang ini, bagaimana kamu bisa menyala di saat darurat dibutuhkan oleh Tuan rumah?!". Lampu teplok tidak menjawab Lilin yang angkuh, dia hanya terdiam.

Beberapa waktu kemudian, datanglah si Tuan rumah dan menyalakan Lilin kecil itu dengan alat pematik yang sudah dibeli dari toko kelontong dekat rumahnya. Betapa senang Lilin pun semakin angkuh dan gembira karena si Tuan rumah memilih dirinya untuk membantunya dalam bekerja di kegelapan. Tuan rumah pun dapat melanjutkan pekerjaannya, memasak, kemudian makan malam, dan mencuci peralatan dapur.

Seselesainya semua pekerjaan rumahnya, dilihatnya Lilin semakin mengecil dan hampir habis. Bergegas si Tuan rumah pergi ke dapur untuk mencari persediaan minyak, yang akan diisikan kepada Lampu teplok. Lampu teplok menoleh kepada Lilin, dilihatnya Lilin yang langsung menangis sedih, karena menyesal atas keangkuhannya, menyadari bahwa dirinya pun sesaat lagi akan habis dan mati.      

Lampu teplok pun berkata kepada Lilin tanpa perasaan marah, dendam maupun benci, "Lilin kecil yang indah dan selalu siap sedia menerangi di setiap saat diperlukan, janganlah bersedih, kamu begitu berharga dan sangat menolong banyak orang, saya pun sangat membutuhkanmu, kamu tetaplah sahabat yang baik bagiku, marilah kita bersama menerangi malam yang gelap dan panjang ini untuk menolong dan menjaga Tuan rumah kita yang sama. Dengan kehangatan dan kebaikanmu, menyatu dalam jiwaku, kita pasti dapat bersama-sama membahagiakan Tuan rumah kita bersama selamanya."

Lilin yang sedih pun, berhenti menangis, tersadar akan kegelapan dirinya, dia pun menyadari kesalahannya. Datanglah si Tuan rumah mengisi tubuh Lampu teplok dengan minyak secukupnya dan mengambil Lilin yang hampir habis itu untuk menyalakan Lampu Teplok. Kini jiwa Lilin dan Lampu teplok pun bersatu selamanya menerangi kegelapan sepanjang malam. Kegelisahan hati Tuan rumah pun sirna menjadi tenang dan bahagia.

Written by : Kepik Romantis / PVA (22/08/15)

"Kisah Nabi Khidir dan Sunan Kalijaga"

Kanjeng Nabi Khidir berhenti sejenak, lalu berkata “Matahari berbeda dengan Bulan“, perbedaannya terdapat pada cahaya yang dipancarkannya sudahkah hidayah iman terasa dalam dirimu? Tauhid adalah pengetahuan penting untuk menyembah pada Allah, juga makrifat harus kita miliki untuk mengetahui kejelasan yang terlihat, ya ru’yat (melihat dengan mata telanjang) sebagai saksi adanya yang terlihat dengan nyata.

Maka dari itu kita dalami sifat dari Allah, sifat Allah yang sesungguhnya, Yang Asli, asli dari Allah. Sesungguhnya Allah itu, Allah yang hidup. Segala afalnya (perbuatanya) adalah berasal dari Allah. Itulah yang dimaksud dengan ru’yati. Kalau hidupmu senantiasa kamu gunakan ru’yat, maka itu namanya khairat (kebajikan hidup). Makrifat itu hanya ada di dunia. Jauhar awal khairat (mutiara awal kebajikan hidup), sudah berhasil kau dapatkan. Untuk itu secara tidak langsung kamu sudah mendapatkan pengawasan kamil (penglihatan yang sempurna). Insan Kamil (manusia yang sempurna) berasal dari Dzatullah (Dzatnya Allah). Sesungguhnya ketentuan ghaib yang tersurat, adalah kehendak Dzat yang sebenarnya. Sifat Allah berasal dari Dzat Allah. Dinamakan Insan Kamil kalau mengetahui keberadaan Allah itu. Bilamana tidak tertulis namamu, di dalam nuked ghaib insan kamil, itu bukan berarti tidak tersurat. Ya, itulah yang dinamakan puji budi (usaha yang terpuji). Berusaha memperbaiki hidup, akan menjadikan kehidupan nyawamu semakin baik. Serta badannya, akan disebut badan Muhammad, yang mendapat kesempurnaan hidup”.

Syekh Malaya berkata lemah lembut, “Mengapa sampai ada orang mati yang dimasukkan neraka? Mohon penjelasan yang sebenarnya”.

Kanjeng Nabi Khidir berkata dengan tersemyum manis, “Wahai Malaya! Maksudnya begini. Neraka jasmani juga berada di dalam dirimu sendiri, dan yang diperuntukkan bagi siapa saja yang belum mengenal dan meniru laku Nabiyullah. Hanya ruh yang tidak mati. Hidupnya ruh jasmani itu sama dengan sifat hewan, maka akan dimasukkan ke dalam neraka. Juga yang mengikuti bujuk rayu iblis, atau yang mengikuti nafsu yang merajalela seenaknya tanpa terkendali, tidak mengikuti petunjuk Gusti Allah SWT. Mengandalkan ilmu saja, tanpa memperdulikan sesama manusia keturunan Nabi Adam, itu disebut iman tadlot. Ketahuilah bahwa umat manusia itu termasuk badan jasmanimu. Pengetahuan tanpa guru itu, ibarat orang menyembah tanpa mengetahui yang disembah. Dapat menjadi kafir tanpa diketahui, karena yang disembah kayu dan batu, tidak mengerti apa hukumnya, itulah kafir yang bakal masuk neraka jahanam.

Adapun yang dimaksudkan Rud Idhafi adalah sesuatu yang kelak tetap kekal sampai akhir nanti kiamat dan tetap berbentuk ruh yang berasal dari ruh Allah. Yang dimaksud dengan cahaya adalah yang memancar terang serta tidak berwarna, yang senantiasa menerangi hati penuh kewaspadaan yang selalu mawas diri atau introspeksi mencari kekurangan diri sendiri serta mempersiapkan akhir kematian nanti. Merasa sebagai anak Adam yang harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan.

Ruh Idhafi sudah ada sebelum tercipta. Syirik itu dapat terjadi, tergantung saat menerima sesuatu yang ada, itulah yang disebut Jauhar Ning. Keenamnya jauhar awal. Jauhar awal adalah mutiara ibaratnya. Mutiara yang indah penghias raga agar nampak menarik. Mutiara akan tampak indah menawan. Bermula dari ibarat ketujuh, dikala mendengarkan sabda Allah, maka Ruh Idhafi akan menyesuaikan, yang terdapat di dalam Dzat Allah Yang Mutlak. Ruh serba pasrah kepada Dzatullah, itullah yang dimaksudkan Ruh Idhafi. Jauhar awal itu pula, yang menimbulkan Shalat Daim. Shalat Daim tidak perlu menggunakan air wudhu, untuk membersihkan khadas tidak disyaratkan.

Itulah shalat batin yang sebenarnya, diperbolehkan makan tidur syahwat maupun buang kotoran, demikianlah tadi cara shalat Daim. Perbuatan itu termasuk hal terpuji, yang sekaligus merupakan perwujudan syukur kepada Allah. Jauhar tadi bersatu padu menghilangkan sesuatu yang menutupi atau mempersulit mengetahui keberadaan Allah Yang Terpilih. Adanya itu menujukkan adanya Allah, yang mustahil kalau tidak berwujud sebelumnya.

Kehidupan itu seperti layar dengan wayangnya, sedang wayang itu tidak tahu warna dirinya. Akibat junub sudah bersatu erat tetap bersih badan jisimmu. Adapun Muhammad badan Allah. Nama Muhammad tidak pernah pisah dengan nama Allah. Bukankah hidayah itu perlu diyakini? Sebagai pengganti Allah? Dapat pula disebut utusan Allah. Nabi Muhammad juga termasuk badan mukmin atau orang yang beriman. Ruh mukmin identik pula dengan Ruh Idhafi dalam keyakinanmu. Disebut iman maksum, kalau sudah mendapat ketetapan sebagai panutan jati. Bukankah demikian itu pengetahuanmu? Kalau tidak hidup begitu, berarti itu sama dengan hewan yang tidak tahu adanya sesuatu di masa yang telah lewat.

Kelak, karena tidak mengetahui ke-Islaman, maka matinya tersesat, kufur serta kafir badannya namun bagi yang telah mendapatkan pelajaran ini, segala permasalahan dipahami lebih seksama baru dikerjakan, Allah itu tidak berjumlah tiga yang menjadi suri tauladan adalah Nabi Muhammad.

Bukankah sebenarnya orang kufur itu, mengingkari empat masalah prinsip. Di antaranya bingung karena tiada pedoman manusia yang dapat diteladani. Kekafiran mendekatkan pada kufur kafir. Fakhir dekat dengan kafir. Sebabnya karena kafir itu, buta dan tuli tidak mengerti tentang surga dan neraka. Fakhir tidak akan mendekatkan pada Tuhan. Tidak mungkin terwujud pendekatan ini, tidak menyembah dan memuji, karena kekafirannya. Seperti itulah kalau fakhir terhadap Dzatullah.

Dan sesungguhnya Gusti Allah, mematikan kefakhiran manusia, kepastiannya ada di tangan Allah semata-mata. Adapun wujud Dzatullah itu, tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui kecuali Allah sendiri. Ruh Idhafi menimbulkan iman. Ruh Idhafi berasal dari Allah Yang Maha Esa, itulah yang disebut iman tauhid. Meyakini adanya Allah juga adanya Muhammad sebagai Rasulullah.

Tauhid hidayah yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan Yang Terpilih. Menyatu dengan Gusti Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Dan kamu harus menyatu bahwa Gusti Allah itu ada dalam dirimu. Ruh Idhafi ada di dalam dirimu. Makrifat itu sebutannya. Hidupnya disebut Syahadat, hidup tunggal didalam hidup. Sujud rukuk sebagai penghiasnya. Rukuk berarti dekat dengan Tuhan Pilihan. Penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal tidak akan terjadi padamu, jangan takut menghadapi sakaratil maut. Jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat.

Ruh Idhafi tidak akan mati. Hidup mati, mati hidup. Akuilah sedalam-dalamnya bahwa keberadaanmu itu, terjadi karena Allah itu hidup dan menghidupi dirimu, dan menghidupi segala yang hidup. Sastra Alif (huruf alif) harus dimintakan penjelasannya pada guru. Jabar jer-nya pun harus berani susah payah mendalaminya. Terlebih lagi pengetahuan tentang kafir dan syirik! Sesungguhnya semua itu, tidak dapat dijelaskan dengan tepat maksud sesungguhnya. Orang yang menjelaskan syariat itu berarti sudah mendapatkan anugrah sifat Gusti Allah. Sebagai sarana pengabdian hamba kepada Gusti Allah. Yang menjalankan shalat sesungguhnya raga.

Raga yang shalat itu terdorong oleh adanya iman yang hidup pada diri orang yang menjalankannya. Seandainya nyawa tidak hidup, maka Lam Tamsyur (maka tidak akan menolong) semua perbuatan yang dijalankan. 

Secara yang tersurat, shalat itu adalah perbuatan dan kehendak orang yang menjalankan, namun sebenarnya Allah-lah yang berkehendak atas hambanya. Itulah hakikat dari Tuhan penciptanya. Ruh Idhafi berada di tangan orang mukmin. Semua ruh berada di tangan-Nya. Yaitu terdapat pada Ruh Idhafi. Ruh Idhafi adalah sifat jamal (sifat yang bagus atau indah) keindahan yang berasal Dzatullah. Ruh Idhafi nama sebuah tingkatan (maqom), yang tersimpan pada diri utusan Allah (Rasulullah). Syarat jisim lathif (jasad halus) itu, harus tetap hidup dan tidak boleh mati.

Cahayanya berasal dari ruh itu, yang terus menerus meliputi jasad. Yang mengisayaratkan sifat jalal (sifat yang perkasa) dan sekaligus mengisyaratkat adanya sifat jamal (sifat keindahan). Jauhar awal mayit (mutiara awal kematian) itu, memberi isyarat hilangnya diri ini. Setelah semua menemui kematian di dunia, maka akan berganti hidup di akherat. Kurang lebih tiga hari perubahan hidup itu pasti terjadi. Asal mula manusia terlahir, dari adanya Ayah, Ibu serta Tuhan Yang Maha Pencipta. Satu kelahiran berasal dari tiga asal lahir.

Ya, itulah isyarat dari tiga hari. Setelah dititipkan selama tujuh hari, maka dikembalikan kepada yang menitipkan (yang memberi amanat). Titipan itu harus seperti sedia kala. Bukankah tauhid itu sebagai sarana untuk makrifat? Titipan yang ketiga puluh hari, itu juga termasuk juga titipan, yang ada hanya kemiripan dengan yang tujuh hari. Kalau menangis mengeluarkan air mata karena menyesali sewaktu masih hidup. Seperti teringat semasa kehidupan itu berasal dari Nur. Yang mana cahayanya mewujudkan dirimu. Hal itulah yang menimbulkan kesedihan dan penyesalan yang berkepanjangan. Tak terkecuali siapapun yang merasakan itu semua, sebagaimana kamu mati, saya merasa kehilangan.

Mati atau hilang bertepatan hari kematian yang keempat puluh hari. Bagaimanakah yang lebih tepat untuk melukiskan persamaan sesama makhluk hidup secara keseluruhannya?

Allah dan Muhammad semuannya berjumlah satu. Seratuspun dapat dilukiskan seperti satu bentuk, seperti diibaratkan dengan adanya cahaya yang bersumber dari cahaya Muhammad yang sesungguhnya. Sama hal pada saat kamu memohon sesuatu. Ruh jasad hilang di dalamnya, kehadirat Tuhan Yang Maha Pemberi. Tepat pada hari keseribu, tidak ada yang tertinggal. Kembalinya pada Allah sudah dalam keaadaan yang sempurna. Sempurna seperti mula pertama dalam keadaan yang sempurna. Sempurna seperti mula pertama diciptakan”.

Syekh Malaya terang hatinya, mendengarkan pelajaran yang baru diterima dari gurunya Syekh Mahyuningrat Kanjeng Nabi Khidir. Syekh Malaya senang hatinya sehingga beliau belum mau keluar dari dalam tubuh Kanjeng Nabi Khidir. Syekh Malaya menghaturkan sembah, sambil berkata manis seperti gula madu. “Kalau begitu hamba tidak mau keluar dari raga dalam tuan. Lebih nyaman di sini saja yang bebas dari sengsara derita, tiada selera makan tidur, tidak merasa ngantuk dan lapar, tidak harus bersusah payah dan bebas dari rasa pegal dan nyeri. Yang terasa hanyalah rasa nikmat dan manfaat”. Kanjeng Nabi Khidir memperingatkan, “Yang demikian tidak boleh kalau tanpa kematian”.

Kanjeng Nabi Khidir semakin iba kepada pemohon yang meruntuhkan hatinya. Kata Kanjeng Nabi Khidir, “Kalau begitu yang awas sajalah terhadap hambatan upaya. Jangan sampai kau kembali. Memohonlah yang benar dan waspada. Anggaplah kalau sudah kau kuasai, jangan hanya digunakan dengan dasar bila ingat saja, karena hal itu sebagai rahasia Allah. Tidak diperkenankan mengobrol kepada sesama manusia, kalau tanpa seizin-Nya! Sekiranya akan ada yang mempersolakan, memperbincangkan masalah ini! Jangan sampai terlanjur! Jangan sampai membanggakan diri! Jangan peduli terhadap gangguan, cobaan hidup! Tapi justru terimalah dengan sabar! Cobaan hidup yang menuju kematian, ditimbulkan akibat buah pikir. Bentuk yang sebenarnya ialah tersimpan rapat di dalam jagadmu! Hidup tanpa ada yang menghidupi kecuali Allah saja.

Tiada antara lamanya tentang adanya itu. Bukankah sudah berada di tubuh? Sungguh, bersama lainnya selalu ada dengan kau! Tak mungkin terpisahkan! Kemudian tidak pernah memberitahukan darimana asalnya dulu. Yang menyatu dalam gerak perputaran bawana. Bukankah berita sebenarnya sudah ada padamu? Cara mendengarnya adalah dengan ruh sejati, tidak menggunakan telinga. Cara melatihnya, juga tanpa dengan mata. Adapun telingannya, matanya yang diberikan oleh Allah. Ada padamu itu. Secara batinnya ada pada sukma itu sendiri. Memang demikianlah penerapannya. Ibarat seperti batang pohon yang dibakar, pasti ada asap apinya, menyatu dengan batang pohonnya. Ibarat air dengan alunnya. Seperti minyak dengan susu, tubuhnya dikuasai gerak dan kata hati.

Demikian pun dengan Hyang Sukma, sekiranya kita mengetahui wajah hamba Tuhan dan sukma yang kita kehendaki ada, diberitahu akan tempatnya seperti wayang ragamu itu. Karena datanglah segala gerak wayang. Sedangkan panggungnya jagad. Bentuk wayang adalah sebagai bentuk badan atau raga. Bergerak bila digerakkan. Segala-galanya tanpa kelihatan jelas, perbuatan dengan ucapan. Yang berhak menentukan semuanya, tidak tampak wajahnya. Kehendak justru tanpa wujud dalam bentuknya. Karena sudah ada pada dirimu. Permisalan yang jelas ketika berhias.

Yang berkaca itu Hyang Sukma, adapun bayangan dalam kaca itu ialah dia yang bernama manusia sesungguhnya, terbentuk di dalam kaca. Lebih besar lagi pengetahuan tentang kematian ini dibandingkan dengan kesirnaan jagad raya, karena lebih lembut seperti lembutnya air. Bukankah lebih lembut kematian manusia ini? Artinya lembut kesirnaan manusia? Artinya lebih dari, karena menentukan segalanya. Sekali lagi artinya lembut ialah sangat kecilnya. Dapat mengenai yang kasar dan yang kecil. Mencakup semua yang merangkak, melata tiada bedanya, benar-benar serba lebih. Lebih pula dalam menerima perintah dan tidak boleh mengandalkan pada ajaran dan pengetahuan.

Karena itu bersungguh-sungguhlah menguasainya. Pahamilah liku-liku polah tingkah kehidupan manusia! Ajaran itu sebagai ibarat benih sedangkan yang diajari ibarat lahan.

Misal kacang dan kedelai. Yang disebar di atas batu. Kalau batunya tanpa tanah pada saat kehujanan dan kepanasan, pasti tidak akan tumbuh. Tapi bila kau bijaksana, melihatmu musnahkanlah pada matamu! Jadikanlah penglihatanmu sukma dan rasa. Demikian pula wujudmu, suaramu. Serahkan kembali kepada yang Empunya suara! Justru kau hanya mengakui saja sebagai pemiliknya. Sebenarnya hanya mengatasnamai saja. Maka dari itu kau jangan memiliki kebiasaan yang menyimpang, kecuali hanya kepada Hyang Agung. Dengan demikian kau Hangraga Sukma. Yaitu kata hatimu sudah bulat menyatu dengan kawula Gusti. Bicarakanlah manurut pendapatmu! Bila pendapatmu benar-benar meyakinkan, bila masih merasakan sakit dan was-was, berarti kejangkitan bimbang yang sebenarnya. Bila sudah menyatu dalam satu wujud. Apa kata hatimu dan apa yang kau rasakan. Apa yang kau pikir terwujud ada. Yang kau cita-citakan tercapai. Berarti sudah benar untukmu. Sebagai upah atas kesanggupanmu sebagai khalifah di dunia. Bila sudah memahami dan menguasai amalan dan ilmu ini, hendaknya semakin cermat dan teliti atas berbagai masalah.

Masalah itu satu tempat dengan pengaruhnya. Sebagai ibaratnya sekejap pun tak boleh lupa. Lahiriah kau landasilah dengan pengetahuan empat hal. Semuanya tanggapilah secara sama. Sedangkan kelimanya adalah dapat tersimpan dengan baik, berguna dimana saja! Artinya mati di dalam hidup. Atau sama dengan hidup di dalam mati. Ialah hidup abadi. Yang mati itu nafsunya. Lahiriah badan yang menjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud. Raga sukma, sukma muksa.

Jelasnya mengalami kematian! Syekh Malaya, terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan senang hatimu!

Anugrah berupa wahyu akan datang kepadamu. Seperti bulan yang diterangi cahaya temaram. Bukankah turunnya wahyu meninggalkan kotoran? Bersih bening, hilang kotorannya”.

Kemudian Kanjeng Nabi Khidir berkata dengan lembut dan tersenyum. “Tak ada yang dituju, semua sudah tercakup haknya. Tidak ada yang diharapkan dengan keprawiraan, kesaktian semuanya sudah berlalu. Toh semuanya itu alat peperangan”. Habislah sudah wejangan Kanjeng Nabi Khidir. Syekh Malaya merasa sungkan sekali di dalam hati. Mawas diri ke dalam dirinya sendiri. Kehendak hati rasanya sudah mendapat petunjuk yang cukup. Rasa batinnya menjelajah jagad raya tanpa sayap.

Keseluruh jagad raya, jasadnya sudah terkendali. Menguasai hakekat semua ilmu. Misalnya bunga yang masih lama kuncup, sekarang sudah mekar berkembang dan baunya semerbak mewangi. Karena sudah mendapat san Pancaretna, kemudian Sunan Kalijaga disuruh keluar dari raga Kanjeng Nabi Khidir kembali ke alamnya semula”.

Lalu Kanjeng Nabi Khidir berkata, “He, Malaya. Kau sudah diterima Hyang Sukma. Berhasil menyebarkan aroma Kasturi yang sebenarnya. Dan rasa yang memanaskan hatimu pun lenyap. Sudah menjelajahi seluruh permukaan bumi. Artinya godaan hati ialah rasa qonaah yang semakin dimantapkan. Ibarat memakai pakaian sutra yang indah. Selalu mawas diri. Semua tingkah laku yang halus. Diserapkan kedalam jiwa, dirawat seperti emas.

Dihiasi dengan keselamatan, dan dipajang seperti permata, agar mengetahui akan kemauan berbagai tingkah laku manusia. Perhaluslah budi pekermu atau akhlak ini! Warna hati kita yang sedang mekar baik, sering dinamakan Kasturi Jati. Sebagai pertanda bahwa kita tidak mudah goyah, terhadap gerak-gerik, sikap hati yang ingin menggapai sesuatu tanpa ilmu, ingin mendalami tentang ruh itu justru keliru. Lagi pula secara penataan, kita itu ibaratnya busana yang dipakai sebagai kerudung. Sedangkan yang ikat kepala sebagai sarungmu.

Kemudian terlibat ingatan ketika dulu. Ibarat mendalami mati ketika berada di dalam rongga ragaku.

Tampak oleh Sunan Kalijaga cahaya. Yang warnanya merah dan kuning itu, sebagai hambatan yang menghadang agar gagal usaha atau ikhtiar atau cita-citanya. Dan yang putih di tengah itulah yang sebenarnya harus diikuti. Kelimanya harus tetap diwaspadai. Kuasailah seketika jangan sampai lupa! Bisa dipercaya sifatnya. Berkat kesediaanku berbuat sebagai penyekat. Untuk alat pembebas sifat berbangga diri. Yang selalu didambakan siang dan malam. Bukankah aku banyak sekali melekat atau mengetahui caranya pemuka agama yang ternyata salah dalam penafsiran.

Dan penyampaian keterangannya? Anggapannya sudah benar. Tak tahunya malah mematikan pengertian yang benar. Akibatnya terperosok dalam penerapannya. Ada pemuka agama yang ibaratnya menjadi murung. Ia hanya sekedar mencari tempat bertengger saja. Yaitu pada batang kayu yang baik rimbun, lebat buahnya, kuat batangnya. Untuk kemuliaan hidup baru. Ada orang yang berkedudukan, ada yang ikut orang kaya. Akhirnya di masyarakatkan. Ibaratnya seperti sekedar memperoleh kemuliaan sepele. Jadinya tersesat-sesat. Ada pula yang justru memiliki jalan terpaksa. Menumpuk kekayaan harta dan istri banyak.

Ada pula yang memilih jalan menguasai putranya. Putra yang bakal menguasai hak asasi orang per orang. Semuanya ingin mendapatkan yang serba lebih di dalam memiliki jalan mereka. Kalau demikian halnya, menurut pendapatku, belumlah mereka disebut pemuka agama yang berserah diri sepenuhnya kepada Allah, tapi masih berkeinginan pribadi atau berambisi. Agar semua itu menjunjung harkat dan martabat. Tatanan yang tidak pasti, belum bisa disebut manusia utama.

Yang demikian itu menurut anggapannya dan perasaannya mendapatkan kebahagiaan, kekayaan dan mengerti hak yang benar. Bila kemudian tertimpa kedudukan, terlanjur terbiasa. Memilih jalan sembarang tempat, tanpa mengahasilkan jerih payahnya dan tanpa hasil. Dalam arti mengalami kegagalan total. Setidak-tidaknya menimbulkan pertanyaan. Apa kebiasaan ketika hidup di dunia. Ketika menghadapi datangnya maut, disitulah biasanya tidak kuat menerima ajal. Merasa berat meninggalkan kehidupan dunia yang tersangkal lagi. Pokoknya masih lekat sekali pada kehidupan duniawi. Begitulah beratnya mencari kemuliaan.

Tidak boleh lagi merasa terlekat kepada anak-istri. Pada saat-saat menghadap ajalnya. Bila salah menjawab pertanyaannya bumi, lebih baik jangan jadi manusia! Kalau matinya tanpa pertanggung jawaban. Bila kau sudah merasa hatimu benar. Akan hidup abadi tanpa hisab. Akibatnya, tubuh bumi itu keterdiamannya tidak membantu. Kesepiannya tidak mencair. Tidak mempedulikan pembicaraan orang lain yang ditujukan kepadanya. Yaitu bagaimana hilang dan mati bersama raganya ialah diidamkannya. Sehingga mempertinggi semedinya, untuk mengejar keberhasilan. Tapi sayang tanpa petunjuk Allah, apalagi hanya semedi semata. Tidak disertai dukungan ilmu.

NB : Sesungguhnya Siapakah Nabi Khidir? Mengapa disebut Nabi paling kontroversial dan misterius?

Sumber : www.KisahKamu.Info

Friday, July 31, 2015

Pesona Kerinduan Cinta

Kabut datang menyelimuti...
Terasa sejuk di hati...
Terharu menatap pesona mimpi,
yang tampak nyata terjadi...
Berharap dapat selalu bersama...
Mungkinkah ada perasaan yang sama?
Atau hanyalah bunga mimpi saja...
Namun hati ini berkata apa adanya.
Terdiam panjang tak tertahan...
Dalam sepi menyimpan kerinduan.
Duduk termenung menatap pemandangan,
Megahnya alam lukisan nyata kehidupan.
Sambil menikmati waktu yang masih tersisa...
Sepanjang nafas masih menyatu dalam raga...
Selama itu juga jiwa ini tetap ada,
Dan akan terus memancarkan kasih dari hati yang penuh cinta. 

Written by : Kepik Romantis / PVA (31/07/15)

Wednesday, July 15, 2015

SENJA (黄昏) - 罗文 Luo Wen (Roman Tam) - Ost The Assassination of Ma 1992 Ending Lyric

LUO WEN (ROMAN TAM) HUANG HUN
(OST THE ASSASSINATION OF MA 1992-ENDING) LYRICS
黄昏
作曲:顾嘉辉作词:邓伟雄
Sung by: 罗文

如果我能为你求得一点青春
rú guǒ wǒ néng wéi nǐ qíu dé yī diǎn qīng chūn
我会留在心中保存
wǒ huì líu zài xīn zhōng bǎo cún
纵然青丝如霜黄花飘落红颜已老
zòng rán qīng sī rú shuāng huáng huā piāo luò hóng yán yǐ lǎo
只求心中还有一些纯真
zhī qíu xīn zhōng hái yǒu yī xiē chún zhēn
日落西山天际一片暮色沉沉
rì luò xī shān tiān jì yī piàn mù sè chén chén
我俩就要走进黄昏
wǒ liǎng jìu yào zǒu jìn huáng hūn
回首多少甜蜜几番哀愁起起落落
huí shǒu duō shǎo tián mì jǐ fān āi chóu qǐ qǐ luò luò
始终不悔与你共度此生
shǐ zhōng bù huǐ yǔ nǐ gòng dù cǐ shēng
山谷中已有点点灯火
shān gǔ zhōng yǐ yǒu diǎn diǎn dēng huǒ
暮色就要渐渐昏沉
mù sè jìu yào jiàn jiàn hūn chén
你和我也然笑泪满唇
nǐ hé wǒ yě rán xiào lèi mǎn chún
感叹年华竟是一无余剩
gǎn tàn nián huá jìng shì yī wú yú shèng
晚风中布满我的歌声
wǎn fēng zhōng bù mǎn wǒ de gē shēng
道尽多少旧梦前尘
dào jìn duō shǎo jìu mèng qián chén
夜色中只看到彼此眼神
yè sè zhōng zhī kàn dào bǐ cǐ yǎn shén
我俩终会消失在那黄昏 (♥)
wǒ liǎng zhōng huì xiāo shī zài nà huáng hūn

English Translation:
DUSK

If I could ask to get your love
That I would keep it in my heart
This silk is like a floating flower, the red color of face turns old
Just a pure heart still left

Sunset arrives in the horizon, layered with afternoon color
Both of us soon is entering the dusk
Looking back at how many ups and downs, some sweet some sad
From the beginning til the end, there's no regret sharing with you 

At the middle of valley there is a little light
Afternoon will soon turn into dark
You and me laughing tears, smile widely
Realizing time is no longer left

Night wind filled my song in the air
To get the long ago dreams 
In this darkness, only could see each other's eye
Finally we will disappear together in the dusk. (♥)

Other Translation:

if i could one more time go back to our younger days
which would i treasure in my heart
even until my hair grows white and face becomes pale
as long as sincerity is still dwelling in this heart

the sun sets, darkened the sky layer by layer
now both of us will enter the dusk
flashing back, there were lots of sweetness and bitterness in our life
from the beginning til the end, i have no regrets share this life with you

in the valley they have lighten up some lamps
twilight enters and gradually adds the darkness
in the end, we could smile widely with flowing tears
sighing, these years were actually have nothing to left

my songs filled in the night winds
enter the old dreams in the past until it ends
in the darkness we can only see our eyes each other
soon both of us will also disappear in the dusk ♥

> May be this song is about realizing a love between two person that came a little bit too late. When they finally could be together, there was only little time left in this world. So they'll together living their life in that short time.

Terjemahan Indonesia : 
- Senja -

Bila saya dapat meminta untuk mendapatkan cinta Anda
dimana saya akan menyimpannya di dalam hati saya
Sutra ini seperti layaknya bunga mengambang, memerah wajah ini terlihat menua
Hanya ketulusan hati murni yang masih tersisa

Matahari terbenam tampak di cakrawala, berlapiskan dengan warna di sore hari 
Kami berdua akan segera memasuki masa senja
Melihat kembali berapa banyak sudah dilewati pasang surut kehidupan, ada saat indah ada kalanya sedih
Dari sejak awal hingga akhir, tidak ada rasa penyesalan telah berbagi dengan Anda

Pada pertengahan lembah terlihat sedikit cahaya
Sore hari akan segera berubah menjadi gelap
Kamu dan saya tertawa hingga menangis, sangat tersenyum puas
Menyadari waktu sudah tidak ada lagi yang tersisa

Angin malam telah memenuhi lagu saya di udara
Untuk mendapatkan mimpi yang dulu
Dalam kegelapan ini, hanya dapat saling memandang mata satu sama lain
Akhirnya kita akan menghilang bersama di saat senja. (♥)

Lain Terjemahan:

Jika saya dapat sekali lagi kembali ke masa muda kita dulu
dimana saya akan menghargai menyimpannya dalam hatiku
bahkan hingga sampai rambut saya tumbuh putih dan wajah saya menjadi pucat
selama ketulusan masih tinggal di dalam hati ini

matahari terbenam, langit menggelap selapisan demi lapisan 
sekarang kami berdua akan memasuki senja
sekejap kembali teringat, ada banyak kenangan manis dan kepahitan dalam hidup kita
dari awal hingga akhir, saya tidak menyesal berbagi kehidupan ini dengan Anda

di lembah mereka telah menyalakan beberapa lampu
senja telah tiba dan secara bertahap bertambah gelap
pada akhirnya, kita dapat tersenyum luas dengan meneteskan air mata
mendesah, tahun ini benar-benar tidak ada lagi yang tersisa

lagu-lagu saya mengisi angin di malam hari
masuk ke mimpi lama di masa silam sampai semuanya berakhir
dalam kegelapan kita hanya dapat melihat mata kita satu sama lain
segera kami berdua juga akan menghilang di saat senja ♥

> Mungkin lagu ini adalah tentang mewujudkan cinta antara dua orang yang datang sedikit terlambat. Ketika mereka akhirnya dapat bersama-sama, hanya ada sedikit waktu yang tersisa di dunia ini. Jadi mereka bersama-sama akan menjalani hidup mereka dalam waktu yang singkat.

Sumber : http://gitavagga.blogspot.com/2008/03/lyric-mp3-lowen-huanghun.html
http://mp3-mandarin.blogspot.com/2012/12/luo-wen-huang-hun-ost-assasination.html

Friday, June 5, 2015

"Teratai di Bandungan"

Indahnya bunga teratai di Bandungan..,
Laksana melukis suasana hati yang tiba di kampung halaman...
Pesonanya bagai misteri...
Begitu asri dan tak tertandingi...
Bukan disengaja untuk tampak berkilauan..
Namun kesederhanaan, yang mengutamakan kemuliaan hati.
Tiada kata yang dapat mengurai makna di dalam hati...,
Seperti mimpi yang tersadar dalam kerinduan...,
Akan relung-relung kebahagiaan.

Written by : Kepik Romantis / PVA (05/06/15) at Pakopen Village, District of Bandungan, Regency of Semarang.

Tuesday, June 2, 2015

Happy Vesak Day 2559 BE


Lingkaran kehidupan...
Berputar-putar dalam lautan samsara.
Tidak mengenal awal dan akhiran...
Gelombang keinginan, selalu menciptakan...
Dan Jalan penciptaan, selalu mengupayakan...
Tidak terwujud, menimbulkan amarah dan kebencian,
yang berujung pada penyesalan.
Terlepas dari segala bentuk keinginan...,
Mencari arti tujuan kehidupan,
Menemukan jawaban kebenaran...,
Arti kata Bahagia sesungguhnya...

Happy Vesak Day 2559 BE (02062015)
Written by : Kepik Romantis / PVA

Monday, May 11, 2015

"Am I Wrong" (Salahkah Saya) - NICO & VINZ -


Am I wrong
For thinking out the box from where I stay?
Am I wrong
For saying that I choose another way?
I ain't trying to do what everybody else doin'
Just 'cause everybody doin' what they all do
If one thing I know, I'll fall but I'll grow
I'm walking down this road of mine, this road that I call home

 Salahkah saya
Untuk berpikir keluar kotak dari dimana tempat saya tinggal?
Salahkah saya
Untuk mengatakan bahwa saya memilih jalan lain?
saya tidak mencoba untuk melakukan apa yang orang lain lakukan
Hanya karena orang lain melakukan apa yang mereka semua lakukan
apabila sesuatu hal saya tahu, saya akan terjatuh tetapi saya akan tumbuh
saya berjalan menyusuri jalan saya sendiri, jalan ini yang saya anggap menuju rumah

So am I wrong?
For thinking that we could be something for real?
Now am I wrong?
For trying to reach the things that I can't see?
But that's just how I feel,
That's just how I feel
That's just how I feel
Trying to reach the things that I can't see (see, see, see)

Jadi salahkah saya?
Untuk berpikir bahwa kita dapat membuat sesuatu yang nyata?
Sekarang salahkah saya?
Untuk mencoba meraih hal-hal yang tidak saya lihat?
Tapi itulah semua yang saya rasakan,
Itulah semua yang saya rasakan
Itulah semua yang saya rasakan
Mencoba untuk meraih hal-hal yang tidak saya lihat (lihat, lihat, lihat)

Am I tripping
For having a vision?
My prediction
I'm be on the top of the world
Walk your walk and don't look back,
Always do what you decide
Don't let them control your life, that's just how I feel oh whoa
Fight for yours and don't let go,
Don't let them compare you, no
Don't worry, you're not alone, that's just how we feel

Berdosakah saya
Untuk mempunyai visi?
Prediksi saya
saya berada di puncak tertinggi dunia
Berjalan di jalanmu dan jangan melihat ke belakang,
Selalu melakukan apa yang Anda putuskan / tentukan
Jangan biarkan mereka mengendalikan hidup Anda, itulah bagaimana yang saya rasakan oh whoa
Berjuang untuk diri Anda dan jangan biarkan pergi,
Jangan biarkan mereka membandingkan diri Anda, tidak ada
Jangan khawatir, Anda tidak sendirian, itulah bagaimana yang kami rasakan

Am I wrong? (am I wrong?)
For thinking that we could be something for real? 
(Oh yeah yeah yeah yeah, oh)
Now am I wrong? (am I wrong?)
For trying to reach the things that I can't see?
(Oh yeah yeah yeah yeah, yeah)
That's just how I feel,
But that's just how I feel
That's just how I feel
Trying to reach the things that I can't see (see, see, see)

Salahkah saya? (salahkah saya?)
Untuk berpikir bahwa kita dapat membuat sesuatu yang nyata?
(Oh yeah yeah yeah yeah, oh)
Sekarang salahkah saya? (salahkah saya?)
Untuk mencoba meraih hal-hal yang tidak saya lihat?
(Oh yeah yeah yeah yeah, yeah)
Itulah semua yang saya rasakan
Tapi itulah semua yang saya rasakan
Itulah semua yang saya rasakan
Mencoba untuk meraih hal-hal yang tidak saya lihat (lihat, lihat, lihat)

If you tell me I'm wrong, wrong
I don't wanna be right, right
If you tell me I'm wrong, wrong
I don't wanna be right (2X)

Jika Anda memberitahu saya sayalah yang salah, salah
Saya tidak ingin menjadi benar, benar
Jika Anda memberitahu saya sayalah yang salah, salah
Saya tidak ingin menjadi benar (2X)

Am I wrong?
For thinking that we could be something for real?
Now am I wrong?
For trying to reach the things that I can't see?
But that's just how I feel,
But that's just how I feel
That's just how I feel
Trying to reach the things that I can't see (see, see, see)

Salahkah saya?
Untuk berpikir bahwa kita dapat membuat sesuatu yang nyata?
Sekarang salahkah saya?
Untuk mencoba meraih hal-hal yang tidak saya lihat?
Tapi itulah semua yang saya rasakan,
Tapi itulah semua yang saya rasakan
Itulah semua yang saya rasakan
Mencoba untuk meraih hal-hal yang tidak saya lihat (lihat, lihat, lihat)

So am I wrong? (am I wrong?)
For thinking that we could be something for real?
(Oh yeah yeah yeah yeah, oh)
Now am I wrong? (am I wrong?)
For trying to reach the things that I can't see?
(Oh yeah yeah yeah yeah, yeah)
But that's just how I feel,
That's just how I feel
But that's just how I feel
Trying to reach the things that I can't see (see, see, see)

Salahkah saya? (salahkah saya?)
Untuk berpikir bahwa kita dapat membuat sesuatu yang nyata?
(Oh yeah yeah yeah yeah, oh)
Sekarang salahkah saya? (salahkah saya?)
Untuk mencoba meraih hal-hal yang tidak saya lihat?
(Oh yeah yeah yeah yeah, yeah)
Tapi itulah semua yang saya rasakan
Itulah semua yang saya rasakan
Tapi itulah semua yang saya rasakan
Mencoba untuk meraih hal-hal yang tidak saya lihat (lihat, lihat, lihat)

Sumber : MetroLyrics