Friday, November 28, 2014

Kisah Nyata “Seekor Sapi Menangis”

Kisah yang sangat menyentuh ini terjadi di Hong Kong pada tahun 1988 ketika para pekerja membawa seekor sapi berbobot 1.200 pon (544kg) ke pusat pemotongan hewan dimana sapi itu akan dipotong dan akan dijadikan daging rebus.

Ketika mereka semakin dekat dengan tempat pemotongan, sapi itu tiba-tiba berhenti, berlutut dan menangis dengan air mata yang bercucuran membasahi pipinya. Para penjagal di sana pun tercengang, bagaimana sapi ini tahu bahwa dia akan segera dibunuh di tempat pemotongan sapi ini?“Ketika saya melihat binatang yang seharusnya mati ini langsung menangis, dan melihat rasa takut dan kesedihan yang tersirat dari matanya, saya mulai menggigil dan gemetaran“, kata penjagal Shiu Tat-Nin sambil mengingatnya kembali. “Saya kemudian memanggil penjagal yang lainnya untuk melihat dan menghampirinya, mereka semua kaget sama seperti diriku. Lalu kita mulai mencoba menarik dan mendorong si sapi itu, tetapi sapi itu tidak mau menurut. Sapi itu tetap terduduk belutut di sana dan menangis.”

“Kita tidak dapat membuatnya bergerak sampai kita semua berjanji kepadanya bahwa dia tidak akan mati. Setelah itu baru dia bangun dan menurut dengan kita.” kata Shiu. “Kita semua merasa ngeri karena binatang itu bagaikan manusia pada waktu itu. Kita saling memandang satu sama lain dan kita sadar bahwa tidak ada seorangpun dari kita yang akan membunuhnya. Hal ini membuat kita sadar apa yang harus kita lakukan dengan binatang itu.”Para pria-pria ini sangat tersentuh dengan apa yang terjadi pada binatang itu dan mereka patungan mengumpulkan uang untuk membeli sapi ini dengan uang mereka sendiri. Lalu mereka memberikan sapi itu kepada Vihara Buddha terdekat agar binatang itu dapat hidup dengan damai.

“Anda percaya atau tidak. Inilah kenyataannya, sangat aneh memang kedengarannya. Sapi itu seperti seekor binatang besar yang mengerti setiap kata-kata yang kita ucapkan.” Bagi para pekerja di tempat pemotongan sapi ini, berhadap-hadapan dengan seekor sapi yang menangis membuat mereka tidak dapat bertahan dengan pekerjaan mereka lagi. “Tiga dari pria-pria ini kemudian berhenti bekerja setelah mengalami kejadian ini,” kata Sang Mandor. “Mereka bilang mereka tidak akan sanggup membunuh binatang yang lain lagi tanpa terbayang akan kejadian sapi ini yang terus menangis mengeluarkan air mata dari kedua matanya, mata yang sedih tersirat di muka sapi itu.”

Sumber : Erabaru

Dekat Di Hati - RAN -


Dering teleponku membuatku tersenyum di pagi hari...
Kau bercerita semalam kita bertemu dalam mimpi,
Entah mengapa aku merasakan hadirmu di sini..
Tawa candamu menghibur saatku sendiri..

Aku di sini dan kau di sana..
Hanya berjumpa via suara,
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa..

Meski kau kini jauh di sana,
Kita memandang langit yang sama,
Jauh di mata namun dekat di hati.. 

Dering teleponku membuatku tersenyum di pagi hari...
Tawa candamu menghibur saatku sendiri.. ooh

Aku di sini dan kau di sana..
Hanya berjumpa via suara..
Namun 'ku s'lalu menunggu saat kita akan berjumpa..

Meski kau kini jauh di sana,
Kita memandang langit yang sama,
Jauh di mata namun dekat di hati..

Aku di sini dan kau di sana,
Hanya berjumpa via suara,
Namun 'ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa..

Meski kau kini jauh di sana,
Kita memandang langit yang sama,
Jauh di mata namun kau dekat di hati..

Jarak dan waktu takkan berarti,
Karena kau akan selalu di hati,
Bagai detak jantung yang kubawa kemanapun ku pergi...

Meski kau kini jauh di sana,
Kita memandang langit yang sama,
Jauh di mata namun dekat di hati...
dekat di hati..
 dekat di hati.. 

Monday, November 10, 2014

27 Nasihat Suci Buddha Chi Kung


1. Seluruh kehidupan telah diatur oleh penguasa. Apakah yang mau dimohon?
2. Hari ini tidak tahu masalah esok. Apakah yang mau dikhawatirkan?
3. Kalaulah tidak menghormati orang tua, lalu mengormati junjungan dunia. 
    Apakah arti penghormatan itu?
4. Kakak adik adalah bersaudara. Apakah yang perlu diperebutkan?
5. Anak cucu punya rezeki masing-masing. Apakah yang perlu diperebutkan?
6. Kalau belum mendapat keberuntungan. Apalah yang perlu dipaksakan?
7. Di dunia ini sulit menemukan kebahagiaan. Mengapa harus sedih?
8. Berpakaianlah yang sederhana dan sopan. Apakah yang mau dipamerkan?
9. Bagaimanapun lezatnya makanan, hanyalah sebatas lidah. Mengapa harus rakus?
10. Setelah meninggal dunia tidak ada satu sen-pun yang dibawa. Mengapa harus pelit?
11. Senior membajak, junior memetik. Apakah yang mau diperebutkan?
12. Di satu sisi mendapatkan, di sisi lain kehilangan. Mengapa harus serakah?
13. Tiga jengkal di atas kepala ada dewa. Mengapa harus mengelabui?
14. Kedudukan, kekayaan, kemuliaan bagaikan mekarnya bunga. Apakah yang mau diangkuhkan?
15. Kekayaan dan kemuliaan orang telah dirintis sebelumnya. Mengapa harus iri?
16. Kehidupan lalu tidak membina, sekarang menderita. Mengapa harus mengeluh?
17. Orang berjudi tidak akan ada hasil yang baik. Apakah yang mau dipermainkan?
18. Membina rumah tangga dengan rajin dan hemat melebihi memohon bantuan orang lain. 
      Apakah yang mau diboroskan?
19. Kalau saling membalas dendam, kapankah akan berakhir? Mengapa harus bermusuhan?
20. Masalah dunia bagaikan bermain catur. Apakah yang mau diperhitungkan?
21. Orang pintar adakalanya disesatkan oleh kepintarannya. Mengapa harus licik?
22. Berdusta akan mengikis habis rejeki seumur hidup. Mengapa harus berdusta?
23. Segala kesalahpahaman akhirnya akan jernih juga. Apakah yang mau diperdebatkan?
24. Tiada seorangpun juga yang dapat bebas dari masalah. Mengapa harus saling menyalahkan?
25. Goa nurani di dalam hati manusia, bukan di gunung. Apakah yang mau dicari?
26. Menipu orang adalah petaka, memaklumi orang adalah berkah. Apakah yang mau diramalkan?
27. Sekali ajal menjemput segalanya akan berakhir. Apakah yang terus disibukkan?

Seseorang tidak bisa disebut sebagai orang bijaksana, hanya dikarenakan ia banyak berbicara. Akan tetapi, Orang yang terbebas dari kebencian dan ketakutan, juga tidak melekat pada apapun serta penuh damai, barulah pantas disebut sebagai orang yang bijaksana.

Sumber : Kebajikan ( De εΎ· )