Friday, January 27, 2017

KISAH UDIN KURIAK

Kisah ini dipopulerkan dan juga berasal dari daerah Sumatera Barat, Padang. Kemudian diterjemahkan kembali dari bahasa aslinya yakni Bahasa Minang (Padang) menjadi Bahasa Indonesia.

Pada zaman dahulu kala, di sebuah kampung pedalaman, alkisah tentang seorang pemuda yang bernama Udin Kuriak, sebutan nama Kuriak itu dikarenakan dia memiliki seekor ayam jantan yang tidak berbulu dari leher sampai ke kepala hanya tumbuh bercak-bercak di kulitnya, yang disebut Kuriak, oleh karenanya kesukaan Udin sejak kecil memelihara ayam itu, sehingga orang-orang kampung menyebutnya Udin Kuriak.

Semua yang melihat Udin Kuriak sehari-hari hanya sibuk mengurusi dan bermain dengan ayamnya itu hanya mencibir dan menghina padanya, karena ayam itu selain buruk dilihat juga tidak akan laku dijual di pasar, paling-paling hanya disembelih untuk dimakan sendiri.

Udin merasa kesal dan marah karena ulah cemoohan dan penghinaan dari teman-teman dan orang-orang sekampungnya. Mendengar kesedihannya, Ibunda Udin pun merasa iba kepada anaknya, dia pun memberikan ide cemerlang, agar Udin membawa ayam jantan kesayangannya itu ke kampung seberang yang bernama kampung “Mandiangin”, dimana terdengar dari berita gossip para pedagang keliling kampung menceritakan bahwa penduduk di kampung itu banyak para pehobi adu ayam, sehingga sering sekali diadakan lomba adu ayam, mungkin ayam kuriak itu dapat merubah nasibnya Udin.

Akhirnya, Udin pun pergi bersama ayamnya ke kampung seberang, dilihatnya banyak penduduk di sana yang merayunya agar mengadu ayamnya untuk mendapat banyak uang. Karena Udin tidak punya uang, dia pun akhirnya merelakan ayamnya untuk ikut lomba adu ayam. Ternyata yang menjadi lawannya adalah ayam jantan keturunan arab bertubuh besar, kekar  dan berbulu indah milik Pa Datuk, orang paling berkuasa dan terhormat di kampung “Mandiangin”. Udin pun merasa gugup dan takut, dalam hatinya pun meragukan kemenangan ayam kuriak miliknya yang kurus kering dan buruk rupa itu.

Tak disangka-sangka, ternyata ayam si Udin mampu mengalahkan ayam milik Pa Datuk, dengan tangkasnya, taji ayam si Udin dan kuku tajamnya langsung mencakar tepat mengenai kepala ayam arab itu, dengan seketika ayam Pa Datuk itu pun langsung tewas mengeluarkan banyak darah di kepala dan lehernya. Betapa bahagianya Udin melihat keahlian ayam jantan miliknya itu keluar menjadi pemenang lomba, dia pun langsung bergegas meminta hadiah uang taruhannya. Namun ternyata bukan uang yang diperolehnya, tapi caci maki permintaan ganti rugi akibat semua ayam pesaingnya mati dibunuh ayam si Udin. Mereka pun mengeroyok Udin dan merampas paksa ayam kesayangannya itu.

Baru saja dipegang ayam itu langsung mencakar mata orang yang berniat menangkapnya, karena kesakitan akhirnya ayam si Udin itu langsung dilepaskan lagi. Akibat ulah ayam si Udin membuat warga dan para pengawal Pa Datuk geram dan langsung mengeroyok Udin. Dengan sebisa mungkin Udin berusaha mengelak dari pukulan-pukulan maut keroyokan warga, untunglah datang anak perempuan dari Pa Datuk yang melihat kejadian itu, dia langsung menahan warga agar berhenti memukuli si Udin.

Tidak lama kemudian, datanglah Pa Datuk, orang paling terkaya, berkuasa dan terhormat di kampung itu. Dia juga pemilik ayam arab yang kalah mati oleh ayam si Udin. Melihat ayam kesayangannya tewas, Pa Datuk tidak terima kekalahannya, bukan memberikan hadiah, malah langsung menghukum si Udin. Sebagai hukumannya, Udin dibawa ke pinggir sungai untuk mengangkat satu persatu batu dari sungai, yang lalu ditumpuk untuk pembangunan jembatan hingga setinggi enam (6) meter. Titah Pa Datuk harus dilaksanakan dengan todongan senjata para pengawalnya. Bila Udin berhasil menyelesaikan hukumannya, barulah Udin diizinkan pergi dari kampung itu.

Ternyata menghukum Udin, belum membuat Pa Datuk puas dengan kemarahannya. Pa Datuk meminta seluruh pengawal dan warga di kampung agar mencari dan menangkap ayam milik si Udin. Pertama-tama, ayam milik si Udin ditemukan di areal taman bunga, dilihat ayam itu sedang berada di antara tanaman bunga mawar. Tanpa berpikir panjang, mereka langsung mengepung dan menangkap ayam itu, tapi sial ternyata belum tangan mereka sampai meraihnya, ayam si Udin langsung terbang kabur. Warga yang mengepung malah kesakitan karena mukanya habis terkena duri-duri bunga mawar.

Tengah hari pun tiba saat Pa Datuk sedang asik bersantap siang, tidak disangka ayam si Udin sedang bertengger di atas lemari dapur rumah Pa Datuk. Kebetulan salah seorang pengawalnya masuk ke dalam rumah Pa Datuk, langsung diperintahkan olehnya agar menangkap ayam sialan itu. Belum juga tertangkap, ayam itu sudah terbang melompat ke meja makan, menginjak-injak lauk-pauk, gulai berkuah pedas dan sebagian kuah pedasnya diciprat-cipratkan kakinya ke muka Pa Datuk yang sedang asik makan itu langsung berteriak menjerit kesakitan akibat matanya perih terkena kuah cabe pedas.

Ayam sialan itu tidak terbang jauh, malah sengaja berdiri di jendela dapur rumah Pa Datuk. Di sangka jinak karena si ayam mungkin sudah lelah seharian, pengawal Pa Datuk perlahan-lahan dengan hati-hati tak bersuara, langsung secepat kilat melompat ke jendela, ingin menangkap ayam si Udin. Alhasil bukan ayam yang tertangkap, malah si pengawal terperosok jatuh ke luar dari jendela rumah gadang Pa Datuk, terjungkir ke luar halaman rumah, akibat tubuhnya terlalu berat, jendela dan pintu pun rusak hancur.

Pa Datuk marah sambil ke luar rumah melihat kerusakan yang terjadi dan si pengawal semakin jengkel akibat ulah ayam sialan itu. Tanpa habis pikir, Pa Datuk memerintahkan agar menembak mati ayam sialan itu, semua pengawal berkumpul membidik ayam sialan itu dengan senapan angin pistol panjang milik mereka. Beberapa tembakan diluncurkan, si ayam sialan itu melompat-lompat ke sana kemari, tak satupun peluru mengenai si ayam, malah sebuah peluru menyasar langsung mengenai kuping Pa Datuk.

Lagi-lagi Pa Datuk marah, dicarinya siapa yang menembak kupingnya, ternyata salah satu pengawalnya belum mahir memegang senapan, baru belajar menembak, belum sempat membidik ayam, senapan itu sudah meletus melesat ke kuping Pa Datuk. Bukan pujian yang didapat para pengawalnya, malah caci maki disertai lemparan sepatu sandal dari Pa Datuk.
  
Kekesalan para pengawal Pa Datuk belum berakhir, mereka mencari terus ayam si Udin. Dilihat warga ternyata sedang bertengger duduk di bambu kecil, tempat menimba air dan mencuci pakaian warga. Diambilnya potongan kayu besar untuk memukul ayam sialan itu, dengan sekuat tenaga dipukulnya ke arah ayam sialan itu, bukan ayam yang kena pukul malah bambu itu rapuh terbelah dua dan potongannya yang patah menghantam jidat mengenai kepalanya.

Melihat nasib si Udin, anak perempuan Pa Datuk merasa iba dan kasihan, namun tidak mampu berbuat apa-apa untuk menolong si Udin. Sering kali anak perempuan Pa Datuk datang membawa makanan untuk si Udin, namun para pengawalnya malah ikutan menghabiskan makanannya. Hingga suatu ketika, Pa Datuk melihat ulah anak perempuannya itu, disuruhnya agar cepat pulang ke rumah, karena Pa Datuk diundang Bapak Kepala Residen Kota untuk acara perjamuan makan bersama, sebagai acara syukuran tahunan. Undangan kehormatan itu sangatlah penting bagi Pa Datuk, tidak boleh terlewatkan. Dipilihnya dan diambilnya Pakaian termahal dan terbagus milik Pa Datuk untuk dipersiapkan oleh anak perempuannya.

Setelah selesai dicuci dan dirapihkan oleh anak perempuannya, pakaian Pa Datuk disiapkan dan ditaruh di dalam dinding ruangan keluarga. Setelah keesokan sore harinya, biasa Pa Datuk selesai mandi dan berganti pakain bersiap berangkat ke acara Undangan. Saat tengah mengenakan pakain kebesarannya itu, seolah-olah Pa Datuk mencium seuatu yang tidak asing baginya, bau kotoran ayam yang sangat menyengat, dicarinya di pakaian itu, tidak sengaja terasa basah di tangannya saat mencoba merogoh-rogoh saku bajunya, ditemukanlah kotoran ayam itu. Dengan kesalnya, Pa Datuk langsung membuang dan melemparkan pakaian satu-satunya yang paling mewah itu ke lantai.

Baru saja beranjak dari ruangan, tidak tahunya terlihat ayam si Udin sedang bersembunyi di bawah meja tamu rumahnya. Pa Datuk diam-diam merangkak ke bawah meja ingin menangkap ayam sialan itu perlahan-lahan dari belakangnya. Belum menyentuh ekornya, ayam itu sudah lari sambil lalu memberaki muka Pa Datuk dengan kotoran baunya.

Makin marahlah hati Pa Datuk, ingin hati mencekik dan memelintir leher ayam sialan itu untuk disembelihnya lalu dijadikan lauk. Diikutinya ayam itu lari ke sebuah lorong kecil yang menuju ke arah dapur kotor di belakang rumahnya, karena sudah menjelang magrib, suasana hari sudah semakin gelap. Pa Datuk yang berlari mengejar ayam itu malah bertubrukan dengan salah seorang pengawalnya yang melewati lorong yang sama. Sialnya lagi, Pa Datuk mencium aroma rendang daging di mulut si pengawal, lantas dicaci-makilah si pengawal karena Pa Datuk curiga si pengawal diam-diam mencuri makanan rendang daging kesukaannya.

Hampir lewat seminggu lamanya, Pa Datuk penasaran ingin melihat hasil kerja si Udin di sungai. Dugaannya benar, si Udin sudah menyelesaikan tumpukan batu setinggi enam (6) meter yang telah menjadi hukumannya. Pa Datuk pun harus menepati janjinya untuk membebaskan dan mengizinkan si Udin keluar dari kampungnya.
Belum sempat berbicara dengan si Udin, para pengawal Pa Datuk berteriak-teriak melihat ayam sialan milik si Udin sedang berada di atas tumpukan batu dan kelihatan seperti sedang terjepit, tidak mampu terbang lagi di antara tumpukan bebatuan itu. Disuruhnya semua pengawalnya itu, untuk naik dan menangkap ayam sialan itu, tetapi semua pengawalnya kali ini hanya menggelengkan kepala, menolak dan berdiam diri saja, karena merasa takut terjatuh melihat sangat tinggi tumpukan bebatuan itu.

Terpaksa Pa Datuk sendiri memanjat ke bebatuan itu dengan amarah kebenciannya yang memuncak pada si ayam itu membuatnya tidak perduli lagi akan keselamatan jiwanya. Tanpa berpikir panjang, belum juga sampai menyentuh ayam kuriak itu, batu-batu yang dipijaknya ternyata tidak seimbang karena berat tubuh Pa Datuk yang tambun, batu-batu itu pun berjatuhan, membuat Pa Datuk kehilangan kesimbangan terjatuh terjungkal dan tertimpa batu-batuan yang jumlahnya tak terhingga itu. Si Udin dan para pengawal yang melihat kejadian itu langsung berlari menghindar menyelamatkan diri dari reruntuhan batu setinggi enam (6) meter yang berguling-guling dan berjatuhan kemana-mana. Pa Datuk pun tewas seketika karena tertindih ratusan batu yang berjatuhan ke tubuhnya.

Habis sudah pikir si Udin yang telah kehilangan semuanya, di saat sedih itu ternyata tiba-tiba muncul ayam si Udin menghampirinya, yang dikiranya sudah mati ikut tertindih tumpukan batu. Dibawanya ayam itu pergi berjalan keluar kampung, tapi di tengah-tengah perjalanannya pergi keluar kampung, si Udin dicegah oleh anak perempuannya Pa Datuk, dia memberikan sebuah bingkisan untuk dibawa sebagai bekal perjalanan untuk si Udin, sekaligus permohonan maaf dari anak perempuannya atas kekhilafan dan perlakuan buruk ayahnya yang telah meninggal.

Sesampainya pulang di kampung kelahirannya, biasa semua teman-temannya kembali mengejek dan mencemoohnya, prihal hasil yang diperoleh si Udin selama beradu ayam di kampung seberang. Kemarahannya memuncak, si Udin pun mengingat kembali penderitaannya selama menumpuk batu di sungai akibat ulah si ayam yang tidak memberikannya hasil menguntungkan malah penderitaan baginya. Langsung diambilnya pisau, diasahnya untuk menyembelih si ayam sialan itu. Baru saja berniat untuk menyembelih ayam sialan itu, tiba-tiba temannya berteriak memanggil-manggil si Udin secepatnya, untuk melihat bingkisan yang dibawa oleh si Udin. Ternyata bukan makanan yang dibingkiskan, melainkan batangan emas yang berlimpah dari pemberian anak perempuan Pa Datuk kepadanya. Dengan senang berbahagia si Udin pun mengurungkan niatnya menyembelih si ayam kuriak itu, malah kembali menyayanginya karena kini si Udin telah menjadi orang paling terkaya di kampung kelahirannya. TAMAT.

Written by : Tn. Asri Agus (Komikus)
Editor Terjemahan Bhs. Indonesia : Kepik Romantis / PVA
Sumber Photo : 4.bp.blogspot.com ; img.youtube.com

Wednesday, January 18, 2017

Leafie, A Hen Into the Wild (2011)


Film ini bertema kekeluargaan dan kasih sayang. Kisah seekor ayam negeri betina yang berharap dapat merasakan hidup bebas seperti layaknya ayam-ayam kampung lainnya dan hewan-hewan lainnya seperti salah satu temannya si burung pipit. Kehidupan Leafie, sebagai ayam betina ras negeri, terkurung dalam kandang kecil di peternakan ayam milik manusia. Setiap hari hanya makan sebanyak-banyaknya yang telah disediakan peternak, agar cepat bertelur. Hasil telur-telur negeri itu dikumpulkan, dikonsumsi dan dijual oleh si manusia pemilik peternakan. 

Leafie, merasa bosan, jenuh, ingin kebebasan, ingin merasakan bagaimana hidup bebas, mencari makan sendiri, memiliki telur untuk dierami, dipelihara menjadi anaknya sendiri sampai menetas, dapat melihat langit dan pemandangan indah dunia luar. Keinginan Leafie ini terus dilarang oleh temannya, si burung pipit, karena sebagai ayam ternak, tidak akan mampu keluar dari kandang, selain itu hidup di alam liar jauh lebih beresiko dan berbahaya mengancam hidup seekor ayam muda seperti Leafie. Namun tekad Leafie tetap kuat, niatnya tertuju saat melihat ayam-ayam mati yang dikeluarkan dari kandang oleh si peternak. Maka Leafie pun berpuasa selama tiga hari, tidak ingin makan sedikitpun, agar berharap dapat pingsan dan berpura-pura mati, sehingga si peternak akan mengambilnya untuk dibuang bersama ayam-ayam mati lainnya.

Leafie berhasil mengelabui si peternak, dia pun bebas, tapi siapa sangka ternyata musang bermata satu sudah mengincar tempat bangkai ayam-ayam mati untuk mengisi perutnya yang lapar. Leafie yang baru saja menghirup udara bebas, sudah dikejutkan kedatangan si musang yang lapar, langsung ingin menggigitnya. Syukurlah ada suara keras yang berteriak agar Leafie berhati-hati, waspada untuk menghindari si musang. Suara misterius itu berasal dari si Bebek Jantan berjambul hijau yang berusaha menyelamatkan Leafie. Untunglah Leafie selamat dan kagum pada kepahlawanan si Bebek Jantan, yang disebutnya si Pengembara.

Bahagianya Leafie ternyata tidak dapat membuatnya memperoleh teman untuk mendapatkan tempat tinggal bersama kawanan ayam-ayam kampung dan bebek di peternakan itu. Leafie malah diusir, ditendang keluar oleh mereka, dihina sebagai ayam gila yang kabur dari peternakan. Sedih menyelimuti hati Leafie  yang kesepian tanpa teman. Tapi Leafie tidak putus asa, dia pun berjalan terus keluar peternakan karena dia tidak menyesal dan merasa pantas memperoleh kebebasannya sendiri. 

Setelah berjalan-jalan, bertemulah dia dengan si berang-berang yang menyebut dirinya si walikota sibuk. Leafie pun diterima dan dibantu oleh teman barunya itu, si berang-berang untuk memperoleh tempat tinggal baru yaitu di kebun bunga semak mawar. Wanginya bunga mawar dalap menghindari penciuman hidung si musang mata satu. Ternyata tidak jauh dari lokasinya, juga tinggal si Bebek Jantan atau si Bebek Pengembara, yg disukainya. Tapi sayang, rasa suka Leafie pupuslah sudah karena dia baru menyadari dirinya sebagai ayam yang bodoh malah kagum menyukai seekor Bebek, dan si Bebek Jantan itu pun telah memiliki pasangan Bebek Betina yg sangat cantik putih, hubungan mereka telah sangat serius dan juga meminta si berang-berang mencarikan rumah bagi mereka berdua. 

Tinggallah Leafie seorang ayam sendiri dalam sepi dan rasa bosan tanpa memiliki pasangan maupun kawan di tempat tinggalnya yang baru. Tapi ketika suatu malam, si Bebek berteriak-teriak mengejar si musang mata satu, yang tengah menggigit leher istrinyah. Apalah daya ternyata si Bebek tidak mampu mengejarnya, terlalu cepat dan sangat tinggi, musang berlari ke atas bukit bebatuan, tak mampu diraihnya akibat sayapnya yang sebelah telah patah.
Leafie yang ingin tau, datang mengintip ke dalam rumah si Bebek. Dilihatnya ada tempat mengeram telur milik istrinya si Bebek Jantan, dan terkagetlah dilihatnya ada telur yang masih hangat baru saja dierami oleh ibunya yang telah mati disantap si musang mata satu. Tadinya Leafie ingin pergi dari situ, tetapi melihat keadaan yang terjadi pada si Bebek Jantan, dia pun tidak tega, dan ingin mencoba melindungi telurnya dan memeliharanya sebagai anaknya sendiri.

Si Bebek Pengembara pun menyadari waktunya semakin dekat anaknya akan segera menetas. Si Bebek meminta Leafie untuk membawa anaknya ke Hutan Liar bagian Timur setelah anaknya nanti menetas di saat bulan purnama. Di saat bulan purnama itu, musang akan sangat kelaparan untuk mencari mangsa. Leafie tidak tau bahwa si Pengembara akan menghadapi si musang sendirian, hingga akhirnya si Pengembara pun tewas tidak mampu menghadapi si musang. Tujuannya hanya agar Leafie dan anaknya selamat, si Bebek pun mengorbankan dirinya. Leafie hanya dapat menangis sedih, sambil memeluk si anak bebek yang yatim piatu, dan baru saja lahir dan memanggilnya "mama / ibu". Leafie pun bergegas membawa si anak bebek berjalan menuju hutan liar sebelah timur, seperti titahnya mendiang ayah si anak bebek. 

Sesampainya di hutan sebelah timur, Leafie pun tinggal bersama si anak bebek, yang kini disebut si Kepala Hijau. Meskipun semua teman-teman Leafie dan warga hutan itu mencibir, menghina dan mengolok-olok Leafie sebagai ayam betina gila, ayam tidak tahu diri, ayam yang tidak waras karena hidup sendiri dan memelihara anak bebek, yang dianggap melanggar kodratnya sebagai ayam ternak malah hidup keliaran dan menyukai bebek, tapi Leafie tidak peduli, yang dia pikirkan hanyalah tanggung jawabnya untuk menjaga, melindungi dan memelihara si Kepala Hijau sampai dengan remaja dan beranjak dewasa.

Hingga suatu ketika, tanpa disengaja, si Kepala Hijau mengetahui bahwa Leafie bukanlah ibu kandungnya, karena Leafie hanyalah ayam ternak, sedangkan dirinya adalah seekor bebek jantan yang bisa berenang dengan kaki dan paruh yang berbeda, bahkan dapat terbang seperti bebek / angsa lainnya. Anaknya Leafie pun mulai berubah, masa remaja dengan segala keingintahuannya, mulai melawan dari ibu dan pergi meninggalkan ibunya sendirian. Hingga suatu ketika, si Kepala Hijau pun dibawa sekumpulan bebek peternakan, untuk menjebaknya agar dapat dijadikan bahan santapan tuannya. Untunglah si burung pipit melihat dan memberitahukan secepatnya kepada Leafie bahwa anaknya dalam bahaya.

Bersama burung pipit, berang-berang, dan Leafie pun bergegas berlari secepat mungkin untuk menyelamatkan anaknya, sebelum terlambat karena si manusia peternak akan memotong kedua sayap anaknya itu. Berkat kerjasama para sahabat Leafie, si Kepala Hijau pun selamat dari marabahaya. Tapi menjadi pelajaran berharga bagi si anak nakal. 

Waktu cepat berlalu, tibalah datang waktunya segerombolan bebek-bebek hijrah yang datang ke hutan timur untuk menetap sementara selama menjelang musim gugur ke musim dingin. Leafie sadar, saat-saat ini dia harus mulai melepaskan si anak untuk dapat kumpul diterima oleh ras kawanan anaknya, sesama bebek. Leafie setiap malam berusaha hingga patuknya terluka, demi memutus tali jerat manusia yg panjang, telah membuat si anak dipermalukan oleh kawanan bebek lainnya. Si Kepala Hijau pun menangis dan menyadari betapa seekor ayam seperti Leafie begitu sayang padanya bagai kasih seorang ibu kandungnya sendiri.

Kontes Penerbangan Bebek pun telah tiba, bagi pemenangannya sebagai bebek tercepat, akan menjadi Bebek Penjaga terbaru, yang akan melindungi para komunitas bebek. Leafie pun merestui dan mendoakan si Kepala Hijau agar mengikuti Kontes/Lomba tersebut agar kelak dapat menjadi Bebek Penjaga seperti ayahnya dulu, sekaligus agar anaknya itu dapat membuktikan dirinya sendiri mampu berhasil menjadi juara dan diterima di dalam komunitasnya sendiri sesama bebek.

Si Kepala Hijau pun telah berhasil membuat Leafie bangga sebagai ibunya, meskipun seekor ayam, namun dapat menjadikan anak asuhannya itu menjadi seorang Juara, diantara para kawanan bebek lainnya. Leafie menyadari dirinya sudah tidak kuat lagi, sudah mulai menua karena usia dan sakit-sakitan. Pastilah kelak akan mati juga, mungkin ini sudah waktunya pikir Leafie untuk saat-saat perpisahan dengan anaknya.

Tidak lama lagi, kawanan komunitas bebek terbang akan pergi bermigrasi ke tempat lain. Pemimpin Bebek mengingatkan si Kepala Hijau agar tidak kabur meninggalkan tugas dan tanggung jawabnya. Si Kepala Hijau meminta waktu sejenak untuk berpamitan dengan keluarga di hutan timur ini, khususnya kepada si Berang-berang dan Leafie. Dicarinya ibunya kemana-mana, ternyata Leafie malah masuk ke kandang musang, yang dilihatnya dalam bahaya. Leafie, si ayam bodoh dan tua, tidak menyadarinya, karena merasa kasihan pada anak-anak bayi si musang yang kedinginan dan kelaparan, lag-lagi naluri keibuan Leafie ingin menjaga apa bayi musang itu. Si Musang mata satu pun tiba, langsung menangkap si Kepala Hijau yang ingin dimakannya karena kelaparan untuk menyusui anak-anak bayinya. Leafie pun marah, mengancam akan membunuh bayinya bila anaknya tidak dilepaskan oleh si musang. Akhirnya Musang mata satu itu pun berjanji melepaskan anaknya, si Kepala Hijau. 

Si Kepala Hijau pun selamat dan berpamitan pada Leafie (ibu asuhnya), sebelum dia pergi berangkat bersama kawanan bebek lainnya. Setelah Si Kepala Hijau pergi jauh, Leafie menyadari dirinya sudah tua dan sakit menjelang ajalnya. Ternyata dibelakangnya ada si Musang Mata Satu yang telah kelaparan mengintip Leafie. Dengan pasrah Leafie pun rela dan meminta si Musang membunuhnya, karena Leafie sadar dengan mengorbankan dirinya, mungkin dapat berguna agar dapat menyelamatkan nyawa bayi-bayi si musang yang butuh air susu ibunya, bila kelaparan si musang tidak akan mampu menyusui anak-anaknya. Si Musang mata satu pun insaf dan menangis sedih, menunggu setelah Leafie mati, barulah si Musang menyantapnya dengan perasaan sedih, bersalah dan terpaksa demi bayi-bayinya.   
          
Pesan dari Kisah Leafie ini adalah kasih sayang yang tulus ikhlas itu tidak harus terjalin hanya karena sesama ras, suku, ataupun sesama agama saja, Tetapi dari perbedaan pun dapat terjalin kasih sayang, dan dendam amarah pun dapat dimaafkan dengan kelembutan kasih sayang serta pengertian kesadaran bahwa di alam dunia ini, semua saling ketergantungan karena hukum karma itu mutlak adanya. Di Korea, Ayam betina ini disebut Leafie. Tetapi dalam saduran versi Bhs.Inggris, si Ayam betina ini menjadi bernama Daisy.

Sumbet Photo : wikipedia ; youTube ; hancinema.net ; shescribes.com

Written by : Kepik Romantis / PVA