Saturday, April 25, 2020

Senandung Relung Batin


Menatap lautan luas tak bertepi,
Menyapa kesedihan suasana hati,
Seolah suara alam menyapa batin semua makhluk di dunia ini,
Memperhatikan setiap langkah kaki menapaki kehidupan ini.
Untaian doa meluluhkan air mata,
Sekejap tertiup angin nestapa...
Nelangsa dalam raga dan sukma,
Melepas dalam hembusan legawa...
Menarik nafas dengan menyebut kebesaran KuasaNya,
Terimalah sujud, doa dan ampunan hamba...
Semoga semua makhluk senantiasa selamat dan berbahagia.

250420 Written by : Kepik Romantis / PVA 

Meditasi Tong Len "Terima Kasih" - Chapter 9 -

Sudah beberapa pekan ini pikiranku terhenti untuk sesaat. Aku tak bisa berpikir apapun tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia ini. Rutinitasku hanyalah rutinitas biasa, begitu-begitu saja. Namun batinku terus mencari sebuah tempat kedamaian. Dimana aku bisa menjadi bermanfaat, disitulah rumah kedamaianku.

Ada sesuatu yang harus dilakukan dengan batinku, maka pikiranku dihentikan untuk sesaat. Ada suatu energi besar yang datang menantiku, maka pikiranku dikosongkan dari segala ego dan keinginan duniawi sesaat.

Aku tahu bahwa energi ini datang bukan untuk kusimpan seorang diri. Ia datang untuk aku persembahkan kembali pada Hyang Agung, Bapa Yang Maha Sempurna. Biar Dialah yang mengolahNya menjadi kepentingan semua makhluk di semua alam menderita. Sebab, aku hanyalah manusia biasa yang masih jauh dari sempurna.

Aku hanya berjalan mengikuti aliran air yang ada. Berhenti ketika alirannya terhenti oleh karena batu yang menghalangi alirannya. Lalu berjalan kembali saat airnya mampu melubangi batu itu sehingga airnya dapat mengalir kembali. Begitulah sederhananya jalanku.

"Gregorious, Malaikat Pelindungku yang baik, sebenarnya ada apakah sehingga batinku terus mencari tempat kedamaian ini?" tanyaku pada Malaikat Pelindungku.

Gre hanya tersenyum. "Nanti akan ada saatnya," seperti itu jawabnya.

Sudah beberapa hari ini aku meminta petunjuk kepada kedua Malaikat Pelindungku, Gregorious dan Archangel Zamael. Tapi tak kunjung ada jawabannya. Mereka mendiamkanku. Mereka membuatku mencari tahu jalanku sendiri. Namun mereka selalu mengawasiku.

Ketika bertanya pada Archangel Zamael. Tak sepatah kata keluar dari bibirnya.

Hanya saja, pernah suatu malam ia menghampiri kamarku. Dia mendekat kepadaku, seolah dia mengenalku sangat baik. Dia begitu hangatnya membelai pipiku, seolah mengucapkan "semua akan baik-baik saja." Hanya itu. Sekali saja.

Keberadaannya agak jauh dariku. Dia belum bisa terlalu dekat denganku, seperti Gre. Karena jiwa dan ragaku belum bisa menerima energi kegelapan yang dia miliki. Dan aku harus terus memurnikan diriku, lagi...dan lagi, katanya.

Meski aku memiliki kedua sayap malaikatku ketika samadhi mendalam, namun realitas sesungguhnya aku hanyalah seorang pejalan. Aku tak mampu terbang maupun berlari cepat dalam pembelajaran spiritualku.

Bapa menyuruhku berjalan...dan berjalan. Agar aku dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang manusia biasa yang berdampingan dengan penderitaan dunia ini.

Belakangan ini cuaca dan alam sangat ekstrim menghantam, ditambah carut marutnya negeri oleh sebab politik. Manusia diliputi oleh kengerian, dan ketakutan akan tragedi puluhan tahun silam. Ditambah alam sedang tidak bersahabat. Dimana-mana sering terjadi bencana dan erupsi gunung. Membuat cuaca sedemikian panasnya.

Siang itu, aku hanya seorang diri. Ayah dan Bundaku sedang pergi menginap ke luar kota untuk menghadiri suatu pertemuan rekan bisnisnya.

Cuaca demikian panasnya hingga membuatku terus-terusan meminum es kopi susu espresso double shot di sofa ruang tamuku.

Aku terus memperhatikan bunga mawar merah yang cukup segar di dalam pot bungaku. Aku mendapatkan bunga mawar ini secara tiba-tiba ketika aku tertidur semalam.

Tiba-tiba Zamael menghampiriku dan duduk di sebelahku. Kami berbincang-bincang.

"Selamat siang, Cherry," sapanya sambil menundukkan kepalanya penuh hormat seperti biasanya. Dia mengenakan jirah perangnya dengan lengkap seperti biasanya.

"Hai, Zamael. Sudah lama tidak bertemu," sahutku tersenyum.

"Apa kau merindukanku?" tanyanya tiba-tiba.

Membuat kata-kataku tersedak di kerongkonganku sendiri. Percaya diri sekali dia ya. Aku membatin. Ah, tidak apalah. Biarpun begitu, dia cukup menghibur buatku. "Emm...tidak. Tidak rindu," jawabku berbohong.

"Benarkah? Aku bisa membaca pikiranmu, Cherry," katanya sambil merebahkan badannya pada sandaran sofa di sampingku.

Benar-benar menjengkelkannya dia, sekaligus menggemaskan...aku membatin. Jika dia seorang manusia pria, mungkin dia berbakat menjadi seorang playboy ulung.

"Oh ya, bunga mawar yang bagus," celetuknya tiba-tiba.

"Ah iya. Aku tidak tahu bunga mawar ini dari mana. Tiba-tiba saja sudah ada dalam genggaman tanganku ketika aku terbangun dari tidurku pagi tadi."

"Bunga mawar itu pemberian dari Tuanku, Cherry," jawab Gregorious sambil menundukkan kepalanya menghormati Tuannya, Archangel Zamael.

Aku pun tersentak. Aneh bagiku. Baru saja kenal, tapi sudah memberikanku sekuntum bunga mawar yang indah ini. Apa maksudnya? Menyebalkan, sekaligus menyenangkan juga sih...pikirku.

"Apa kau suka bunga mawar pemberian dariku itu?" tanya Zamael acuh tak acuh.
"Iya...aku suka...bunga mawarnya," jawabku terbata-bata karena agak gugup. "Terima kasih ya."

Tiba-tiba dia membangunkan badannya dan menatapku dari dekat. Jemari tangan kirinya menyentuh daguku. Aku dapat melihat jelas zirah penutup wajahnya itu. Aku masih penasaran, makhluk macam apakah yang ada di balik jirah penutup wajahnya itu. Aku membatin.

"Simpan bunga mawarnya sebagai kenang-kenangan dariku," jawabnya. "Tugasmu sudah dimulai. Bersiaplah, Cherry," bisiknya di samping telinga kananku.

"Apa? Tugas? Aku tak mengerti..." tanyaku sembari mengernyitkan dahiku.

"Coba kau lihat berita hari ini," suruhnya.

Aku bergegas menyalakan televisi di depanku dengan sebuah remote.

Aku menonton berita tentang penangkapan para tindak pelaku kriminal oleh Kapolri. Menurut berita tersebut, masih akan terus terjadi banyak tindakan kriminalitas di saat-saat seperti ini.

Aku pun melihat broadcast isu kekacauan negeri yang beredar dalam pesan-pesan di dalam selulerku. Dan beberapa sahabat yang menanyakanku dalam pesan apakah negeri akan rusuh seperti dulu atau tidaknya. Mereka hidup dalam ketakutan kini.

Batinku bergejolak oleh rasa belas kasihan terhadap para pelaku kriminal itu, dan juga terhadap para sahabat yang dilanda ketakutan dan kekhawatiran belakangan ini.

"Kau paham kan apa yang harus kau lakukan, Cherry?" tanya Zamael kepadaku.

"Iya. Aku mengerti," jawabku.

"Lakukanlah..." Zamael seakan memerintahkanku.

Aku berjalan ke arah ruang doa pribadiku yang ada di lantai satu itu. Lalu aku menyalakan kedua lilin pada altar suciku. Tak lupa menyalakan minyak dupa khas cendana kesukaanku. Sehingga membuat seluruh ruanganku menjadi harum. Biarlah semuanya itu menjadi persembahan terbaikku kepada Bapa.

Aku duduk bersila di atas bantal samadhiku. Hendak melakukan samadhi mendalam. Namun aku teringat sesuatu,

"Oh ya Zamael. Mengapa kau memberikan bunga mawar itu untukku?" tanyaku menatapnya.

Dia terdiam sejenak. "Sebagai penyemangat tugasmu," jawabnya.

Aku menutupkan mataku perlahan dan bernafas sebagaimana adanya, "Terima kasih, Zamael..."

"Ya. Oh ya, hanya mengingatkan...kafein tidak baik untuk batin dan tubuhmu beberapa waktu ini. Kurangi atau tidak sama sekali," nasehatnya padaku.

"Terima kasih, Zamael," jawabku membatin sambil tersenyum padanya. Ah, dia begitu memperhatikan kesehatanku.

Aku memulai samadhiku. Sebelum memulainya, aku memohon izin Para Guru dalam doaku. Aku berdoa :

"Bapa, biarlah anakMu bersamadhi untuk sesaat. Izinkanlah anakMu bersamadhi disini, saat ini. Bimbinglah anakMu selama samadhi ini. Semoga segala rintangan dan marabahaya ditransformasikan menjadi cahaya kesembuhan dan cahaya cinta kasihMu, ya Bapa. Amen."

Aku hening sebentar, memusatkan konsentrasi pada tengah dadaku. Menarik nafas. Membuang nafas. Begitu seterusnya. Itu saja sudah membuat seluruh batin dan tubuhku terasa ringan dan bahagia.

Dalam samadhiku, Bapa membimbingku. Bapa menggerakkan batinku. Batinku bekerja sebagaimana adanya.

Aku mencoba memberi diriku pada penderitaan semesta ini. Aku mengangkat kedua telapak tanganku dalam keadaan terbuka, tanpa keraguan. Biarlah jika ini menjadi kehendak Bapa, Bapa pasti menyertaiku. Aku membatin.

Aku menarik nafas dalam-dalam. Seperti dalamnya penderitaan semesta ini. Batinku menyerap semua kenegatifitasan yang ada pada semesta ini, beserta isinya.

Batinku berbicara :

"Bapa, biarlah seluruh kenegatifitasan semesta ini boleh kuterima di dalam diriku. Biarlah semua penderitaan semua makhluk menjadi penderitaanku."

Aku menerima semua kenegatifitasan yang ada di sekitarku dengan sebuah senyuman. Senyuman sukacita yang berasal dari kekuatan Bapa. Membuatku memahami apa arti dari penderitaan hidup ini.

Lalu batinku berbicara kembali seraya menggerakkan kedua tanganku membawa semua penderitaan itu ke tengah dadaku :

"Bapa, biarlah seluruh penderitaan ini aku terima ke dalam hatiku untuk ditransformasikan menjadi cahaya cinta dan penyembuhan bagi semua makhluk...

Bapa, biarlah segala ketakutan, kecemasan, kegelisahan, kebencian, amarah, keserakahan, dendam dan ketamakan ini Engkau ubahkan menjadi cahaya cinta dan penyembuhan bagi semua makhluk..."

Tak kuasa, air mataku menetes perlahan merasakan penderitaan yang hebat dari semua makhluk. Aku baru memahami saat itu. Mengapa di dalam penderitaan, justru ditemukannya sebuah rumah kedamaian.

Tengah dadaku terasa mengembang sempurna dan bahagia ketika proses transformasi itu. Aku justru merasa lebih bahagia, dan lebih bahagia lagi dari biasanya.

Dalam samadhi ini, aku tidak sendiri. Bapa bekerja melalui para malaikatNya, dan kedua Malaikat Pelindungku. Bukan aku yang memberikan perintah atas mereka. Tapi semuanya terjadi atas seizin Bapa.

Archangel Zamael yang adalah Malaikat Kematian memerintahkan ribuan pasukan malaikat langit lainnya menjalankan tugasnya saat itu. Dia benar-benar berubah jadi Malaikat Kematian yang menakutkan ketika berperang melawan para iblis dan kegelapan di enam alam menderita. Langit dan Bumi berperang, melawan Kegelapan selama proses penyerapan energi negatif itu.

Sedangkan Gregorious membuka gerbang surgawi yang cukup besar di atas Nusantara dengan mengangkat pedangnya pada salah satu tangannya.
Kedua sayap malaikatku pun kembali tumbuh dengan sempurna dan bercahaya.

Kini aku telah siap menyebarkan energi cinta kasih yang sudah ditransformasikan Bapa dari energi penderitaan semua makhluk.

Aku membuka kedua telapak tanganku dan berdoa. Demikian doaku :

"Bapa, kini aku berikan energi cinta kasihMu untuk diterima oleh semesta dan semua makhluk, semoga semuanya berbahagia. Amen."

Saat itu juga, nampak cahaya kekuningan dengan kerlipan keemasan keluar dari kedua telapak tanganku dan memancar sempurna ke segala penjuru alam semesta. Bagaikan serpihan bunga dandelion kuning keemasan yang berterbangan, menari dengan indahnya. Sangat indah.

Aku memancarkan serpihan Cinta Kasih itu untuk semesta beserta seisinya, juga untuk pemurnian para makhluk alam menderita yang berhasil dilemahkan oleh Archangel Zamael beserta pasukannya.

Itulah persembahanku kepada Bapa, untuk semesta beserta segala isinya.

Harapku, semoga semua makhluk terbebaskan dari penderitaan, kebencian, dan amarah. Semoga semua makhluk dapat menikmati kebahagiaan.

Archangel Zamael beserta pasukan langitnya bekerja keras melawan Kegelapan yang ada di dalam diri setiap makhluk di bumi, juga yang ada di dalam diri manusia-manusia yang memiliki andil atas hidup dan matinya negeri ini. Semoga kekuatan Cinta Kasih mampu menembus batin mereka dan menyadarkan mereka.

Beberapa makhluk Kegelapan yang dapat dimurnikan menjadi makhluk Cahaya, pergi menuju gerbang surgawi di atas Nusantara ini. Gregorious yang menjaga gerbang itu supaya terbebas dari penyusup yang dapat memasuki gerbang suci tersebut.

Makhluk-makhluk yang belum dapat dimurnikan, dikembalikan ke alamnya, dan ada yang dimusnahkan oleh Archangel Zamael beserta pasukannya. Supaya, kekuatan Kegelapan setidaknya dapat berkurang dan tidak mampu menguasai para manusia di negeri ini.

Proses itu berjalan sekitar 30 menit lamanya.

Aku kembali dalam keheningan samadhiku. Tentunya dengan perasaan bahagia... dan bahagia luar biasa atas pengalaman hari ini. Tengah dadaku terasa mengembang, dan batinku terlarut dalam keheningan.

Para malaikat terus bekerja melakukan tugasnya hingga beberapa waktu ke depan sampai situasi di negeri ini kembali normal.

"Zamael...Gregorious...dan teman-teman malaikat semuanya, aku mengandalkan kalian. Mohon lindungilah kami," aku memohon pada mereka.

"Serahkan saja pada kami, Cherry," Zamael menjawab, sekaligus menenangkan batinku. Membuatku semakin yakin bahwa negeri ini akan damai sentosa.

Aku mengakhiri samadhiku.

Aku tak kekurangan apapun. Energiku bertambah. Sebab Bapa besertaku. Disertai dengan Bulan Purnama pada malam nanti.

Semuanya boleh terjadi bukan atas kehendakku, melainkan atas kehendak Bapa.

Aku hanyalah wadahNya.
Kepanjangan tanganNya.
KendaraanNya.

Aku tetaplah bukan siapa-siapa. Aku hanyalah Cherry Kecil dengan sedikit kisah yang unik.

Terima kasihku juga pada kedua malaikat pelindungku,

Archangel Zamael...
Malaikat Gregorious...

Beserta para malaikat yang melindungi kedamaian negeri ini...

Amen.

Written by : Yanti Kumalasari, S.Ds.
Editing by : Kepik Romantis / PVA