Thursday, July 4, 2019

Guardian Angel - Prologue -

 "Aku hanyalah Cherry Kecil yang sedang belajar menjadi Cherry Bijaksana agar bisa mendapatkan kembali keempat sayapku dan pulang ke surga."
 
Sepasang sayap putih...
Jubah putih...
Wajah yang memancarkan sinar...
  

“Itu namanya Malaikat, Sayang,” Mom memberitahu.

“Malaikat itu apa sih, Mom?” aku mencoba bertanya pada Mom.

“Malaikat adalah sesosok makhluk yang sangaaat suci. Dia nggak pernah nakal, bandel, berbohong atau pun membantah orang tua.”

“Malaikat punya orang tua ya? Apa orang tua Malaikat punya sepasang sayap juga, Mom?” aku terus bertanya untuk menghilangkan rasa penasaranku.

“Nggak, Sayang. Malaikat itu sebatang kara, ia nggak mempunyai orang tua,” Mom mencoba menjawab pertanyaanku. “Lalu…” Mom menyelimuti tubuhku.

“Lalu…?”

“Malaikat hanya bisa dilihat oleh anak yang baik hati dan suka rajin belajar,” Mom mengukir dalam senyumnya, lalu mencium dahiku.

“Ooo… Kalo gitu, wajah Malaikat itu seperti apa ya?”

“Yang pasti, Malaikat itu sempurna karena ia nggak pernah berbuat jahat,” Mom membelai rambutku dengan lembut.

Di sebelah tempatku berbaring nampak sebuah lampu meja kecil berbentuk kotak persegi panjang dengan sebuah jam alarm berbentuk panda berwarna cokelat muda. Aku menatap wajah Mom.

“Mom, apa Cherry anak yang aneh?”

“...Kenapa tanya itu, Sayang?” Mom mengangkat kedua alisnya.

“Hmm...Cherry merasa beberapa orang menganggap Cherry adalah anak yang aneh."

“Ah, nggak kok Sayang. Nggak ada yang aneh. Cherry kan punya sepasang mata, sepasang tangan, dan sepasang kaki. Kita sama kan?” Mom meyakinkan sambil menunjukkan bagian-bagian tubuhku.

“Tapi, Cherry ingin punya sepasang sayap juga, seperti Malaikat. Biar bisa terbang, Mom.”

“Hush, anak nakal! Kamu mau terbang ke mana memangnya?” tanyanya penasaran dengan kerutan di antara kedua alisnya.

“Cherry mau ke surga,” jawabku sambil menatap dalam kedua mata Mom.

Mom terenyuh setelah mendengar jawaban yang baru saja kulontarkan. Rasa penasaran menyelimuti dada Mom sepertinya, “Memangnya, Cherry tahu apa tentang surga?” sorot mata Mom lunglai dan berkaca-kaca.

“Surga itu luaaaas lho, Mom,” Jelasku sambil merentangkan kedua tanganku lebar-lebar penuh semangat. “Bumi ini kecil sekali kalau dibanding surga. Surga beda sama bumi. Bumi beda sama surga. Dan di surga banyak sekali makhluk yang mempunyai sepasang sayap putih. Seperti...Malaikat yang Mom bilang itu. Jumlahnya ada ratusan juta lho, Mom! ” jelasku bersemangat.

Mom terus menyimak dalam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mungkin ia menunggu sampai aku selesai berbicara.

“Tapi...ada empat makhluk yang masing-masing mempunyai tiga pasang sayap ditubuhnya. Sepasang sayap menutupi dada sampai kakinya, dan dua pasang sayap lagi ada di punggungnya. Wajah keempatnya berbeda-beda. Ada yang seperti manusia. Dan keempat-empatnya mengelilingi cahaya yang sangaaaat terang. Terang sekali,” lanjutku.

Mom mendengarkan celotehku dengan seksama.

“Mom tahu nggak, sebelum Cherry ada di sini kan, Cherry tinggal bersama cahaya itu dan cahaya itu pernah mengatakan sesuatu untuk Cherry. Tapi Cherry nggak ingat. Kira-kira apa ya Mom?”

Mom menghela nafas panjang, “Mungkin, cahaya itu mengatakan jika Cherry lahir nanti, Cherry harus menjadi anak yang baik,” Mom membelai kedua pipiku.

“Mom, apa Cherry bisa seperti mereka?”

“Cherry Sayang, ke surga itu nggak harus punya sepasang sayap. Lagipula, di surga itu kan nggak ada lolipop kesukaan Cherry...dan nggak ada buah ceri yang merah dan manis,” pintanya lembut.

“Masa sih??” tanyaku penasaran. Aku sangat suka buah ceri.

“Hmm...” jawab Mom sambil mengangguk.
“Kenapa Mom?”

“Karena...semua makhluk yang Cherry bilang barusan itu, nggak punya darah dan daging seperti kita,” Mom menyubit pelan lenganku. “Makanya, mereka nggak bisa dilihat.”

"Tapi Mom, Cherry bisa melihat salah satu makhluk bersayap putih itu kok,” aku meyakinkan.

Sorot mata Mom berubah dan menatapku dalam, “Cherry yakin?”

“Iya kok. Belakangan ini, tiga kali Cherry melihatnya. Ada di sana,” menunjuk ke arah taman belakang.

Mom bersamaku menengok ke arah taman belakang arah jendela kamar yang kutunjukkan. Namun, ia tidak menjawab sepatah kata pun.

“Dan terakhir, malaikat itu menoleh ke arah Cherry beberapa hari yang lalu. Kenapa Cherry bisa melihatnya, Mom?” aku heran penasaran.

"Karena Cherry anak yang baik. Iya, Cherry anak yang baik,” kedua bola mata Mom berputar membentuk seperti sebuah putaran.

“Kenapa harus anak yang baik?” alisku sedikit mengangkat.

“Karena malaikat adalah makhluk yang baik. Nah, makanya Cherry jangan berteman sama anak nakal ya, ” Mom menjelaskan.

“Kenapa, Mom?” aku tampak bingung mendengar pernyataan Mom.

“Karena nanti nakalnya bisa ketularan dong.”

“Hihihi... Kayak penyakit aja ya Mom,” aku geli. “Tapi, apa anak nakal itu akan selamanya nakal ya Mom?” aku bingung lagi.

“Nggak juga,” Mom tersenyum.

“Kalau begitu, suatu saat Cherry ingin semua anak nakal menjadi anak yang baik, biar bisa melihat malaikat, Mom,” kataku mantab.

“Bagaimana caranya, Sayang?”

"Semua anak baik berteman aja sama anak nakal biar baiknya bisa ketularan. Hahahaha...”

“Kalau yang ketularan nakalnya gimana dong?”
“Mana mungkin, kan anak baik berteman sama malaikat. Malaikat itu kuat. Pasti malaikat membantu anak baik supaya anak-anak nakal menjadi anak-anak yang baik juga.”

Mom tertegun mendengar jawabanku yang masuk akal entah tidak itu. Padahal aku juga baru mengetahui tentang Malaikat dari Mom. Tapi itulah yang ingin aku katakan, walau hanya spontan terlintas dalam benakku. “Cherry memang anak yang pintar. Jadi, Cherry bukan anak yang aneh. Cherry jangan pernah untuk berpikir seperti itu lagi ya,” Mom membelai rambutku dan menatapku prihatin. Lalu ia memelukku lembut, “Mom bangga mempunyai Cherry. Cherry tahu tidak, Cherry adalah harta Mom yang paling berharga di dunia ini,” bola mata Mom nampak mulai basah.

“Terima kasih, Mom. Cherry juga senang sekali lho mempunyai Mom yang menyayangi dan mengerti Cherry,” kedua tangan mungilku langsung merengkuh tubuh Mom. “Saat ini Cherry seperti di surga, Mom,” aku menarik nafas panjang dan mencoba merasakan suasana ini dengan menutup kedua mataku.

"Anak baik juga nggak selamanya menjadi anak yang baik kan? Makanya, Cherry harus berjanji, Cherry harus menjadi anak baik selamanya. Jangan mengecewakan Mom. Ya?” Mom menunjukkan jari kelingkingnya.

Aku pun mengaitkan jari kelingkingku pada jari kelingking Mom. “Iya. Cherry janji, Mom,” aku tersenyum. Kami pun tertawa.

Kini jari kelingking kami bersatu, seolah tidak dapat dipisahkan. Oleh siapa pun... Aku sangat menyayangi Mom.

Mom memegangi kedua pipi mungilku. “Besok pagi Cherry sekolah kan?”

Aku menjawab pertanyaan Mom dengan mengangguk tanda “iya”.

"Ya sudah, sampai sini dulu ya dongengnya. Cherry harus bobo biar besok bisa bangun pagi,” Mom yang masih memegangi kedua pipiku mencium dahiku sekali lagi.

“Oke, Mom. Nite, Mom.”

Lampu kamarku pun dimatikan oleh Mom. Kini hanya ada sedikit penerang dari lampu meja kamarku. Semuanya terlihat serba samar-samar.
Kupegangi pipiku yang sedikit menghangat. Entah mengapa, aku sangat bersemangat berbicara tentang malaikat pada Mom. Kuambil sebuah cermin kecil di atas meja di samping tempat tidurku. Kuperhatikan sekilas wajahku di cermin di bawah sinar redup pada lampu mejaku. Pipiku masih nampak kemerahan berbentuk hampir bulat diikuti bentuk rahang wajahku yang pendek.

Tiba-tiba saja angin yang tidak diketahui arah datangnya ini sudah menyibak pelan kain gorden jendela kamarku yang menghadap ke arah taman itu. Aku penasaran. Dan aku menantikan kehadirannya untuk yang ketiga kalinya. Segera kuletakkan kembali cermin kecilku pada tempat asalnya dan kusibak kain gorden jendela kamarku yang berada di samping tempat tidurku.

Meski di kejauhan, tetapi kedua mataku tetap bisa terfokus pada sesosok makhluk bersayap serba putih yang memancarkan cahaya itu. Disekeliling tubuhnya hanya terselubung oleh cahaya tipis berwarna putih kekekuningan. Yang paling terang adalah di bagian atas, yaitu wajah tepatnya. Sepasang sayapnya sangat indah dengan bulu-bulu seperti bulu angsa berwarna putih. Putihya seperti salju, dan lembutnya seperti permen Marshmallow yang pernah kumakan beberapa hari yang lalu. Begitu manis rasanya.

Lagi. Atau sebut saja “Malaikat” seperti Mom menyebutnya tadi. Kali ini ia menengok ke arahku. Tapi sayang, aku masih belum bisa melihat dengan jelas wajahnya karena sinar yang memancar dari wajahnya itu. Padahal aku ingin sekali melihat wajahnya. Seperti apa bentuk wajahnya... garis rahangnya... bentuk matanya... bentuk hidungnya... bentuk bibirnya dan... ah, sudahlah...

Apa dia sempurna? Jelek atau tampan ya wajahnya?? Tiba-tiba wajahku semakin menghangat dan memerah seperti...buah ceri, seperti kata Mom.

Aku sering memakan buah ceri dan aku tahu betul warna merahnya benar-benar merah dan terang. Meski kecil tak sebesar buah tomat, tapi rasanya manis. Aku sangat menyukainya, buah ceri, seperti namaku, Cherry Light...

Ups! Gara-gara memikirkan tentang buah ceri, sosok itu menghilang tanpa kusadari. Kedua mataku masih menjelajahi sekitar taman belakang rumahku, mencari sosok itu. Tapi aku tak menemukannya di sisi mana pun. -BERSAMBUNG-

Written by : Yanti Kumalasari, S.Ds.
Editing by : Kepik Romantis / PVA 

Sunday, June 2, 2019

Ana & Bruno (2019)

Film ini mengisahkan misteri petualangan Ana, gadis cilik yang berusaha mencari Ayahnya untuk menolong Ibunya agar selamat dari rumah sakit jiwa. Penulis menyukai film unik ini karena penonton tidak akan mengerti kemana jalan cerita film ini hingga membuat sangat penasaran ingin terus menonton sampai selesai karena ingin mengetahui bagaimana akhir cerita film ini.

Kita sangat mengerti bagaimana masyarakat sangat sulit mempercayai hal-hal mistis, apalagi dunia lain, masyarakat awam menganggap itu hanyalah khayalan atau imajinasi semata. Dan mereka yang mempercayai hal-hal misteri tersebut kerap dikecam sebagai orang gila / sinting / kelainan jiwa, dan sebagai-bagainya. Hingga kerap kali di daerah yang modern sekalipun masyarakat awam sering kali menolak keberadaan makhluk-makhluk misteri tersebut karena tidak "kasat mata" tidak semua mampu untuk melihatnya, alhasil mereka kadang mengecam, mengutuk bahkan mengucilkan dan mengurung mereka yang dianggap gila tersebut ke rumah sakit jiwa. 

Itulah yang terjadi kepada Ibunda Ana, sampai Ana tidak mengerti mengapa Ayahnya meninggalkan Ibunya sendiri dan dirinya di sebuah panti rumah sakit bagi kelainan jiwa. Semua yang tinggal di panti rumah sakit tersebut rata-rata sudah dipastikan akan dilupakan oleh keluarganya, atau bahkan akan sekarat tidak sadarkan diri dengan teknologi yang mengenaskan sebagai bahan uji coba para dokter di rumah sakit jiwa tersebut. Hingga akhirnya Ana bertemu dengan Bruno dan para sahabat imajinasi lainnya, barulah bersama-sama mereka membantu Ana untuk mencari dan menemukan Ayahnya. 

Dalam perjalanan mencari Ayahnya, Ana bertemu dengan Crash, bocah ingusan yang tuna netra (buta), tetapi mampu membawa Ana dan Bruno, berserta yang lainnya agar sampai tujuan bertemu dengan Ayahnya. Sesampainya bertemu dengan Ayahnya, barulah Ana menyadari siapa dirinya yang sebenarnya.  

Ana adalah gadis hantu, yang hanya Ibunya yang mampu melihatnya. Bruno menegaskan bahwa hanyalah beberapa manusia yang mampu melihat mereka termasuk Ana, yakni hanyalah orang yang punya kemampuan indera ke enam (six sense), para hewan, orang-orang buta, dan anak-anak kecil yang masih polos / lugu.

Setelah mengetahui hal tersebut, terkejutlah Ana, Bagaimana caranya Ana agar dapat berkomunikasi dengan Ayahnya? Kita mengetahui bahwa terkadang kita sering bermimpi bertemu dengan orang-orang dari sanak saudara bahkan anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Dengan cara tersebut menurut Bruno mampu membuat Ayahnya teringat akan dirinya dan mampu menyampaikan pesan untuk Ayahnya agar menyelamatkan Ibunya.

Bagaimana kelanjutan kisahnya? Berhasilkah Ana menyelamatkan Ibunya? Penonton harus menonton sendiri kelanjutannya, agar lebih menarik untuk dipahami, jadi bukan penjelasan berupa isapan jempol semata. Alhasil kisah film ini mampu membuka wawasan semua masyarakat agar terbuka dalam berpikir logis, dan tidak mengecam orang-orang yang katakanlah berindera keenam (six sense) tersebut lalu mengutuk, mengurung, mengucilkan, bahkan menghina mereka sebagai orang gila / sinting / sakit kelainan jiwa.

Film ini untuk mengetuk hati umat manusia, bahwa mereka yang telah meninggal dunia pun senantiasa selalu ingin berkomunikasi, menolong dan bahkan sangat dekat dengan kita yang masih hidup di dunia ini.

Film Animasi dari negara Mexico ini, sayangnya masih saja dikecam negatif oleh beberapa kelompok masyarakat yang pikirannya kolot dan tertutup karena dianggap film ini penuh kontroversi, takut-takut, alih-alih tidak mau menerima kenyataan, banyak yang takut dapat membuat depresi bagi keluarganya. 

Padahal bila dilihat dari sudut pandang positif, Film ini membangkitkan keberanian manusia untuk mengungkap kebenaran, dimana masih ada alam kehidupan lainnya di dunia ini selain yang tampak terlihat, juga ada yang tidak terlihat (tidak tampak wujud bentuknya) tetapi mereka pun tetap ada dan hidup berdekatan dengan kehidupan manusia. Sebagai contoh : banyak yang sering menemukan atau bahkan tidak sengaja telah merekam dalam video atau photo tentang keberadaan para makhluk tersebut yang tidak tampak tersebut. 

Kesimpulannya penulis mengajak untuk berfikir kritis dan logis, agar mampu membuka diri dari ketakutan tersebut, melihat kebenaran, bahwa film ini bukanlah momok yang menakutkan, tetapi sebuah petualangan misteri yang menjadi film ini seolah mengajak bercerita dan berkomunikasi dengan masyarakat untuk mengenal kebenaran tentang keberadaan mereka yang telah meninggal dunia. Selain itu juga menjelaskan bahwa orang cacat tuna netra sejak lahir (buta / tidak mampu melihat) malah mampu memiliki penglihatan yang lebih tajam di dalam mata batin hatinya yang dapat merasakan keberadaan semua makhluk tersebut.

Photo Source : www.pinterest.com
020619 Written by : Kepik Romantis / PVA

Wednesday, May 1, 2019

Mutiara Syair Peribahasa Tersirat Makna


Tiada laut yang tak berombak,
Air jernih ikannya jinak,
Tiada kota yang tak ditimpa hujan..
Besar kapal, besar pula gelombang
Selama hayat di kandung badan,
Berjalanlah sampai ke batas tepian..
Berlayarlah sampai ke pulau..
Lautan budi tepian ilmu,
Lautan ditimba tak akan kering…

060512 remake 280419
Written by : Kepik Romantis / PVA
Tiada umpat yang membunuh,
Tiada puji yang mengenyang..
Titian bisa lapuk, janji bisa mungkir..
Di dalam pisang setandan,
Sebuah ada saja yang busuk..
Semanis-manisnya gula,
Ada pasir didalamnya..
Yang tua harus dimuliakan,
Yang kecil harus dikasihi..
Utang emas dapat dibayar,
Utang budi dibawa mati.
Manikam itu jikalau jatuh ke dalam pelimbahan sekalipun,
tiada hilang cahayanya..
Patah tubuh hilang berganti,
Pusaka turun kepada yang muda..
Biar lebur biar binasa,
Selangkahpun tiada mundur,
Yang takut karena salah,
Yang berani karena benar.

130512 rewrite 280419
Written by : Kepik Romantis / PVA

Sunday, April 28, 2019

The Brave Swordsman

*​ This story is completely fiction and has no ties to real events* Character and Location names may not be similar to modern geography*

In the year 1649 in the southern Kyushu regions of Japan there was a small mountainous village. The year was full of war and injustices with the common citizens plagued by hunger, the cause of these harsh times was from an unrelenting enemy of the chinese eastern forces. The Chinese government was in a crisis of over population and with a shortage of resources decided to attack Japan for its abundant minerals and food. On the month of June the military started enlisting men from the households of families within the vicinity of an incoming attack from Shanghai approaching quickly.

In the remote village of Haku a young boy named Higasaki Fujiki was enlisted at the age of 16, he was afraid but as to not bring shame to his family he left with no objections, he bid farewell to his parents and little sister promising to return. Fujiki brought with him only the clothes on his back and a sadness of leaving his family in hopes of bringing honor to his family and the village which he departed.

Fujiki and 3 (three) of his friends were all enlisted into the war and had planned on fighting on the same garrison, but when unexpectedly an enemy airplane came to attacked the caravan of young soldiers with a barrage of bombs.

Fujiki woke up in a darkly lit room with a man resting beside him, as Fujiki was getting up the man woke up and told him of the deaths of all his friends and that he was the only survivor. Fujiki was saddened by the shocking news but he was still acting brave to not show his feelings to a stranger, he then went back to sleep for recovering his health.

When Fujiki woke up, the stranger was gone, so he stood up and left the room to find the old man training in a field, he thanked to the old man and asked for a name and begged to be taught by the old man how to fight and survive, so he can keep his promise to his family. The old man told introduced himself as Saito and told Fujiki, if he wished to learn how to survive, he'd have to have a strong heart and willing to survive. Fujiki agreed and later he started his training with the old man to be able to survive in the war and protect his family.

*Six Months Passed*

Fujiki was ready to join into the war on the fight after missing the last battle he was supposed to attend, which resulted in the loss of the city of Nagasaki. Determined to take back the city, Fujiki asked the old man for help, Saito offered him a weapon passed down his family and told Fujiki, that he didn't have much longer to live. Fujiki was shocked to hear this, but understood his teacher was too old and only survived to pass down his techniques to the young boy. Fujiki accepted a Sword, which the old man said would give him very great power. Then he went on his journey into the forest which would be his next resting place.

Fujiki departed to take back the city of Nagasaki with his new found blade which held many mysteries and with the strength bestowed to him by his teacher. Fujiki traveled by horse from the Eastern side of Kyushu which took him a few days to arrive to be near at the city of Nagasaki. At nearing in Nagasaki, Fujiki decided to leave the horse and traveled by foot, arriving near suddenly loots of the enemy came closer, so he decided to attack during the night. 

As the night sky shined down, Fujiki took his blade and slaughtered many soldiers which were asleep without the faintest worries of taking a life. The soldiers were alerted and started mobilizing to take down Fujiki, they surrounded him pointing their guns at him. Fujiki didn't know what to do but felt a strange energy leaking from the sword, he then heard gunfire coming from distance away and noticed that Japanese soldiers was attacking from the outskirts.

Fujiki was happy to see that he wasn't alone and had more courage to attacked all the men whom surrounding him, he was shot in countless times but Fujiki shrugged it off as if nothing happened. As Dawn was coming down the enemy soldiers were all being eliminated and later he continue joined with the Japanese forces after liberation the city of Nagasaki.

The Japanese forces were surprised that Fujiki survived after attacking the enemy alone which later earned him many medals of bravery and was given the choice to continue fighting in the war or returning to his village. Fujiki made a deal with the army to continue fighting for them, excluding his village from being enlisted into the war.

Two years passed and the war was finished with the Chinese forces are giving up, Fujiki left the army after being praised as the savior of Kyushu for his many victories in the battle. Fujiki departed on his way home to return to his parents and his little sister to keep his promise. Fujiki arrived at the village only to see no one was there, He worried the worst might have happened, but was later being surprised by the villagers who planned a party for his return. Fujiki was very happy to see his family are safe and went to greet his parents and his sister, and they celebrated for hours.

Fujiki's battle was over and with the secrets his bestowed to him by the sword throughout the war, he trained to become stronger with his sister, so that he can make his teacher proud. With the sword being passed down his family for many generations, his family was always there to protect Japan.

200419Written by : Fujikun
Design Picture by : Matthew Virzy
Editor by : Kepik Romantis / PVA

Sunday, March 24, 2019

Balancing Life - "Keseimbangan Hidup"

When its time to rest, sleeping for a while..
When its time to work, control yourself and your mindset..
Sometimes you have to run, but next time you have to walked again..
When its hurt, heal your heart with love and patient..
Time never stop until we have to passed it on..
Do what you really love and love what you do..
Don’t try to push so hard, its will hurt yourself.
Knowing life its has to be continue..
Whether it come so fast or it come to slow down..
Not to much for everything you want, just enough for what it takes.
Gain respecting with kind and humble..
Not to be arrogant but try to be nice with other..
Put your anger in the dust, so the wind will kindly blow it away..
Knowing yourself as a hero, make yourself proud to be happy..
Don’t blame something even its come to late..
Respecting everything that is inside you and the universe will help you in to it.
Mastering your body and soul with love and gentle..
Life its more beautiful when everything come peace and balance..
No destructing but try to save and solve it out..
Everything in the universe its has to be balance..
Being powerful or powerless, its just temporal..
Still everything just has to be balance, if its goes to be rude then the time circle will roll it again to destroy everything until none left over behind.
So what will be its will be, none have knew the real power of the universe is just has to be balance.
Translation : 
Saat waktunya istirahat, tidur sebentar..
Saat waktunya bekerja, kendalikan diri dan pola pikir Anda.
Terkadang Anda harus berlari, tetapi lain kali Anda harus berjalan lagi.
Saat sakit, sembuhkan hatimu dengan cinta dan kesabaran..
Waktu tidak pernah berhenti sampai kita harus meneruskannya..
Lakukan apa yang benar-benar Anda sukai dan cintai apa yang Anda lakukan..
Jangan berusaha terlalu keras, itu akan melukai diri sendiri.
Mengetahui kehidupan harus terus dilanjutkan..
Apakah itu datang begitu cepat atau lambat..
Tidak banyak untuk semua yang Anda inginkan, cukup untuk apa yang diperlukan..
Dapatkan hormat dengan baik dan rendah hati..
Bukan untuk menjadi sombong tetapi cobalah untuk bersikap baik dengan yang lain..
Letakkan amarah Anda dalam debu, sehingga angin akan melenyapkannya..
Mengenal diri sendiri sebagai pahlawan, membuat diri Anda bangga menjadi bahagia.
Jangan salahkan sesuatu meski terlambat..
Menghargai segala sesuatu yang ada di dalam diri Anda dan alam semesta akan membantu Anda.
Menguasai tubuh dan jiwa Anda dengan cinta dan lembut..
Hidup itu lebih indah ketika semuanya datang kedamaian dan keseimbangan.
Tidak merusak, tetapi cobalah untuk menyelamatkan dan menyelesaikannya..
Segala sesuatu di alam semesta ini harus seimbang..
Menjadi kuat atau tidak berdaya, itu hanya sementara..
Tetap saja semuanya harus seimbang, jika itu menjadi kasar maka lingkaran waktu akan menggulungnya lagi untuk menghancurkan segalanya sampai tidak ada yang tertinggal..
Jadi apa yang akan terjadi, tidak ada yang tahu kekuatan sebenarnya dari alam semesta 
hanya harus seimbang.
   
230319Written by : Kepik Romantis/PVA

Picture Source : karenkorona.com
 

Saturday, February 23, 2019

Kristal Kehidupan - Crystal of Life 2C - "Overlords The Red and Dark (Black) Crystal"

Suasana berkabung menyelimuti seluruh wilayah Benua Natflimorwud, yang langsung mendung berawan kegelapan disertai hujan petir yang menggelegar, semua yang hadir tertunduk pilu saat menguburkan jenazah Pather Dhigante, begitu pula para rombongan Tetua Tiga Monyet bersama Raja Naga Laut Timur, Siluman Lima Babi Hutan dan Tetua Ikan Kappa. Sementara itu para Maha Guru lainnya hanya dapat berduka di kediaman masing-masing di wilayah yang sangat berjauhan ratusan ribu kilometer jaraknya dikarenakan Portal Dimensi sudah tidak berfungsi, mereka tidak dapat hadir ke upacara pemakaman di taman belakang yang dipenuhi sisa-sisa reruntuhan sebagian besar bangunan Purple Clock Church.

Ahui menjauhi para rombongan yang berduka, hatinya marah emosi, mengapa di saat seperti ini, tidak ada satupun para Maha Guru yang datang hadir menolong mereka saat mengetahui akan terjadinya hal ini. Tetua Monyet yang melihat kemarahan Ahui, mencoba menenangkan Ahui, “Takdir dan Nasib, kedua hal yang berbeda. Nasib masih dapat dirubah, tetapi Takdir kematian, umur dan perjodohan, bahkan rejeki kita pun bukan kita yang menentukan. Kita hanya dapat berusaha semampunya untuk berbuat baik dan benar, tetapi semua keseluruhan isi kehidupan ini Tuhan Yang Maha Kuasa-lah yang menentukan.”

“Tetapi mengapa Tuhan tega membiarkan hal ini terjadi?”, tanya Ahui yang masih marah dan kesal. “Semua hal di dunia ini, tidak ada yang luput dari karma, mengapa kamu harus pusing marah dan kesal kepada Tuhan (Pemilik dan Pencipta), seharusnya kamu lebih ikhlas dan bersyukur karena kamu masih diberikan kesempatan menjalani kehidupan ini untuk menjadi lebih baik lagi. Semua ada sebab dan akibat, setiap jalan pilihan yang telah mereka pilih pasti semua ada konsekuensinya, mungkin itulah pilihan jalan mereka, dan mereka pun kelak akan menerima balasannya. Kita tidak perlu pusing terhadap apa yang mereka lakukan, karena hukum alam sudah berjalan sangat adil. Kita cukup menjalani tugas dan kewajiban kita sebaik-baiknya, tidak perlu memusingkan mereka yang memilih jalan salah, buruk dan jahat. Karena kita sudah berusaha mencegah menasehati mereka, tetapi jika keburukan dan kejahatan adalah jalan yang mereka pilih, maka biarlah mereka menanam dan memetik buah karmanya sendiri. Cukup kita jalani kehidupan kita dengan sebaik-baik mungkin, tanpa perlu merisaukan hal-hal selanjutnya, yang terpenting kita sudah berusaha semampunya kita untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar selama kita masih diberi waktu hidup di dunia ini…”

“You talk too much, just like Shifu…”, ucap Ahui teringat Maha Guru Boante. “Hahahahaha….”, terdengar tawa khas Maha Guru Boante, lalu menghilang bayangan dan suara itu sekilas terbawa angin, malah terdengar suara nyaring Tetua Monyet “Ngapain di situ terus? Kasihan tuh yang lain berkabung, kamu malah menyendiri ngumpet di sini pula (melihat Ahui di belakang pohon di tepian sungai merah karena penuh bersimbah darah para korban). Edi nyariin kamu tuh khawatir dikira menghilang lagi..”, ucap Tetua Monyet. “Laaah, bukannya tadi saya barusan ngobrol sama kamu di sini”, jawab Ahui pada Tetua Monyet yang jadi bingung sambil garuk-garuk kepala. “Heh??? Saya??? Gak mungkin!!! Kamu yang ngelamun kali, saya barusan aja jalan ke sini kok…”, tegas Tetua Monyet. “Sumpah!!! barusan aja kamu menghilang setelah ngobrol sama saya di sini, kira-kira 5-7 menit yang lalu kamu ada di sini”, ucap Ahui ngotot menjelaskan. “Gak mungkin ada dua monyet sakti selain saya, Kecuali….(hmmm…)”, Tetua Monyet bergumam, berpikir sambil membelah diri menjadi Tiga Monyet Sakti yang saling bermusyawarah, hanya ada satu orang yang mampu memiliki ilmu hebat setinggi kemampuannya. “Kecuali siapa….???”, tanya Ahui kepada Tetua Tiga Monyet. “Tanyakan saja pada tongkat yang kamu bawa itu kemana-mana, Beliau selalu mendampingimu…”, sambil Tetua Monyet beranjali memberi hormat dengan sepenuh hatinya berkontak batin dengan tongkat yang masih dipegang Ahui. “Shifu…”, ucap Ahui perlahan-lahan. Tetua Monyet mengangguk setuju tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

Datanglah Edi yang tiba setelah terbang mencari-cari Ahui, langsung turun dari awan, memberi salam hormat kepada Tetua Monyet, seraya berbicara singkat kepada Ahui. “Ngapain kamu di sini? Semua menunggu dan mencarimu, kita harus segera berangkat sekarang!!!”. “Setuju, saya bersiap ke Kapal Selam bersama Raja Naga Laut Timur, dan para Tetua lainnya”, ucap Tetua monyet yang langsung bergerak cepat terbang diikuti Edi. Sedang Ahui hanya terdiam saja sambil mengikuti mereka di belakang. Para Tetua dan rombongan (Ahui, Edi, Didi, Boy, Chika, dan Fani) setelah bersiap-siap dan membantu para korban, mereka tidak dapat berlama-lama di Benua Natflimorwud menurut firasat para Tetua, ada kemungkinan pasti terjadi serangan kehancuran yang lebih buruk lagi terjadi di Benua lainnya, maka mereka pun harus segera berangkat masuk ke Kapal Selam milik Raja Naga Laut Timur untuk merencanakan strategi dan juga melatih diri mereka selanjutnya.

Selama para rombongan beristirahat, Tetua Monyet dan Raja Naga Laut Timur masih sibuk berbincang-bincang sangat serius. “Kau harus mencari tau ke seluruh penjuru laut dan memantau mengenai keadaan di tiap Benua dan melaporkannya segera apabila terjadi masalah yang berbahaya, apakah tidak ada yang melacak kemana mereka (para siluman jahat) berangkat selanjutnya untuk menyerang?”, ucap Tetua Monyet. “Sudah, tapi belum ada kabar, sabarlah sebentar…, pasukan kita tidak secepat pasukan monyet-monyetmu, harusnya kamu juga membantu kita memantau di darat, sedang kami hanya mampu membantu di laut…”, jawab Raja Naga Laut Timur. “Hmmm…(Tetua Monyet berguman) Sama…kalo begitu!!! Bagaimana kalo kita adakan Rapat Darurat untuk memanggil semua Tetua Raja Naga Laut seluruh Penjuru Dunia ini?”. “Mungkin juga, tapi perlu waktu, kira-kira seminggu atau bahkan sebulan, karena jarak samudera lautan tiap penjuru arah mata angin sangat jauh ribuan jutaan kilometer, itu pun perlu pasukan gerak kilat di Laut’, jawab Raja Naga Laut Timur. “Haduh…, kenapa harus begitu lama!!! Kau kan punya kesaktian di laut masa tidak bisa langsung pindah portal arus laut aja?!”. “Lah.., kau sendiri Raja Monyet Sakti, kenapa tidak langsung lapor ke Kaisar Langit untuk memerintahkan bantuan langsung?!”, ucap Raja Naga Laut Timur. “Itu…, hmph (kesal Raja Monyet) kau tau kan tabiat Kaisar Langit, Dia tidak akan mau turun langsung, pasti memerintahkan kita juga untuk bergerak maju…”, jawab Tetua Monyet, dan perseteruan pembicaraan mereka terus berlanjut dari tengah malam sampai menjelang subuh pagi hari. “CUKUP!!!..., pembicaraan kalian ini membuat semua tidak nyenyak tidur…, lebih baik kita tanyakan saja kepada Tongkat Sakti ini bagaimana?”, ucap Ahui yang terbangun karena merasa terganggu dengan pembicaraan Tetua Monyet dan Raja Naga Laut Timur. “Hahaha…lihay!!! Betul juga!!!”, terkaget sambil senang karena Ahui telah menemukan solusi bagi mereka. “Baik, saya pinjam sebentar ya.., (sambil berkedip mata kepada Ahui dan mengambil Tongkat di tangan Ahui) dan Raja Naga Laut Timur, tolong persiapkan Kapal Laut muncul ke permukaan airnya sebentar…”,tegas Tetua Monyet Gila. “Baik…, laksanakan…”, jawab Raja Naga Laut Timur. Kapal Selam pun langsung muncul ke permukaan lautan, pintu atas Kapal Selam terbuka…, Tetua Monyet, Raja Naga Laut Timur dan Ahui keluar dan berada di tengah atas Kapal Selam.

“Baik…, kalian menyingkir sebentar ke belakang saya…(Tetua Monyet mengarahkan Ahui dan Raja Naga Laut Timur agar berada di belakangnya)” ucapan Tetua Monyet itu langsung disertai gerakan dahsyat memutar-mutar Tongkat milik Ahui itu dengan gerakan kungfu monyet sakti miliknya, semakin lama semakin kencang dan lalu Teua Monyet terangkat kakinya hingga terbang sambil menggerakan kekuatan supernya. “Baiklah…., Tongkat Sakti!!! Dengan kekuatan alam semesta dan atas izin petunjuk Tuhan/Allah Yang Maha Kuasa, tolong berikan kami petunjuk arah selanjutnya!!! Hiaaaaaa….tt!!!”, Tongkat itu dihempaskan Tetua Monyet ke arah Matahari terbit, seketika Tongkat itu berhenti bergerak tegak vertikal seperti terkena tekanan gravitasi bumi, lalu bersinar terang memancarkan sinar dari Matahari terbit, seolah menjadi titik pusat kompas, dan pancaran sinar Matahari membentuk bentangan garis pelangi dari pancaran cipratan air laut dan awan di langit yang biru membentuk arah sinar ke sebuah titik merah yang membulat besar ke arah Benua Hedunfawi. “Yeaaaahhhuuuuww!!!...”, teriak Tetua Monyet Gila senangnya karena berhasil mengetahui arah selanjutnya. Disambut senangnya hati Ahui langsung memeluk Raja Naga Laut Timur sambil menagis terharu. “Akhirnya…kita tau kemana kita pergi selanjutnya…”, ucap Ahui kepada Raja Naga Laut Timur. “Hmmm…Mari…., kita berangkat ke Benua Hedunfawi”, ucap Raja Naga Laut Timur. Tetua Monyet pun langsung terbang bergegas mengambil Tongkat tersebut dan mengembalikannya kepada Ahui, seraya berkata “Terima kasih ya!! Kau harus jaga baik-baik Tongkat Sakti ini yah..”. Ahui langsung mengangguk tanda setuju dan mereka semua pun langsung bergegas masuk ke Kapal Selam dan berangkat dengan kecepatan penuh.

Sementara itu Raja Naga Laut Timur diminta Tetua Monyet untuk membuat Rapat Darurat antara kumpulan Raja Naga Laut seluruh penjuru dunia dengan para Tetua Sakti (Genk Lima Babi Hutan, Tetua Ikan Kappa, Tetua Six Silver Gargoyle, Tetua Empat Tengkorak Pencabut Nyawa, Tetua Ratusan Kelelawar Haus Darah, Tetua Sembilan Kepala Leak Terbang, Tetua Lima Genderuwo Buang Sial, dan Tetua Jutaan Golem Kepala Batu Bata Emas). Mereka akan mengadakan Rapat di Istana Raja Naga Laut Timur, setelah mereka selesai mengantarkan Ahui, Edi, Didi, Boy, Chika, dan Fani menuju Benua Hedunfawi. Dengan terpaksa mereka harus berpamitan dan harus dapat menyelesaikan masalah dalam misi selanjutnya tanpa bantuan para Tetua Sakti, dikarenakan keadaan keseimbangan alam di dunia ini sudah dalam bahaya, dikhawatirkan akan terjadi banyak kehancuran akibat perang saudara dimana-mana, sehingga kemungkinan besar akan terjadi kepunahan bagi generasi penerus penjaga alam ini yakni anak cucu, dan cicit nantinya.

Sebelum rombongan mereka (Ahui, Edi, Didi, Boy, Chika, dan Fani) tiba di Benua Hedunfawi, para mafia Siluman kejam sudah lebih dulu tiba menuju ke tempat kediaman Maha Guru Kyai Gusdante di kediamannya yaitu “Red Diamond Mosque”, setelah meninggalkan Benua Natflimorwud kira-kira 3hari yang lalu. Maha Guru Kyai Gusdante yang telah mengetahui firasat akan terjadi hal ini sebelumnya, sudah sengaja tidak mempersiapkan apa-apa, justru dengan senang hati menerima kedatangan mereka, agar para siluman kejam tersebut kebingungan.
Sedenk : “Luar biasa!!!, rupanya kehadiranku disambut dengan meriah, tentunya sudah mengetahui maksud kedatangan kami ke mari..”
Maha Guru Kyai Gusdante : “Anda adalah orang yang paling patut dikasihani di dunia ini, karena sebenarnya anda bisa menjadi orang yang baik dan benar, tetapi anda malah memilih jalan yang salah…”
Sedenk & Titink : “Hahahahaha!!! Ceramah anda sangat lucu!!!”
Sedenk : Justru semua ini saya lakukan karena senang dan bahagia menjadi jahat dan buruk adalah hobi kita berdua…” (Seraya mereka berciuman dengan napsu di hadapan Maha Guru Kyai Gusdante).
Maha Guru Kyai Gusdante : “Anda hanya ingin mencari perhatian dan sensasi, mengejar kenikmatan dunia yang tidak akan pernah puas sampai kapanpun juga, ibarat meminum air laut, anda tidak akan pernah bisa puaskan dahaga itu. Akibat kurang bahagia di masa kecil, lantas anda menjadi buruk, nakal dan kejam, untuk memperoleh banyak kawan, kerabat dan relasi yang memiliki masa lalu yang sama menderitanya, untuk mengejar dan mendapatkan semua impian dan cita-cita dengan mudahnya, bukan???…”
Sedenk dan Titink : (Terdiam saling memandang mata, merasa tersindir hatinya sejenak, terkaget kerena malu dibuatnya, tetapi segera membual dengan tertawa dan tepuk tangan) “Hahahaha!!! Luar Biasa!!!...”
Maha Guru Kyai Gusdante : “Tidak perlu menyakiti, menyiksa, dan mencelakai banyak orang, tidak perlu menghancurkan semua bangunan dan juga keindahan alam, saya sudah tau apa yang anda mau, yakni menguasai seluruh alam dunia ini…, kalo saya tidak berikan, anda pun pasti akan tetap memaksa dan menghancurkan untuk mendapatkan apa yang anda mau/inginkan karena harus terpenuhi, jadi buat apa kita harus berperang? Toh, anda tetap juga kerabat saya juga.., jadi cukup anda hanya meminta dan memohon dengan mepergunakan bahasa, tata krama, dan sopan santun yang baik, barulah saya akan memberikannya kepada anda dengan baik juga..”
Sedenk : (Kesal…karena Ego-nya tersentuh, muak teringat ke dua orang tuanya yang selalu memaksa memberi hormat dengan aturan-aturan kuno) “Halllaahh…, bawel cerewet, berisik kau Pak Tua!!! Tidak perlu mengulur-ulur waktu kami!!! Jangan sampai kesabaran saya ini habis!!! Cepat serahkan sekarang juga!!! Atau…nyawamu melayang..”
Maha Guru Kyai Gusdante : “Mintalah dengan cara yang baik…”
Sedenk : “Keparat!!! Pa Tua Sialan!!! Banyak bacot!!!”
Maha Guru Kyai Gusdante : “Maka dari itu belajarlah dengan baik dan benar”
(Titink melihat Sedenk pemarah dan bodoh karena egonya, menggunakan akal sehatnya, mungkin inilah yang menghambat rencana Sedenk juga).
Titink : “Pak Tua yang baik.., saya mengerti dan memohon maaf atas ucapan buruknya (Sedenk), Tolong berikan apa yang kami inginkan…” (Ucapan Titink yang lembut itu membuat Sedenk muak, tetapi membuat Maha Guru Kyai Gusdante tersenyum).
Maha Guru Kyai Gusdante : “Sebenarnya kamu bisa berbuat lebih baik lagi, sayangnya kekasihmu itu terlalu keras kepala, tetapi karena kamu tetap seorang wanita dan dapat sedikit berpikir baik, saya akan memberikannya…” (Langsung Maha Guru Kyai Gusdante berdiri dari kursinya dan melepaskan sabuk merah yang melilit di perutnya, diberikannya kepada Titink).

Begitu mudahnya Maha Guru Kyai Gusdante memberikan kepada Titink, membuat Sedenk terbengong/terkejut tidak mempercayainya, dan perasaan Hati Titink pun sedikit terkejut dan mulai mencair karena kebaikan Pak Tua tersebut. Sedangkan Maha Guru Kyai Gusdante hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang terbengong-bengong, lalu berkata “Kita semua adalah bersaudara, buat apa harus bertengkar, dengan cara damai jauh lebih baik? Bukankah demikian? Anda berdua sudah senang kan?!”

Sedenk dan Titink : “Terima kasih Pak Tua…”
Maha Guru Kyai Gusdante : “Yah…sama-sama…”
Sedenk : (Agak sungkan jadinya, bingung…) “Tetapi, sayangnya kami tetap harus menjalankan rencana ini!!! Pak Tua, kau harus ikut pergi bersama kami sekarang!!!” (Sedenk dan Titink langsung memaksa, memaksa, menyeret dan memborgol Maha Guru Kyai Gusdante, tanpa banyak perlawanan, karena Maha Guru Kyai Gusdante mengetahui hal ini juga pasti terjadi..).
Maha Guru Kyai Gusdante : “Jadi saya ditawan sekarang…, setalah saya sudah memberikan apa yang anda mau…?”
Sedenk : “Untuk mendapatkan keinginan, maka apapun harus dikorbankan, termasuk juga hal ini, maka Pak Tua, anda pun harus berkorban untuk kami semua, dan tentunya dengan rencana yang matang…” (Seraya, Titink langsung memperkenalkan siluman (“Sijintink”) yang ahli clooning yakni membuat tiruan/palsu, hasil operasi plastic sempurna untuk membuat wajah Maha Guru Kyai Gusdante).
Maha Guru Kyai Gusdante : “Hahahahaha!!! Hebat!!! Sungguh Pintar kalian!!! Tetapi mata batin yang tajam tidak mampu dibohongi…, lihat saja nanti, apakah rencana anda ini akan berhasil atau tidak…”
Sedenk : “Berisik Pak Tua!!! Cepat kita berangkat sekarang!!!”, sambil menarik Titink dan para pengikut lainnya untuk terbang berangkat ke Benua Erank, tepatnya di Kuil Kura-kura Hitam, kediaman Maha Guru Sinthe.

Terlambat sudah, mereka (Ahui, Edi, Didi, Boy, Chika, dan Fani) tiba di Benua Hedunfawi, seolah-olah tidak terjadi sesuatu apapun. Tetapi Ahui merasakan aura yang berbeda, seperti kehilangan kekuatan energy, dimana tanah yang dipijaknya mulai mengering, tandus dan udaranya pun sangat panas dan menyakitkan. Masyarakat di sana seperti biasa, tidak menyadari perubahan alam yang terjadi, dianggapnya karena proses iklim pancaroba. Begitu pula Didi, Boy, Chika dan Fani, mereka juga tidak merasakan perubahan ekstrem yang telah terjadi seketika. Edi yang memiliki ½ kekuatan Raja Monyet Sakti, merasakan kekuatan siluman yang ada di dalam tubuh “Gusdante palsu” yang berpura-pura menyapa kedatangan mereka.

Seketika itu juga, Edi mengamuk, “Siluman keparat…!!!”, langsung menyerang “Gusdante palsu”, tetapi langsung dihadang oleh Chika, Boy, Didi dan Fani. Ahui yang hendak melerai mereka bertarung, sudah sangat kesulitan, sehingga hanya dapat terdiam sedih. Edi habis dipukulin oleh keroyokan empat temannya sendiri. Pertarungan itu lama-lama membuat Edi kewalahan, tidak mampu mengalahkan kecepatan Didi, sekaligus Edi semakin terluka parah karena kekuatan sebenarnya tertahan, sebab tidak tega melawan teman-temannya sendiri. Sementara siluman jahat yang berada dalam tubuh Gusdante palsu menikmati pertarungan mereka dengan senang sebab dapat mengulur-ulur waktu mereka di Benua Hedunfawi, sehingga para Raja Siluman dapat segera tiba ke Benua Erank.

Melihat siluman (“Sijintink”) itu tertawa puas, Ahui pun sudah tidak mampu lagi menahan emosinya, berubahlah Ahui yang mengamuk, bak raksasa menghancurkan semuanya, sekaligus membuat Didi, Boy, Chika dan Fani terpental jauh terjatuh dan terluka karena amukan Ahui yang memukulkan tongkatnya ke tanah dengan amarah. Seketika Benua Hedunfawi porak-poranda, seperti kedatangan “Kingkong putih/Yeti” yang mengamuk turun dari gunung. Tidak dipikirkan betapa ketakutannya warga berlarian menyelamatkan diri, Ahui pun langsung menghadang siluman itu bertarung. “Sijintink”, tidak mampu menahan kekuatan dahsyat Ahui yang mengamuk, siluman itu hanya dapat berlari bersembunyi ketakutan, sampai nangis dan terkencing-kencing di celananya. Ahui tetap tidak bisa dikendalikan amukannya, “Keluar kau siluman keparat!!!!”, ucap Ahui, dengan terus memukul-mukulkan tongkatnya ke tanah, hingga menimbulkan gempa dan ombak pasang di lautan, seperti bumi diguncangkan. Edi, Didi, Boy, Chika dan Fani pun kali ini tidak mampu mengendalikan amarah Ahui.

Bila 15 menit dibiarkan, Benua Hedunfawi bisa hancur semua, lama-lama terbenam berkeping-keping masuk ke dalam lautan, karena banjir air laut pasang sudah mulai masuk merambat ke dataran pantai. Semua warga masyarakat sudah menangis ketakutan, langsung berdoa, bersujud dan memohon ampunan untuk dihentikan. Untunglah, datang seketika Tetua Raja Monyet Sakti, menangkap dan menarik Sijintink, siluman yang berpura-pura menjadi Gusdante palsu, membawa keluar dari persembunyiannya, lalu menujukkan kepada Ahui, “STOP Ahui!!!, ini keparatnya sudah tertangkap!!!”, ucap Tetua Monyet Sakti sambil mengangkat siluman itu tinggi-tinggi dengan tangan dari tubuh raksasanya ke depan muka Ahui. Seketika amarah Ahui pun terdiam setelah melihat Sijintink itu tertangkap dengan wajah menangis, menunduk dan ketakutan sampai tidak berhenti untuk mencret dan terkencing-kencing. “Sudahlah…, jangan marah lagi!!! Seluruh benua ini bisa hancur kalo kamu marah seperti itu terus…, kasihan mereka sudah menangis memohon ampunan…”, lanjut ucapan Tetua Monyet itu bicara dengan bijak.

Mendengar ucapan Tetua Monyet bijak itu, Ahui pun seketika mereda dan menahan amarahnya, dengan kesal, dia langsung berlari menghilang ke arah bukit dan pegunungan hijau. “Hmmm…, kalian urus siluman keparat ini, biar saya yang pergi menenangkan monyet imut satu itu..”, sambil melemparkan siluman Sijintink (bunglon) ke arah Edi, Didi, Boy, Chika dan Fani. Melihat Edi terluka parah ulah pukulan Didi, dengan segera Didi dan Boy membantu merawat luka Edi di rumah sakit setempat, sementara Chika dan Fani membawa Sijintink ke penjara untuk diintrogasi bersama pihak kepolisian dan kedokteran khusus.

Ahui yang berlari menenangkan diri ke dalam hutan, seperti biasa sembunyi karena emosinya yang meledak itu, terduduk di atas bebatuan pinggir sungai. “Ahui…, kapan kau akan belajar mengendalikan emosi mu itu?”, ucapan suara itu khas seperti ucapan Maha Guru Boante. Ahui tidak menjawab, hanya terdiam, cemberut sambil melemparkan batu-batu kecil di sekelilingnya ke arah sungai. “Hmmm….(Boante menenangkan Ahui dengan memegang kepala Ahui dari sampingnya sambil membacakan doa), tenangkan dirimu…”, ucap Boante kepada Ahui. Seketika Ahui terdiam dan menangis mengeluarkan seluruh air matanya karena merasa bersalah, sedih, sekaligus bingung, jengkel dan kesal di dalam hatinya. “Kau akan tau nanti, kenapa saya tidak bisa menunjukkan diri saya, tetapi saya sudah mengatakan akan selalu membantu dan juga memberikan petunjuk untukmu. Kamu harus belajar lebih tabah, sabar dan mengendalikan amarahmu itu, kekuatan yang kamu miliki hanya digunakan jika itu terpaksa untuk melindungi diri dari bahaya, bukannya kamu gunakan untuk menyengsarakan banyak orang. Lihatlah, bagaimana orang-orang menangis ketakutan dan kehancuran dimana-mana bila kamu marah seperti ini. Membahayakan bagi semuanya…”, ucap Boante.

“Mohon maaf Shifu, saya belum mampu mengendalikan emosi saya…”, jawab Ahui yang sedih. “Sudah…sudah…, ingatlah baik-baik, dengan amarah itu masalah tidak akan pernah selesai semuanya, kadang kamu harus belajar meredam emosi, agar dapat focus mencari solusi di setiap masalah hidup ini, dengan mengendalikan diri maka kamu mampu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, maka terciptalah perdamaian di dunia ini..., pikirkan baik-baik…, renungkanlah…, Kristal Kuning melambangkan kekayaan ilmu pengetahuan (kecerdasan intelektual), Ungu melambangkan harga diri/ kedudukan/kehormatan/keagungan, Merah melambangkan nafsu, amarah, emosi dan ambisi, Hitam melambangkan seluruh kekuatan negative dalam duniawi (angkuh, serakah, tidak puas, sedih, duka, dan menderita), sedangkan Kristal Bening/Putih untuk menyeimbangkan yakni kekuatan positif (kebaikan, jujur, kebenaran, lemah lembut, dan kasih sayang), Hijau melambangkan kesuburan dan keindahan, dan Biru melambangkan hawa, nafas dan kehidupan seperti air mengalir. Bila kesemuanya bergabung akan menimbulkan kekuatan keseimbangan yang harmonis. Tetapi bila digunakan berlebihan menjadi buruk kekuatannya karena dikorupsi dan dimanipulasi untuk tujuan keserakahan, kejahatan, kebencian, ambisi dan nafsu yang berlebihan, maka akan menghancurkan seluruh isi semesta alam ini…”, ucapan penjelasan Boante itu menyadarkan Ahui seketika. “Shifu…, jadi kesemuanya kristal itu saling berhubungan dan saling bergantungan satu dengan yang lainnya…”, saat Ahui mengerti dan mengucapkan hal itu, Maha Guru Boante telah tersenyum dan menghilang seketika.

“Haduh, kamu kemana aja sih? Malah sembunyi di sini, cepat kita harus membantu yang lainnya…”, ucap Tetua Monyet langsung menarik Ahui dan membawanya kembali. Seketika Tetua Monyet yang telah datang bersama Ahui dibantu para seluruh Tetua Raja Naga (Laut Timur, Barat, Selatan, dan Utara) dengan Tetua Sakti lainnya (Genk Lima Babi Hutan, Tetua Ikan Kappa, Tetua Six Silver Gargoyle, Tetua Empat Tengkorak Pencabut Nyawa, Tetua Ratusan Kelelawar Haus Darah, Tetua Sembilan Kepala Leak Terbang, Tetua Lima Genderuwo Buang Sial, dan Tetua Jutaan Golem Kepala Batu Bata Emas), untuk kembali membangun Benua Hedunfawi yang hampir hancur itu, seketika berubah jadi indah berkat bantuan para Tetua Sakti. Bangunan, sawah, perkebunan dan tanah yang hancur, kembali bagus, indah dan subur, kelihatan sangat menawan. Namun, tidak terlihat Tetua Siluman Ular Naga Antaboga yang diceritakan mereka yakni merupakan Pemilik dari tongkat yang dipegang oleh Ahui tersebut. Ahui kebingungan, dimanakah sebenarnya, apakah benar adanya Tetua Naga Anataboga itu? Kenapa seluruh penjuru Raja Naga Lautan pun segan dan takut mendengar namanya saja.

Di Benua Erank, Master Guru Shinthe sudah punya firasat buruk di Kuil Kura-kura Hitam, dengan segera meminta Qisenk dan Rini (saudara Didi) untuk pergi ke Chapel Merpati Biru di kediaman Sister Chihante, tentunya mereka tidak mau pergi tanpa alasan yang kuat, paksaan meminta agar membawa obat-obatan penting bagi kesehatan Guru Shinthe membuat mereka terpaksa pergi demi keinginan Guru Shinthe.

Sepanjang perjalanan, Titink terus memaki Sedenk yang terlihat murung dan lemah karena goyah menghadapi Maha Guru Kyai Gusdante. “Kau lemah!!! Payah!!! Bagaimana kau bisa jadi pemimpin, bila hatimu lunak!!! Semua siluman akan curiga dan mulai berkomplot akan menjatuhkanmu kelak kalo kamu seperti ini terus!!!”, ucap Titink. “Hassh…berisik kau!!! Sok tau!!! Urus saja keperluanmu nanti di sana, tidak ada yang akan berkhianat, siapapun itu akan habis seketika dengan kekuatanku ini!!!”, jawab Sedenk. “Hmph.., sok ke-pedean, liat saja nanti!!! Setelah kelahiran Kepala Penguasa Kegelapan, kau akan hancur bila dia tau kelemahanmu ini…!!!”, tegas Titink.

Master Guru Sinthe tidak menggubris kedatangan gerombolan siluman keji dipimpin oleh Sedenk dan Titink. Seolah tidak ada hal yang membuatnya ketakutan ataupun cemas. Sampai dengan Sedenk dan Titink menunjukkan Gusdante yang tengah terikat oleh kekuatan Titink dan Sedenk.

“Cepat kau serahkan Kristal hitam itu kepada kami segera!!! Atau dia (sambil menunjuk pada Gusdante yang ditutup mulut, mata dan telinganya dengan kain dan diikat) akan celaka!!!”, tegas Sedenk. “Baiklah… tapi tolong kau janji harus lepaskan dia!!!”, ucap Master Guru Sinthe. Melihat sodara Gusdante yang terancam, dengan berat hati dan menangis, Master Guru Sinthe melepaskan cincin hitam di jari telunjuk kanannya hingga keluar darah (karena kekuatan jahat begi kuatnya mengikat), lalu menaruhnya di tangan kiri. “Lepaskan dia dulu!!!”, pinta Sinthe sekali lagi. Sedenk dan Titink lalu melepaskan ikatan dan tutupan (mata, telinga dan mulutnya) Gusdante, seketika Gusdante berteriak, “TIDAAAAKKK…!!!, Jangan..!!! kau tidak boleh melepaskan itu!!!”, ucapnya sambil menangis.

“Maafkan saya…, ini demi nyawamu juga!!!”, jawab Sinthe. “Jangan lakukan ini…!!! Kalian bisa hancur!!! Begitu pula seluruh dunia ini semuanya!!!”, pinta Gusdante kepada Sedenk dan Titink. “Hassh!!! Berisik kau semua!!! Cepat atau dia habis…”, jawab Sedenk (sambil mengangkat leher Gusdante yang hendak dicekik dengan kekuatan ilmu ularnya membelit leher). Master Guru Sinthe terpaksa langsung melempar cincin hitam itu, memberikannya kepada Sedenk, dan Sedenk mengambil cincin hitam itu dengan melepaskan jeratan leher Gusdante, (Gusdante terhempas jatuh kesakitan, segera ditolong Sinthe), seketika semua kekuatan Kristal yang tengah berada di tubuh Sedenk pun berkumpul, seperti sebuah pijaran bola api hitam yang berdenyut-denyut dalam darahnya, mulai dari Kristal kuning menghitam, Kristal ungu menghitam, Kristal merah menghitam dan terakhir Kristal hitam mengumpulkan semua energy negative kegelapan yang ada di seluruh bumi ini, dan “Booouuuummm!!!…” meledaklah tubuh Sedenk, disertai petir gemuruh dan geledek di langit yang menghitam seketika seperti ledakan gunung meletus di tubuh Sedenk, terdengar teriakan Titink, “Accchhh…!!!”, Titink terhempas jauh, sedang tubuhnya Sedenk menjadi butiran darah hitam yang berkumpul menyatu menjadi sosok raksasa tinggi kurus, dengan tubuh yang mengerikan, tanpa wajah, penuh asap hitam, kuku tangan dan kakinya sangat runcing panjang setajam cakar jarum berbisa ular. Ledakan tersebut disertai dengan goncangan getaran gempa bumi di seluruh penjuru dunia yang sangat dahsyat bak sebuah nuklir yang meletus, hingga air laut pun bergolak.

“Ssssssttt….!!! Kalian takut…!!!”, ucap Kepala Penguasa Kegelapan yang merubah tubuh Sedenk. “Ooooh, kau (menujuk tangan mengerikannya ke Titink), rindu dengan kekasihmu yang mati mengorbankan dirinya untukku…, Hahahahaha…, tenanglah!!! Dia bisa hidup lagi dengan syarat!!! Hmmph…, saya terpaksa harus menghancurkannya, karena saya perlu darahnya…, dia terlalu lemah.., iya kan…??!!”, ucap Penguasa Kegelapan. “Tolong!!! Jangan bunuh saya, apapun akan saya lakukan agar dia kembali, maafkan dia!!! Saya menyayanginya…mencintainya…”, ucap Titink bersujud dilihat oleh Sinthe dan Gusdante. “Jangan pernah kau memohon pada Iblis…!!!”, tegas Sinthe dan Gusdante.

“Hahahahahaha!!! Berani kau mengatakan Iblis padaku!!! Saya ini adalah malaikat kebaikan, sangat murah hati karena dipercaya oleh Pencipta!!!”, jawabnya berbangga hati. “Biiiih.. (Sinthe meludah) Iblis tetap saja iblis, mana mungkin kau percaya Tuhan, sementara kau mengkhianati kepercayaannya dengan menghancurkan dunia ini!!!”, jawab Sinthe. “Hahahahaha!!! Enyahlah kau seketika!!! (Sreeeebbb!!!)”, dengan seketika jarum-jarum cakar di tangan kanannya langsung menembus jantung Sinthe yang langsung hancur, muntah darah dan mati seketika. “Tiiidak….”, tangis Gusdante langsung meraih tubuh kerabat baiknya Sinthe yang sudah tidak bernyawa itu.

“Huahahaha sungguh menarik…, sekarang saya bisa punya wajah tampan seperti kekasihmu itu…”, berubahlah asap di wajahnya keluar alien dari lehernya yang kemudian membentuk kepala seperti manusia yang sama wajahnya dengan Sedenk. “Nah…, sudah lebih baik sekarang…, bagaimana…??!! (sambil menunjuk ketampanannya kepada Titink) maukah kau bergabung bersamaku..”, ucap Penguasa Kegelapan dengan suara lembut Sedenk. “Mau… (matanya seolah terhipnotis cinta karena suara Sedenk dan wajah Sedenk yang dicintainya)”, Titink langsung berjalan penuh napsu birahi langsung terhipnotis, memeluk dan menciumi Sedenk yang telah menjadi Penguasa Kegelapan. Sedenk membalas ciuman birahinya sambil berkata, “Aaaaaccchhh…, luar biasa…sayangku, kau akan menjadi Ratu Kegelapan…, maukah kau berkorban untukku…, sayang…?!”, pinta Sedenk. “Mau…apapun itu…, asal dapat selalu bersamamu…”, jawab Titink.

“Hahahahaha!!! Cinta ini sungguh meng-asyikan!!!”, langsung Sedenk memberikan Titink napsu bercintanya, hingga klimaks kematiannya yang penuh darah segar hingga jantungnya bocor dimakan hidup-hidup dan muntah darah penuh kenikmatan, darah segar Titink itu diminum dengan puasnya seperti anggur bagi Sedenk yang kehausan. “Sungguh nikmat, kau tidak mau mencicipinya…!!!”, pinta Iblis Sedenk kepada Maha Guru Gusdante. “Kau bisa memuaskan dahagamu dengan mengambil nyawaku juga, bila kau mau…”, jawab Gusdante.

“Hahaha, buat apa darahmu!!! saya sudah dapat apa yang saya mau, dan seperti biasa, saya selalu menyisakan satu orang untuk hidup menjadi saksi bagi kehidupanku ini, tapi dengan syarat yang tidak mudah tentunya untuk menghidupkan Ratu Kegelapanku ini…hahahaha!!!! Dia perlu sebagian kekuatanmu itu…(Blaasssstttt!!!!)”, langsung jarum-jarum kuku di tangan kanannya menembus seluruh titik chi (qi) dalam tubuh Gusdante hingga kesakitan dan mengeluarkan banyak darah. “Aaaaaaarrrrrrgggghhhh….”, Gusdante teriak kesakitan menyakitkan luar biasa, seperti seluruh otot dan tulangnya remuk. Keluarlah darah bercahaya dalam tubuhnya yang langsung disedot oleh ribuan belatung kecoak keluar dari belahan tubuh Titink yang begitu banyak jumlahnya menjiplak menjadi satu bagian tubuh yang menyatu masuk ke dalam mayat Titink yang menjadi Ratu Zombie Kecoak. Gusdante roboh dan remuk seketika jatuh ke tanah tidak berdaya dan lumpuh total, tetapi masih dapat bernafas, berfikir, melihat, mendengar dan berbicara seperti mayat hidup saja.

“Aaaaaaaahh…, sungguh nikmat…!!!”, ucap Titink yang kekenyangan setelah hidup kembali dan menjadi Ratu Kegelapan. “Hahahahaha, selamat datang Ratuku!!!”, ucap Sedenk kepada Titink. “Biarlah.. si tua bangke ini hidup menjadi saksi cinta kita kepada kawanan tolol yang mencari kedamaian di dunia ini, sungguh malang nasibmu eah pak tua…, wakakakakaka…”, tawa Sedenk dan Titink langsung pergi menghilang bersama kawanan siluman jahat lainnya kembali ke kota Greyland, Istana kerajaannya yang akan dibangun di sana tepatnya di pulau terlarang, dan menciptakan era kegelapan baru bagi dunia ini. Gusdante hanya dapat menangis menahan kesakitan seluruh tubuhnya yang remuk.

“TERLAMBAT sudah….!!!!”, ucap Tetua Monyet sambil menunduk bersedih duka setelah gempa berkekuatan hebat mengguncang seluruh dunia dalam beberapa waktu lalu saat munculnya Kepala Penguasa Kegelapan. Kesedihan Tetua Monyet diiringi kesedihan para Tetua Siluman yang baik lainnya beserta para Raja Naga. “Pasti sesuatu hal yang buruk telah terjadi kembali…”, ucap Ahui di dalam hatinya ikut bersedih.

Bergegaslah para rombongan berangkat ke Benua Erank, menuju kediaman Master Guru Sinthe di Kuil Kura-Kura Hitam. Terlihat dari kejauhan pun sudah menandakan kesedihan luar biasa yang akan mereka semua hadapi, reruntuhan puing-puing bangunan dan tebaran cairan darah dimana-mana. Mereka langsung berlari secepatnya saat melihat Master Gusdante yang tengah terbaring lemah lumpuh dan menangis tanpa dapat berbuat apa-apa, di sisi jenazah dari Master Guru Sinthe.

“CUKUP SUDAH!!! Ini semua gara-gara kamu!!! Lihat!!! Saya sekarang udah gak punya siapa-siapa, Guruku (Sinthe) wafat!! karena kalian semua selalu menyia-nyiakan waktu!!!”, ucap Didi yang marah dan kesal kepada Ahui dan Tetua Monyet, karena tidak terima gurunya mati sia-sia. Didi berusaha ditahan oleh Fani, tapi percuma, Didi terlampau marah, dan langsung pergi berlari kesal dan menjauh menghilang entah kemana, tanpa mengucapkan salam perpisahan.

“Iyah!!! Kau Tetua Monyet Sakti pun percuma!!! Guruku (Dhigante) juga mati!!, selalu semua terlambat!!! Apa gunanya semua ini!!!, lebih baik saya juga pergi dari sini!!! Semuanya sia-sia!!! Percuma!!!”, ujar Fani yang juga kesal dan marah, langsung pergi mengejar Didi yang lari penuh amarah. Semua hanya dapat terdiam tak mampu berkata-kata sepatah pun. Mengingat mereka semua pun telah merasa gagal dan kalah telak, wajar mereka marah, kesal, kecewa, dan bersedih, membiarkan mereka pergi untuk menenangkan dirinya masing-masing.

Apa mau dikata Didi benar-benar sudah kehilangan kesabarannya, terlebih melihat Gurunya, Master Sinthe wafat, Didi pun memilih menyendiri, menghilang dan mengacuhkan Fani. Melihat Didi yang berubah, Fani pun pergi menghilang menjauh, entah kemana, mengikuti langkah kakinya yang sakit, pedih, sedih dan sangat terluka, setelah kehilangan Gurunya, Pather Dhigante wafat, kini harus kehilangan kekasihnya juga Didi yang jadi berubah dingin dan acuh.

Para Tetua melihat kejadian buruk ini, ikut prihatin dan sedih, tak mampu banyak bicara, hanya dapat berdoa dan melanjutkan upacara kematian dan kremasi bagi Master Guru Sinthe, dan kemudian bahu-membahu memperbaiki Kuil Kura-kura Hitam yang hancur, direnovasi kembali, sambil terus memikirkan dan berdiskusi kecil setiap malam, mengenai rencana apa yang harus dilakukan selanjutnya oleh mereka.

Sementara Boy dan Chika, terdiam tak dapat berkata apa-apa, sambil terus merawat gurunya yang lumpuh sakit terluka parah, dan izin pamit untuk membawa pulang Maha Guru Kyai Gusdante ke kediamannya di “Red Diamond Mosque”. Sedangkan Ahui yang merasa bersalah, hanya dapat bersedih, perlahan-lahan berusaha melarikan diri dari keramaian, Ahui memilih pergi mencari Master guru Boante. Tadinya Edi melarangnya, tetapi sifat keras kepala Ahui, membuat Edi pun marah dan kesal karena merasa sulit menasehati Ahui yang bersikeras ingin pergi mencari gurunya, Boante. Ahui dan Edi pun bertengkar, kesal dan saling acuh, sebab keduanya memiliki sifat sama keras kepala dan pemarah. Edi kesal dan memilih pulang ke Kuil Macan Terbang menemui Master Guru Haite. Membiarkan Ahui yang berjalan sendirian pergi mencari gurunya Boante.
Masihkah ada secercah harapan bagi para pahlawan kedamaian dunia, setelah semua usahanya gagal dan kalah, dan kekuatan kegelapan tengah menguasai hampir 70% kekuatan dunia? Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya? –BERSAMBUNG-

230219 Written & picture design by : Kepik Romantis / PVA

NB : Kisah ini hanyalah karangan Fiksi Misteri belaka, bila ada kesamaan nama, bentuk, tempat, symbol, gambar dan tulisan, semuanya semata-mata hanya dalam hayalan/imajinasi karangan belaka.