Friday, August 14, 2020

Cinta dan Kesadaran -Chapter 13-

Di suatu tempat ibadah Taoisme.

Kami berempat : aku, Tyrex, Xy dan Red kembali berkumpul, berbincang soal spiritual setelah selesai latihan samadhi bersama.

"Rex, aku mau tanya nih. Kalau orang diikuti oleh makhluk gaib, bisa pergi nggak sih?" Red bertanya penasaran.

"Ya bisalah. Mereka kan sama kayak teman aja. Ada karma jodoh. Kalau karma jodoh keduanya habis, makhluk gaibnya pergi," Tyrex menjawab.

Aku, Red dan Xy mendengarkan dengan seksama.

"Biasanya, kalau diri sejati kita sudah muncul, penjaga gaib pergi dari diri kita," Tyrex melanjutkan.

"Bener Rex. Aku pernah diberitahu sama yang jagain aku. Dia bilang, kalau aku udah jadi bijaksana, dia akan pergi...dan harus pergi," celetukku.

"Iya bener Che, kalau diri sejati sudah muncul dari dalam diri, otomatis kita sudah bijaksana, sudah tidak perlu lagi penjaga gaib. Semua bisa kita lakuin sendirian," lanjut Tyrex.

"Iya benar, Rex. Hahaha, " jawabku tertawa dalam lirih. Gregorious, Malaikat Pelindungku pun menatapku juga dengan pandangan lirih. Dia membelai lembut kepalaku, menenangkan aku.

Karena emosiku sedikit bergejolak. Mataku spontan sedikit basah.

Kami masih bercakap-cakap. Tertawa terbahak-bahak. Dan aku sangat pandai menyembunyikan kesedihanku. Tapi mungkin tidak bagi Red, sahabatku.

Setelah tertawa, aku bergegas ke lantai 2, menuju altar Kakek Thai Shang Lao Cin disana. Aku tak dapat lagi menahan perasaan sedih dan haru di tengah dadaku.

Sesampainya aku di depan altar kakek, aku terduduk dan menangis. Air mata yang keluar dari pelupuk mataku membasahi kedua pipi mungilku.

Kakek di altar sana seakan memahami apa yang aku rasakan. Aku masihlah Cherry kecil yang manja. Aku belum dapat mengatasi kemelekatan akan rasa sayang dan cinta. Aku sadar, aku terus jatuh di hal yang sama. Dan Kakek memahami ini.

Beliau menasehatiku, "Cherry ingat...kamu sudah berkali-kali jatuh dalam hal ini. Jangan hal ini lagi membuat batinmu bergejolak. Hayo belajar, anak manja..." nasehat Kakek dengan lembut.

"Iya kakek...tapi susah. Aku sangat menyayangi Gre dan Zamael, kedua Malaikat Pelindungku," jawabku membatin.

Sontak, Gre membelai kepalaku lagi dengan lembut di samping kananku. Sedangkan Zamael membelai pundakku.

"Sudah...Cherry jangan sedih ya," pinta Gre lembut di samping telingaku, membisikanku. "Kalau Cherry sedih seperti ini, kami juga sedih."

Zamael sedikit membungkuk dan mengusapkan air mataku. Dia hanya tersenyum menatapku. Dan aku merasa sedikit damai melihat senyum Zamael. Biasa, Zamael yang selalu mengusap air mataku ketika dia tahu aku menangis.

"Iya, maafkan aku," jawabku membatin sembari menghapuskan sisa air mata yang sudah membanjiri kedua pipi mungilku ini.

Kakek berpesan, "Tuh, kedua Malaikat Pelindungmu sangat menyayangimu, Cherry. Dan mereka sangat berharap kamu segera menjadi Cherry yang bijaksana dan bisa pulang menjadi malaikat yang manis kembali...seperti dulu," kata Kakek tersenyum.

Deg...kata-kata Kakek bagai menyentak tengah dadaku. Aku hampir melupakan tujuanku terlahir di dunia ini. Terima kasih, Kakek telah mengingatkanku...

Setelah aku memastikan bahwa aku sudah baik-baik saja, dan seluruh air mata sudah bersih terhapuskan, aku kembali turun ke lantai 1 menemui mereka kembali, dan mengikuti obrolan mereka.

Tapi tidak dengan Red. Dia menanyakan, "Cherry, what's happen with you?"

"Nothing..." jawabku.

Malam pun tiba.
Aku pulang ke rumahku.

Aku sedang membaca-baca buku di kamar tidurku sebelum tidur. Aku paling suka baca buku Spiritual karya Doreen Virtue.
Di samping itu, Gre dan Zamael sedang berbincang di halaman kebun rumahku.

Seperti biasa. Kali ini aku akan menulis dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Aku tidak tahu apa yang mereka berdua bicarakan. Aku kembalikan ke penulis cerita ini...

"Gre, saya perhatikan kamu agak sedih. Karena kejadian tadi sore itu ya?" Zamael bertanya.

"Iya, Tuanku," suara Gre nampak lirih.

"Saya merasakan perasaan cintamu kepada Cherry sudah sedikit berlebihan, Gre. Masih ingat kan pesan saya tempo lalu?" Zamael berusaha mengingatkan Gre.

"Ya, saya masih mengingat nasehat Tuanku, dan saya sangat berhutang budi pada Tuanku," jawabnya sembari menundukkan kepalanya sedikit.

"Bagus," sahutnya sembari melempar sebuah kerikil kecil pada aliran danau kebun rumah Cherry. Riakannya membuyarkan pantulan cermin mereka berdua yang sedang duduk di tepinya.

"Bolehkah saya bertanya pada Tuanku? Ah, tapi...maaf jika pertanyaannya mungkin agak kurang pantas untuk saya tanyakan pada Tuanku," Gre menyilangkan lengannya di dadanya sebagai permohonan maaf kepada Tuannya, Archangel Zamael.

"Ya, jangan sungkan. Kita kan sahabat ketika di bumi ini. Tapi ketika tugas kita atas Cherry sudah selesai dan ketika kita kembali ke surga, kamu adalah anak buahku kembali. Ya?" jelas Zamael pada Gre tersenyum. "Silakan."

"Baik Tuanku." Gre menelan air liurnya sebelum bersuara kembali. "Maaf sebelumnya... apakah Tuanku juga mencintai Cherry?"

Tiba-tiba suasana menjadi hening. Hanya terdengar nyanyian jangkrik malam itu dibawah sinar rembulan. Dibarengi juga dengan desiran angin lembut menyibakkan kedua rambut mereka.

"Ya...sangat mencintainya," jawab Zamael. "Coba kau bayangkan Gre...sejak kami berpisah kala itu, ketika dia masih menjadi Archangel dan saya manusia, saya terus memikirkannya. Dan entah mengapa ingatan saya tak pernah terhapuskan tentang Cherry, kelahiran demi kelahiran," lanjutnya.

"Saya memahami perasaan Tuanku. Lantas, bagaimana caranya Tuanku bisa 'menahan diri'?" tanya Gre perlahan.

"Kesadaran, Gre...Lakukan segala sesuatunya dengan sadar. Jangan mengikuti keinginanmu. Tapi bertindak segala sesuatunya karena untuk kebaikan dirinya semata," jawab Zamael.

Gre terus memperhatikan perkataan Tuannya. "Lalu, mengapa keempat sayap Tuanku tidak lenyap ketika menciumnya?"

"...saya sudah pernah menciumnya dua kali, Gre. Tapi saya melakukannya dengan kesadaran, bukan atas ego keinginan saya. Saya berusaha menciumnya agar dia bisa cepat menggali memori ingatan kehidupan masa lampaunya, siapa dirinya di masa lampau, apa masalahnya hingga dia bisa terlahir menjadi manusia seperti saat ini dan kemana tujuan selanjutnya setelah dari bumi ini. Ketika kamu melakukan segala sesuatunya dengan penuh kesadaran, bukan dengan nafsu dan ego malaikatmu, kamu akan baik-baik saja, Gre," terangnya tersenyum membuka semua maksudnya selama ini. Seperti seorang ayah yang sedang menasehati anaknya.

"Begitupun, ketika saya membunuh banyak iblis di neraka. Semua itu juga bukan atas ego keinginan saya, tapi agar jiwa para iblis itu bisa termurnikan kembali..." lanjut Zamael.

Air mata Gre tumpah. Dia terharu oleh perkataan Tuannya yang sangat menyentuh batinnya. Ada penyesalan dan rasa bersalah dalam dirinya karena cinta.

Zamael yang mengetahui Gre bersedih segera menawarkan bahunya yang sekeras baja itu untuk menjadi sandaran Gre. "Mari, Gre..."

Kepala Gre kini bersandar pada bahu Tuannya. Zamael menghapus air mata Gre. Zamael selalu tidak bisa melihat semua makhluk menangis. Dia terlihat sosok yang kasar sekilas, tapi jauh di dalamnya, dia adalah Archangel yang sangat lembut dan penuh kasih, juga bijaksana.

"Saya tahu perasaanmu, Gre. Dan tidak mudah...baik untukmu, maupun Cherry sendiri," pinta Zamael lembut sembari membelai kepala Gre.

"Benar Tuan... semakin hari saya semakin mencintainya, dan perasaan ini sedikit mengganggu pikiran saya..." Gre bergumam.
"Sadarilah... dan masuklah ke dalam perasaanmu sendiri. Nanti kau akan jadi memahami hakekat cinta. Pada dasarnya, cinta itu selalu memberi tanpa mengharap apa-apa...demi kebahagiaan makhluk yang dicinta..." Zamael membimbing Gre, selayaknya seorang ayah.

"Ya, Tuan," jawab Gre berusaha memahami maksud Tuannya.

Zamael mengeluarkan sinar keemasannya pada telapak tangannya dan didekatkan di tengah dada Gregorious. Cahaya keemasan itu adalah cahaya Cinta Kasih yang menyembuhkan.

"Bagaimana, sudah lebih baikkah perasaanmu, Gre?" tanya Zamael.

Gre tersentak setelah dihealing oleh Tuannya. Dia terbangun dari sandaran bahu Tuannya.

"Luar biasa, Tuanku. Hawa murni Tuanku sangat besar, tetapi sangat lembut...lebih kecil dari partikel yang paling kecil di dunia. Saya jadi berhutang banyak pada Tuan," gumam Gre menunduk.

"Hahaha...bukan apa-apa. Kau harus belajar lebih banyak lagi ya Gre..." nasehat Zamael. "Semua demi kebaikanmu..."

"Baik, Tuanku."

"Dan yang paling penting, saya ingin kita bersama-sama pulang ke surga, bertempur bersama dengan saya kembali ya, Komandan Gre," pintanya tersenyum penuh kasih.

Mata Gre nampak berkaca-kaca oleh perkataan Tuannya. Dadanya dipenuhi oleh rasa haru dan kasih oleh karena Tuannya. "Baik, Tuanku," jawabnya bersemangat.

Written by : Yanti Kumalasari, S.Ds.
Fan-page Writer :  https://www.facebook.com/thesoulreader.jkt/
Editing by : Kepik Romantis / PVA

No comments:

Post a Comment