Wednesday, August 22, 2018

Berada di Ambang Batas Kehidupan - On The Threshold of Life

Tidak ada tanda-tanda aneh, seperti biasanya tidak ingat hal-hal yang penting, hanya beberapa berita. Hari itu seperti sedia kala, bersenda gurau bersama kawan-kawan, berkumpul bersama dan bercerita. Kemudian cuaca mulai mendingin entah mengapa candaan mereka terkesan tidak lucu, saya berjalan mulai menjauh karena dirasa pembicaraan mulai tidak menarik. 

Tiba-tiba seorang kawan pamit katanya hendak pergi bersama teman-temannya yang lain ke kota besar metropolitan. Pikir saya, mengapa dia pergi sendiri dibiarkan oleh mereka (kawan yang lainnya), saya sempat bertanya pada yang lainnya, "Mengapa kalian membiarkannya pergi? mengapa tidak mencegahnya agar tidak pergi ke tempat itu sangat besar kotanya dan mudah kesulitan jika tidak tau jalan.." Mereka semua hanya terdiam tidak memperdulikan kata-kata saya, bahkan mereka sibuk asik berbincang cerita yang lainnya, karena dipikir mereka, memang orang itu sendiri yang mau pilih pergi ke tempat seperti itu, maka hati saya pun semakin khawatir, sedih dan sakit, karena orang itu ternyata harus pergi tidak mengerti jalan dan pasti dalam kesulitan dan bahaya hingga tersesat di jalan.

Tibalah saat kami mulai berangkat pergi, berjalan mulai menjauh darinya yang berjalan berlawanan arah kami ke kanan, sedangkan dia bersama para kawan-kawannya ke kiri. Entah mengapa semakin sakit rasanya di ulu hati, setiap langkah demi langkah yang saya lalui karena khawatir dan takut yang terus berpikir, pasti firasat ini kurang baik. Saat hendak berjalan terus, saya ragu dan memilih melihat kembali jalan orang itu yang semakin kesulitan, saya pun berjalan berbalik arah menyusul dia yang sedang dalam kesulitan, namun tidak disangka saya terjatuh, terperosok ke jurang semakin dingin, hanya terdengar teriakan kawan-kawan, "Tolong....tolong, tolong..., bahaya, bahaya...", mereka teriak karena melihat saya terjatuh makin dalam tidak dapat di raih dan tertutup oleh tumpukan es yang dingin, semakin jatuh terjerembab, seolah seisi es itu sudah menelan saya jauh ke bawah. 

Hanya kegelapan yang terlihat, maka saya pun hanya dapat memejamkan mata dengan ikhlas merelakan diri saya terjatuh, namun yang dirasakan malah melayang terbang seperti dibawa oleh angin yang lembut, hanya terdengar sayup-sayup suara "Ini memang harus terjadi seperti ini...", saya pun tersadar kaget, dilihat penuh angin kencang disertai badai parah yang luar biasa dari arah jendela melempar saya jauh semakin jauh terdiam terbujur kaku kembali lagi ke tempat semula, saat saya tengah berada di tempat tidur dan terbangun melihat jendela itu tertutup rapat dari sejak pertama tertidur dan tidak ada angin kencang bahkan badai apapun. 

Tersadar dari tidur, mungkin saya terlalu sedih khawatir karena seseorang (yang sampai sekarang dia tidak pernah paham kenyataan dirinya sendiri) yang tidak menyadari dirinya berjalan di jalan yang penuh kesulitan, ibarat mungkin dia akan kebingungan ataupun terpengaruh buruk karena di kerumunan tempat sebuah kota yang ramai, luas, dan besar, serta di kelilingi kawan-kawan yang tidak mengetahui jalannya kemana? Karena saya sangat mengkhwatirkannya hingga harus kembali mencarinya dan menolongnya agar selalu selamat dari bahaya, semoga dia mengerti, saya harus tetap kembali dari ambang batas demi dirinya yang sangat selalu saya pikirkan hingga saya tiada. 

Semoga cerita ini dibaca olehnya, dimanapun dia berada sekarang. Dia pasti akan selalu ingat kata-katanya pada saya prihal, "Seekor burung nuri yang pernah tersesat karena terus-menerus mencari-carinya untuk dapat selalu hidup bersamanya, Cinta Sejati saya dengannya ibarat Mencari Jarum di Antara Tumpukan Jerami.", hingga puluhan ratus ribuan tahun lamanya mencarinya, dari kehidupan satu ke kehidupan yang lainnya, hanya untuk menemukan dan menolong dirinya, hingga harus terjebak dan terus mengulang-ngulang kehidupan yang tidak bertepi ini, hanya untuk mengulang-ulang masalah yang sama, karena belum menemukan solusinya bersama. Seharusnya dia tidak pergi bersama kawan-kawan waktu badai itu ke kota, dan seharusnya saya tidak menyusulnya ke kota di saat badai es tengah datang di belakang saya. Semoga dia ingat suatu saat nanti, di kehidupan yang telah lampau (entah ratus puluh ribu tahun lalu), pernah berjanji bersama selamanya memasang pelita lilin dan dupa sambil bersumpah akan selalu bersama selamanya di depan altar yang suci, bersujud dan berdoa, untuk selalu bersama selamanya.
18-190818Written by : Kepik Romantis /PVA 

daveyoung.com/the-line-between-life-and-death/;encrypted-tbn0.gstatic.com 

No comments:

Post a Comment