Wednesday, June 17, 2020

Lucid Dream -Chapter 11-

Namaku Cherry. Setelah perbincangan dengan Gregorious Malaikat Pelindungku, aku jadi lumayan tahu banyak hal mengenai Archangel Zamael, Malaikat Pelindungku yang baru. Terutama, aku mendengar langsung dari Malaikat Gregorious, bahwa manusia yang dicintai oleh Gre adalah aku.

Aku, Cherry adalah memang gadis kecil biasa dari bumi. Tapi aku memiliki satu kekuatan rahasia yaitu kekuatan Cinta. Aku sangat mahir bermain Cinta. Siapapun manusia yang mendekatiku pasti jatuh cinta kepadaku, tak terkecuali malaikat pelindungku sendiri.

Tapi memang aku sayang kepada semua orang yang mencintaiku. Jadinya, mungkin rasa cinta yang ada di dalam diri orang-orang untukku adalah pantulan dari hatiku sendiri. Aku mencintai mereka yang mencintaiku. Tapi ya hanya cinta, tidak ada keinginan yang lebih dari itu.

Aku senang menyimpan rasa cinta di dalam dadaku. Cinta membuat hari-hariku menjadi bahagia dan berarti...

Malam ini aku tertidur di pangkuan Malaikat Gregorious sambil memeluk boneka beruang seukuran tubuh mungilku.
Gregorious nampak menyelimuti tubuhku dengan sehelai selimut tebal, agar aku tak kedinginan. Ia terus membelai lembut rambutku.

Dia nampak sangat bahagia sekali sudah mengutarakan perasaannya kepadaku. Yah, meski dia pun juga tak berharap aku akan membalas perasaannya. Karena, Archangel Zamael sudah memperingatinya untuk tidak jatuh cinta kepada manusia sepertiku.

Aku juga tak ingin membuat Gregorious menderita karena mencintaiku. Karena itu akan menyakiti dirinya. Membuatnya kehilangan kedua sayapnya dan kekuatan malaikatnya.

Aku pernah merasakan sakitnya jatuh cinta pada orang yang salah karena berbeda alam. Dan itu membuatku menjadi hampir gila. Aku tak ingin Gregorious mengalami rasa sakit yang sama seperti yang kurasakan di kehidupan lampauku, jauh sebelum kehidupanku saat ini, sebelum bumi dulu pernah hancur dan terbentuk kembali. Entah berapa masa...

Dulu, sewaktu aku masih menjadi sesosok malaikat pelindung, aku pernah mencintai seorang pria manusia...sangat mencintainya... hingga aku berbuat kesalahan fatal. Kami melakukan hubungan terlarang, antara malaikat dan manusia.

Lalu setelah sadar, aku menghilang dan pergi menyendiri meninggalkan pria manusia itu. Aku tak tahu lagi bagaimana kelanjutan ceritaku dengannya. Aku juga tak tahu lagi bagaimana takdir kehidupan pria itu di masa ini. Dan aku tak berharap juga bisa bertemu dengannya...sungguh.

Malam itu aku tertidur lelap.
Sangat terlelap sekali.
Hingga bermimpi...

Aku melihat sesosok malaikat dengan keempat sayapnya dari kejauhan, di sebuah kebun belakang rumahku. Dia adalah Archangel Zamael, sang Malaikat Kematian itu, sekaligus Malaikat Pelindungku yang baru.

Dia nampak mengenakan pakaian serba putih dengan aksen keemasan, seperti seorang bangsawan...atau raja...ah, aku tak tahu. Yang aku tahu, saat ini ia tersenyum hangat kepadaku.

Dia mengulurkan tangannya menyambutku, "Cherry, kemarilah..." katanya dalam mimpiku.

Aku menghampirinya.

"Maukah kau terbang bersamaku, Cherry?" katanya sangat lembut sambil tersenyum menatapku yang mungil, mungkin tinggiku hanya setinggi dadanya saja.

Dalam mimpiku, aku mengenakan daster tidurku yang berwarna putih tanpa lengan. Aku menjawab pertanyaannya dengan sumringah, "Mau. Tapi..."

"Tapi apa...?" tanyanya masih lembut sedikit menunduk dan membelai pipi mungilku.

"Tapi bagaimana caranya? Aku tak punya sayap," jawabku polos.

Zamael pun tersenyum, "Jangan khawatir. Aku akan mengajarimu memunculkan sayapmu sendiri dan terbang bersamaku."

"Baiklah," jawabku singkat dan sumringah.

"Pertama-tama, kamu harus konsentrasi penuh. Niatkan agar kedua sayapmu mengembang sempurna dari balik punggungmu. Jangan berpikir apapun. Ringan saja..." pandunya padaku.

Aku pun mengikuti instruksinya. Sehingga aku berhasil memunculkan kedua sayap putihku perlahan-lahan, dan melayang perlahan-lahan. "Aku bisa terbang...aku bisa terbang..." teriakku kegirangan.

"Nah, sekarang kamu harus kendalikan dirimu supaya kamu dapat mengendalikan kedua sayapmu, Cherry," pandunya lagi.

Aku pun mengikuti instruksinya dengan persis. Aku berusaha menenangkan diri untuk bisa mengendalikan kedua sayapku.

Akhirnya aku berhasil melayang lebih tinggi lagi.

Zamael melayang menghampiriku dengan keempat sayap archangelnya. Begitu aku sedikit menguasai pelajaran terbang dengan kedua sayapku, Zamael langsung meraih salah satu telapak tangan mungilku. Dia mengajakku terbang bersamanya...

Aku pun berteriak kaget. Karena dia menarik tanganku untuk terbang bersamanya dalam kecepatan yang sangat tinggi. "Zamael...hentikan!"

Mendadak ia pun menangkap tubuh mungilku ke dalam pelukannya sambil melayang di atas awan-awan putih. "Ups, maaf..." katanya.

Kami melayang perlahan dengan mengibaskan sayap-sayap malaikat kami. Aku...aku tak biasa memiliki sayap lagi, setelah kejadian di masa lampau itu...

"Cherry, kau suka?" tanya Zamael perlahan.

"Iya, aku suka...sangat suka..." jawabku tersenyum padanya.

"Syukurlah, Cherry..." pintanya.

Kami pun terdiam sambil masih menikmati pemandangan di bawah awan itu. Sangat indah. Kami dapat melihat seluruh negeri dari atas awan-awan.

Archangel Zamael memang malaikat yang tahu apa yang aku sukai. Dia hampir membuat emosiku bergejolak...termasuk cinta.

Eh, apakah aku benar-benar mencintainya? Mengapa bisa secepat ini? Dia baru hadir beberapa kali dalam hidupku, masakah aku sudah memiliki rasa cinta terhadapnya?
Tapi, rasa cinta yang aku miliki agak berbeda dengan rasa cintaku terhadap Gregorious, Malaikat Pelindungku yang satunya. Kalau kepada Zamael, aku merasakan perasaan cinta yang begitu besar...begitu dalam...dan sangat mencintainya. Aku seperti sudah mengenalnya dengan baik.

Lagi-lagi sebuah tanda tanya besar itu muncul kembali dalam benakku : Siapakah Archangel Zamael di kehidupan masa laluku?

Aku menatapnya begitu lama, sehingga melewatkan berbagai pemandangan indah di bawahku. Bagiku, menatapnya adalah suatu keindahan tersendiri. Ada rasa rindu...sedih...dan cinta bercampur jadi satu.

Tiba-tiba aku meneteskan air mataku perlahan. Dan ia selalu tahu ketika aku meneteskan air mataku. Dia mengusap air mataku dengan tangan kirinya. Tangan kanannya masih merengkuh tubuhku dalam pelukannya sambil kami terbang bersama.

"Kamu tidak apa-apa, Cherry?" tanyanya.

"T...tidak apa," jawabku sembari mengusapkan air mataku sendiri yang sudah menetes di kedua pipiku.

Kini kami tiba di sebuah gereja tua. Tidak ada seorang pun malam itu. Gereja itu penuh debu dimana-mana, dan sarang laba-laba yang banyak. Hanya ada sedikit cahaya bulan yang masuk melalui ventilasi jendelanya.

Kami berdiri di depan altarnya. Altarnya pun sangat kotor dan berdebu. Hanya ada meja altar dan tabut suci dibelakangnya yang sudah usang dan dihinggapi sarang laba-laba di sekitarnya.

Kini kami saling berhadapan dan saling memandang satu sama lain. Aku dapat merasakan nafasnya. Begitu lembut.

Dia membelai rambutku dengan penuh kasih sayang. Mendekapku semakin erat, dan mencium bibir mungilku dengan sangat hati-hati. Sehingga membuatku sedikit berjinjit agar aku dapat menyambut ciuman kasih sayangnya.

Lagi-lagi kami melakukannya, sudah yang kedua kalinya. Tapi aku belum yakin, apakah dia benar-benar memiliki perasaan yang sama seperti perasaan yang aku rasakan. Aku pun juga tidak tahu pasti perasaan macam apakah yang aku rasakan kepadanya. Sangat berbeda...

Gereja tua...
Ciuman...
Malaikat...
Dan manusia...

Aku seperti de javu. Aku seperti pernah mengalami hal ini persis. Tapi dimana?

Semakin lama dia menciumku, semakin membuatku mengingat semua masa laluku. Seperti sebuah video yang diputar mundur. Hingga aku menemukan suatu kehidupan lampau dimana dulu aku pernah menjadi seorang malaikat wanita yang sangat cantik. Lebih cantik dan anggun dari saat ini, bahkan...

Masakah dia adalah...??

"Apa kau sudah bisa mengingatnya, Cherry?" tanyanya sedikit berbisik di depan bibirku.

Aku terdiam. Terkaku.

"Dulu kita pernah melakukan ini...disini..." katanya hampir berbisik di telingaku.

Aku pun terkaget setengah mati. Aku termundur selangkah menjauhi dekapannya. "Tidak mungkin...kau...adalah manusia yang pernah aku cintai di kehidupan masa laluku, sebelum ini..." aku pun tak kuasa meneteskan air mataku.

Archangel Zamael terdiam. Dan ia hanya menatap wajahku yang basah karena air mata. Dia berusaha mengusap air mataku perlahan, dengan sangat hati-hati. Tapi air mataku terus menetes, lebih deras lagi...

Bagaikan sebuah ingatan mundur yang menghantuiku. Rasa kesedihan yang amat dalam dari masa laluku. Cinta yang membuat kedua sayapku lenyap waktu itu...

"Bukan kedua sayap, Cherry..." Zamael memulai percakapan ini, membuka memori kehidupan masa lampau kami. "Tapi keempat sayap...kau adalah seorang archangel, dahulu kala, sama sepertiku saat ini."

Mataku membelalak lebar. Seakan tidak mempercayainya. Air mataku masih deras mengalir.

"Archangel Jophiel, Malaikat Pelindung yang sangat aku cintai...dulu," lanjutnya tak melepaskan pandangannya pada kedua mataku.

Aku masih terdiam kaku. Dia melengkapi semua memoriku yang dulu pernah hilang. Aku memang tak begitu mengingat jelas kehidupan lampauku, karena keterbatasanku sebagai manusia.

"Dan...keempat sayapmu tidak lenyap waktu itu ketika menciumku, Jophiel. Seandainya..."

"Cukup...cukup, Zamael...aku tidak mau dengar lagi," pintaku sambil menutup erat kedua telingaku. Aku benar-benar tak ingin dia melanjutkan ceritanya. Karena sangat sakit rasanya.

Kedua lututku lunglai, lemas. Aku terjatuh di lantai depan altar gereja itu. Aku hanya bisa menangis.

Zamael terus menenangkanku dengan mengusap kepalaku dan membelai rambutku dengan lembut.

"Mengapa...mengapa kita bertemu kembali? Padahal, aku sudah mengubur masa-masa itu sangat dalam...dalam sekali," tanyaku pada Zamael masih terisak.

"Karena kemurahan hati Bapa, Cherry... untuk memperbaiki semuanya... yang dulu pernah rusak," jawab Zamael kepadaku. "Kehilanganmu waktu itu,membuatku cukup terpukul, sakit, dan membencimu. Tapi sekaligus masih mencintaimu."

Aku berhenti terisak dan menatap wajahnya yang sedih...amat sedih...

"Karena kebencian yang amat sangat dalam diriku, aku dilahirkan menjadi iblis di neraka...terus-menerus..." kisahnya.

"Aku juga menderita, Zamael...aku benci jatuh cinta pada pria manusia. Aku selalu dilahirkan menjadi manusia dengan banyak kisah cinta memilukan sepanjang kelahiranku. Aku pernah terlahir berkali-kali menjadi seorang wanita pemuas dalam banyak peperangan. Lalu setelah kesadaranku bertumbuh, aku terlahir menjadi seorang pertapa wanita. Dan lagi-lagi aku mencintai pria yang salah, sesama pertapa waktu itu. Seakan kisah cintaku tak ada yang abadi, selalu berakhir dengan kisah yang tragis, Zamael...".

"Ya...aku tahu semuanya...semuanya..." Zamael berbisik, suaranya pilu. "Untuk itulah aku mengirimkan malaikat pelindung untuk menjagamu, dari satu kelahiran ke kelahiran berikutnya...termasuk Gregorious anak buahku..."

"Apa...? Ternyata, kau masih memperdulikan aku?" tanyaku. "Kalau kau masih memperdulikan aku, mengapa tidak kau sendiri yang menjagaku, sepanjang kelahiranku?" tanyaku agak meninggi.

"Karena..." suaranya terhenti.

"Karena apa?..." tanyaku.

"Karena aku pernah bersumpah pada diriku sendiri, untuk tidak pernah lagi menemuimu..." jawabnya sembari meneteskan air mata pada salah satu pelupuk matanya.

Hatiku menjadi semakin sakit melihat air matanya mengalir. Baru kali ini aku melihatnya meneteskan air mata kesedihan, yang amat teramat dalam. Malaikat Kematian pun bisa menangis juga...

Mengapa Bapa membuat semua skenario ini?
Mengapa Bapa mempertemukan kita kembali?
Pertanyaan itu terus-menerus membuatku sedih sembari menatap tabut suci usang pada altar di depan kami.

Tiba-tiba Bapa bersuara dalam hatiku :
"Aku tahu yang terbaik untuk kalian, anak-anakKu. Semua akan indah pada waktunya..."

Air mataku mengalir deras.

Zamael membuat tanda salib dalam tangisannya. Atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amen. Dan berakhir dengan mencium jari jempolnya, "Thank you, Father...I love You, so much..." bisiknya.

Lalu Archangel Zamael berdiri di depanku yang masih terduduk lemas. "Cherry..." seraya mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.

Aku meraih tangannya. Dan berdiri kembali.

"Masa lalu biarlah menjadi masa lalu yang berlalu. Kita memang tidak bisa menguburnya dalam-dalam. Karena masa lalu adalah bagian dari diri kita sendiri, Cherry. Sekarang kita harus menatap masa depan dan melanjutkan perjalanan kehidupan ini," katanya sambil membelai pipiku lembut.

Aku mengangguk perlahan dan mengusap air mataku, "Maafkan aku..." Lalu aku menatapnya penuh penyesalan akan masa lalu, "Maafkan aku karena telah meninggalkanmu di masa lalu..."

Zamael segera memeluk tubuhku erat...sangat erat. Seakan tak ingin melepaskanku, "Ssshhtt..." kami hening bersama. "Aku sudah memaafkanmu, Jophiel..." katanya berbisik di telingaku.

Air mataku menetes kembali dalam pelukannya.

"Bapa mempertemukan kita kembali saat ini supaya kita bisa saling memurnikan diri lebih sempurna, Cherry...aku membutuhkanmu..." katanya masih membelai pipi mungilku seraya mengusapkan air mataku.

"Aku tak mengerti, Zamael..."

"Kamulah satu-satunya manusia, yang bisa memurnikan kegelapan di dalam diriku...Cherry Light..." jawabnya dengan menyebut nama panjangku, Light...

Tiba-tiba ia menghilang perlahan bersama cahaya bulan yang masuk melalui ventilasi jendela gereja.

Dan aku pun terbangun dari tidurku.
Hanya mimpi ternyata...

Ah, langit masih gelap ternyata. Dan Gre tertidur duduk di kursi sampingku, menggenggam tangan mungilku.

Aku pun tersenyum atas mimpi yang baru saja hadir. Seperti bukan mimpi rasanya. Mimpi itu terasa nyata. Mataku sedikit basah karena terbawa oleh mimpi barusan.

Aku mengusap air mataku.
Dan kembali tertidur...

Written by : Yanti Kumalasari, S.Ds.
Fan-page Writer :  https://www.facebook.com/thesoulreader.jkt/
Editing by : Kepik Romantis / PVA

Tuesday, May 26, 2020

Sabar dan Ikhlas

Picture Source : https://me.me/i/sebab-ikhlas-itu-tak-terucap-sedang-sabar-itu-tak-berujung-5629426

Ciuman Pertama -Chapter 10-

Namaku Cherry. Aku adalah gadis kecil, biasa, lugu dan mudah berempati dengan lingkungan sekitar. Kini, karena kebaikan Bapa, aku memiliki dua Malaikat Pelindung yang baik hati. Archangel Zamael dan Malaikat Gregorious. Mereka diutus Bapa untuk membantu tugas pelayanan Bapa di dunia ini.

Tugasku sederhana, yaitu membawa Kebahagiaan bagi Semua Makhluk dengan kekuatan Cinta KasihNya.

Archangel Zamael beserta pasukannya belakangan ini sangat giat melaksanakan tugas pemurnian para makhluk kegelapan di alam menderita yang berusaha menghasut pikiran manusia di negeri ini. Mereka melakukan tugasnya dengan sangat baik. Berhari-hari dalam perhitungan waktu manusia. Tanpa tidur maupun beristirahat.

Namun suatu ketika, aku melihat Zamael dan segelintir pasukannya sedang beristirahat di kebun rumahku. Mereka nampak kelelahan di balik jirah perang yang mereka kenakan.

Akupun mendekati mereka. Beranjali, mengatupkan kedua telapak tanganku di depan dadaku kepada mereka sebagai tanda 'terima kasih'.

Lalu aku menghampiri Zamael. Ia nampak sedang tertidur di sana, dalam posisi duduk bersandarkan pada sebuah pohon yang rindang di kebun tamanku. Dia tidak bergerak.

Aku mencoba membuka jirah penutup wajahnya itu. Supaya ia bisa beristirahat dengan nyaman, pikirku. Ditambah rasa penasarananku yang cukup besar tentang dirinya.

Bagiku, Zamael adalah Sang Malaikat Kematian yang mengerikan, sekaligus lembut hatinya. Buktinya, ia memberikanku sekuntum bunga mawar merah yang indah ketika aku sedang tertidur lelap. Entah apa maksudnya. Katanya, sebagai penyemangat tugasku.

Aku berhasil membuka jirah penutup wajahnya. Kini aku bisa melihat setiap lekuk wajahnya yang tegas. Matanya terpejam. Nafasnya sangat tenang dalam tidurnya.

Tanpa sadar, aku melihatnya sangat dekat...terlalu dekat. Tiba-tiba saja ia terbangun, dan...oh, dia mencium bibirku, dengan cepat. Aku tak sempat untuk berpikir dan menghindar. Tidak, nanti keempat sayapnya akan...ah, aku tak dapat berpikir apapun saat ini. Aku terhanyut ke dalam momen saat ini. Pikiranku terhenti. Aku hanya menikmati bibirnya yang lembut menyentuh bibir mungilku.

Saat itu juga, aku merasakan kedua energi murni kami menyatu, dan memancar ke seluruh penjuru alam semesta. Seperti sebuah pilar energi yang besar di atas kami, dan menyebar ke seluruh penjuru bagaikan serpihan dandelion yang terbang tertiup angin. Aku tidak tahu bagaimana prosesnya. Sangat cepat. Tidak sempat membuatku berpikir.

Baru kali ini aku merasakan berciuman. Aku tidak tahu, apakah berciuman dengan manusia akan sama seperti hal yang kurasakan saat ini.

Cukup lama momen itu. Membuat rekan-rekannya yang ada disana memperhatikan kami berdua, karena energi kasih yang memancar ke seluruh penjuru semesta ini sangat hebat. Membuat tengah dada semua makhluk bergetar, untuk sesaat.

Gregorious, Malaikat Pelindungku pun juga ada disana, memperhatikan kami. Aku tak tahu apa yang ada di dalam pikiran Gregorious saat ini...

"Zamael..." desahku.

"Ya...?" jawabnya, sambil masih melumat bibir mungilku dengan sempurna.

"Cu...kup..." pintaku padanya berbisik sembari sedikit mendorong tubuhnya perlahan.

Dia menghentikannya sesuai pintaku. Dia menatap ke dalam kedua bola mataku. Aku pun demikian. Rasa ini, ah...rasanya pernah terjadi. Bukan saat ini saja. Tapi entah kapan...

Dia membelai rambut panjangku dengan lembut. Masih menatap mataku dengan lembut. Baru kali ini aku merasakan sisi kelembutannya yang paling lembut.

"Sudah kan...kau tidak penasaran lagi tentang diriku?" tanyanya.

Ah...dia bisa membaca pikiranku. Rasa penasaranku memang hilang. Tapi saat ini justru menimbulkan suatu tanda tanya besar yang baru di dalam benakku : Siapakah dia di kehidupan masa laluku? Rasanya, aku mengenalnya dengan sangat baik...sangat...

Sudahlah, nanti saja aku mencari tahunya sendiri. Atau, aku bisa bertanya pada Gre, Malaikat Pelindungku satunya. Mungkin dia tahu sesuatu. Yah, itupun jika dia mau memberitahukannya padaku. Sebab, tidak semua rahasia bisa dia beritahukan padaku.

"Rasanya, aku pernah mengenalmu...jauh sebelum ini, Zamael..." jawabku.

Dia terdiam sesaat, dan terus memandangku.

"Ya," hanya itu jawabannya, tanpa melepaskan pandangannya dariku.

"Ah, aku baru ingat, sayapmu..."

"Aku baik-baik saja," katanya tersenyum menatapku.

"Mengapa sayap malaikatmu tidak lenyap...sepertiku dulu...?" tanyaku.

"Dulu...?" dia tersentak. Aku dapat melihatnya dari raut wajahnya.

Lalu ia pun bangkit berdiri, dan mengambil jirah penutup wajahnya dengan salah satu tangannya.
Dia berbalik memalingkan wajahnya dariku, menuju rekan-rekan malaikatnya. Rekan-rekan malaikatnya juga bersiap, membereskan diri dan bangkit berdiri kembali.

Dia menengokkan kepalanya sedikit ke arahku, "Karena aku adalah Archangel Kematian. Nafsu dan Cinta memang adalah bagian dari dalam diriku. Dan keduanya tak bisa mempengaruhiku."

Aku hanya menatapnya berjalan bersama rekan-rekan malaikatnya, dan melayang, terbang...lalu menghilang, kembali ke surga tempat mereka tinggal. Meninggalkan aku dan Gregorious, Malaikat Pelindungku...

Hanya desiran angin yang kudengar kini.
Begitu sunyi...meninggalkan sebuah tanya.

Malam pun tiba.

Aku terdiam dan memeluk erat boneka beruang seukuran tubuhku di atas tempat tidurku. Tatapanku kosong. Pikiranku tak berhenti memikirkan Archangel Zamael. Dan ciuman tadi siang itu...

"Cherry..." Gregorious menghampiriku. Berusaha memecah keheningan ini. "Dari tadi siang kamu terdiam saja. Sampai tidak makan malam..."

Aku masih terdiam. Ingin berteriak, tapi tak tahu kemana. Salah-salah orang mengataiku "gila".

Aku terus berusaha mengingat kehidupan lampauku, mencari tahu siapa aku dan Zamael di kehidupan lampau. Tapi tak kunjung muncul ingatan itu.

Ingatan yang mana? Kehidupan masa lampau ke berapa ribu yang harus aku ingat? Banyak dan rumit sekali. Aku tidak bisa berkonsentrasi untuk mengingatnya...sama sekali.

"Cherry, apa kamu butuh teman bicara?" Gregorious membelai rambutku dengan lembut dan tersenyum hangat. Aku dapat merasakan Cinta Kasihnya sungguh memancar sempurna untukku.

Kepalaku pun jatuh rebah di pangkuan Gregorious, Malaikat Pelindungku. "Aku tak tahu harus memulainya dari mana, Gre..."

"Ceritakanlah..." pinta Gre sambil tersenyum masih membelai rambutku.

"Bolehkah, kau menceritakan tentang siapa Archangel Zamael, sebanyak yang kau tau... untukku, Gre...?" mintaku sambil memelas menatap matanya.

Gre nampak menarik nafas panjang. "Baik, Cherry. Aku akan menceritakan tentangnya, untukmu. Tapi, hanya yang boleh kuceritakan untukmu saja. Dan hanya ceritera yang tidak akan mempengaruhi takdirmu, Cherry..." jawabnya.

"Baiklah. Tidak apa. Aku siap mendengarkanmu, Gre. Ceritakanlah..."

"Dahulu kala, jauh sebelum terbentuknya bumi di masa yang sekarang, hiduplah seorang iblis yang paling ditakuti di seluruh alam menderita. Dia terkenal sangat keji, sadis, dan mengerikan di neraka. Bahkan, beritanya terdengar sampai ke alam surga.

...Zamael namanya.

Tapi ia hanya membunuh dan memakan makhluk yang memiliki dosa-dosa berat. Tanpa kenal ampun, dia mencabut nyawa para makhluk itu membabi buta. Hingga dia menjadi pemimpin para iblis terkuat di neraka.
Suatu hari, karena belas kasih Bapa, Bapa melihat keadilan dan kebijaksanaan di dalam hatinya. BagiNya, Zamael adalah iblis yang langka. Dia tidak membunuh makhluk-makhluk di alam neraka tanpa sebab. Dia membunuh bukan untuk kesenangan dirinya.

Lalu, berjuta kalpa kemudian, Bapa mengangkat Zamael menjadi pemimpin para malaikat terkuat di surga, menjadi salah satu dari tujuh Archangel terkuat di surga."

"Waaahhh...hebattt!!" Aku memperhatikan ceritera Gregorious tanpa berkedip sedetik pun. "Lalu, lalu???" ekspresiku penasaran mendengarkan ceritanya.

Gre tersenyum padaku yang tengah berbaring di pangkuannya. "Iya, iya, sabar ya, puteri kecil..." candanya menenangkan gairahku. "Dan aku termasuk menjadi pasukannya, Tuanku Archangel Zamael. Suatu hari, dia pun mengangkatku menjadi salah satu komandan perangnya di pertempuran berikutnya. Sejak saat itu, aku berteman baik dengannya. Dia adalah Tuan, sekaligus sahabatku ketika di sorga."

"Lalu, bagaimana denganku dalam kehidupan masa lalunya, Gre?"

Gregorious terdiam. Ia nampak tak bisa menceritakan pertanyaan sederhana yang kulontarkan itu.

"Apakah dulu aku pernah menjadi kekasihnya di neraka?" tanyaku polos.

Gre terkejut menatapku. "Tidak...tidak Cherry. Kamu tidak pernah dilahirkan di neraka. Tapi, justru kamu yang membuat ribuan malaikat pelidung yang melindungimu jatuh ke neraka, dari satu kelahiran ke kelahiran berikutnya. Hahaha..."

"Gre serius??" tanyaku mengernyitkan dahi.

"Awalnya aku tidak tahu hal ini. Tapi Tuanku yang menceritakannya. Dia yang memperingatkanku agar aku tidak jatuh cinta padamu, Cherry," jawabnya sambil mencubit hidungku.

"Apa? Gre jatuh cinta sama Cherry ternyata? Hahahaha..." tawaku sambil memeluk boneka beruang seukuran tubuhku itu.

Gregorious tersipu malu, wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Hahaha...tawaku. Sangat jahat ya aku ini. Menertawakan perasaan Gre, Malaikat Pelindungku. Haduh, perutku agak mules karena tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan darinya.

"Gre, mari berjanji..." aku mengangkat satu jari kelingkingku di depan wajahnya. "Kita akan selalu menjadi sahabat dalam seperjalanan ini, dan kita akan mencapai Pencerahan bersama-sama, ya?"

Gre pun menatap jari kelingkingku yang mungil di depan wajahnya sambil masih berbaring di pangkuannya. "Janji..." jawabnya sembari jari kelingkingnya yang besar dan kokoh itu dikaitkannya pada jari kelingkingku yang hanya sepertiga jari kelingkingnya.

"Cherry juga mencintai Gre...Cherry pasti sangat merindukan Gre jika Gre pergi nanti..." kataku sembari masih mengaitkan jari kelingkingku pada jari kelingkingnya dengan tatapan berkaca-kaca.

Gre tersenyum. "Aku berhutang budi pada Tuanku, Archangel Zamael. Dia membuatku memahami arti Cinta manusia yang fana. Kejadian tadi siang itu membuatku tersadar bahwa aku masih dipenuhi oleh hawa nafsu malaikatku...

Seandainya, siang tadi adalah aku yang menciummu, Cherry, kedua sayapku pasti lenyap saat itu juga. Dan aku tak memiliki kekuatan untuk melindungimu sampai kamu menjadi Cherry yang Bijaksana kelak."

"Tapi, kenapa keempat sayapnya tidak lenyap ketika menciumku tadi siang?" tanyaku penasaran.

"Karena dia adalah Archangel. Seorang Archangel setidaknya lebih murni dari seorang malaikat biasa, sepertiku. Dimana, ego dan nafsu tidak lagi bisa menguasai dirinya..." jelasnya.

"Apakah dia juga mencintaiku...?" tanyaku pada Gre.

Gre terdiam. "Kalau itu aku tidak tahu. Aku tidak memahami kondisi hati dan pikiran untuk setingkat Archangel sepertinya."

Aku terdiam...

"Kita harus belajar banyak darinya, Cherry..." kata Gregorious menatapku dengan serius.

Sementara di surga...

Archangel Zamael terduduk di kursi tahta kerajaannya di alam surga tingkat lima. Kali ini dia mengenakan pakaian seorang raja, berwarna putih dengan aksen keemasan. Dia juga mengenakan sebuah mahkota di kepalanya.

"Tuanku...apa yang membuat Tuanku terdiam semenjak Tuanku pulang berperang dari bumi?" tanya salah seorang malaikat penasehatnya.

"Banyak hal..." jawab Zamael singkat.

"Dengar-dengar Tuanku telah bertemu dengan seorang gadis kecil dari kehidupan masa lalu Tuanku di bumi?" tanya malaikat penasehat lainnya yang kedua.

"Ya, aku bertemu dengan gadis kecil itu. Dan sayangnya, kebijaksanaannya masih jauh..." Zamael yang tadinya tegang, kini merebahkan badannya pada sandaran kursi tahtanya. "Dia masih memiliki nafsu dan ego manusia yang cukup besar...entah berapa kelahiran lagi dia bisa menjadi bijaksana," lanjutnya.

"Hahaha...apakah Tuanku belum mengerti juga? Mengapa Tuanku dipertemukan dengan gadis kecil bumi itu?" tanya malaikat penasehatnya yang kedua. Zamael terdiam, sambil mengunyah buah-buahan yang lezat dan segar ala surgawi.

"Tuanku dipertemukan dengannya untuk tujuan percepatan pembelajaran spiritual gadis kecil itu. Tidak akan lama lagi gadis kecil itu akan menjadi Bijaksana..." jelas malaikat penasehatnya yang kedua.

"Ohya? Berapa lama lagi?" tanya Zamael sambil mengunyah buah apelnya.

Malaikat penasehatnya yang kedua itu mendekat ke kursi tahta Zamael, "Itu rahasia langit, Tuanku..." jawabnya sembari berbisik di telinga Zamael. "Tuanku juga harus menyempurnakan diri lagi. Hanya gadis kecil itu yang bisa memurnikan kegelapan yang ada di dalam diri Tuanku," lanjutnya lagi.

"Kau benar," sahutnya kepada malaikat penasehatnya seraya berjalan menuruni anak tangga tahtanya.

"Ah...Tuanku mau kemana?" tanya malaikat penasehat yang pertama.

"Ke bumi, ke tempat gadis itu," jawab Zamael.
"Ah...Tuanku jangan gegabah. Jangan mengikuti ego Tuanku. Apakah Bapa mengizinkan atau tidak pertemuan Tuanku dengannya malam ini di bumi?" tanya malaikat penasehatnya yang pertama dengan cemas.

Langkah Zamael terhenti. Dia berpikir. "Benar, aku tidak boleh gegabah. Aku akan masuk ke dalam mimpinya saja..." kata Archangel Zamael.

Written by : Yanti Kumalasari, S.Ds.
Editing by : Kepik Romantis / PVA

Saturday, April 25, 2020

Senandung Relung Batin


Menatap lautan luas tak bertepi,
Menyapa kesedihan suasana hati,
Seolah suara alam menyapa batin semua makhluk di dunia ini,
Memperhatikan setiap langkah kaki menapaki kehidupan ini.
Untaian doa meluluhkan air mata,
Sekejap tertiup angin nestapa...
Nelangsa dalam raga dan sukma,
Melepas dalam hembusan legawa...
Menarik nafas dengan menyebut kebesaran KuasaNya,
Terimalah sujud, doa dan ampunan hamba...
Semoga semua makhluk senantiasa selamat dan berbahagia.

250420 Written by : Kepik Romantis / PVA 

Meditasi Tong Len "Terima Kasih" - Chapter 9 -

Sudah beberapa pekan ini pikiranku terhenti untuk sesaat. Aku tak bisa berpikir apapun tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia ini. Rutinitasku hanyalah rutinitas biasa, begitu-begitu saja. Namun batinku terus mencari sebuah tempat kedamaian. Dimana aku bisa menjadi bermanfaat, disitulah rumah kedamaianku.

Ada sesuatu yang harus dilakukan dengan batinku, maka pikiranku dihentikan untuk sesaat. Ada suatu energi besar yang datang menantiku, maka pikiranku dikosongkan dari segala ego dan keinginan duniawi sesaat.

Aku tahu bahwa energi ini datang bukan untuk kusimpan seorang diri. Ia datang untuk aku persembahkan kembali pada Hyang Agung, Bapa Yang Maha Sempurna. Biar Dialah yang mengolahNya menjadi kepentingan semua makhluk di semua alam menderita. Sebab, aku hanyalah manusia biasa yang masih jauh dari sempurna.

Aku hanya berjalan mengikuti aliran air yang ada. Berhenti ketika alirannya terhenti oleh karena batu yang menghalangi alirannya. Lalu berjalan kembali saat airnya mampu melubangi batu itu sehingga airnya dapat mengalir kembali. Begitulah sederhananya jalanku.

"Gregorious, Malaikat Pelindungku yang baik, sebenarnya ada apakah sehingga batinku terus mencari tempat kedamaian ini?" tanyaku pada Malaikat Pelindungku.

Gre hanya tersenyum. "Nanti akan ada saatnya," seperti itu jawabnya.

Sudah beberapa hari ini aku meminta petunjuk kepada kedua Malaikat Pelindungku, Gregorious dan Archangel Zamael. Tapi tak kunjung ada jawabannya. Mereka mendiamkanku. Mereka membuatku mencari tahu jalanku sendiri. Namun mereka selalu mengawasiku.

Ketika bertanya pada Archangel Zamael. Tak sepatah kata keluar dari bibirnya.

Hanya saja, pernah suatu malam ia menghampiri kamarku. Dia mendekat kepadaku, seolah dia mengenalku sangat baik. Dia begitu hangatnya membelai pipiku, seolah mengucapkan "semua akan baik-baik saja." Hanya itu. Sekali saja.

Keberadaannya agak jauh dariku. Dia belum bisa terlalu dekat denganku, seperti Gre. Karena jiwa dan ragaku belum bisa menerima energi kegelapan yang dia miliki. Dan aku harus terus memurnikan diriku, lagi...dan lagi, katanya.

Meski aku memiliki kedua sayap malaikatku ketika samadhi mendalam, namun realitas sesungguhnya aku hanyalah seorang pejalan. Aku tak mampu terbang maupun berlari cepat dalam pembelajaran spiritualku.

Bapa menyuruhku berjalan...dan berjalan. Agar aku dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang manusia biasa yang berdampingan dengan penderitaan dunia ini.

Belakangan ini cuaca dan alam sangat ekstrim menghantam, ditambah carut marutnya negeri oleh sebab politik. Manusia diliputi oleh kengerian, dan ketakutan akan tragedi puluhan tahun silam. Ditambah alam sedang tidak bersahabat. Dimana-mana sering terjadi bencana dan erupsi gunung. Membuat cuaca sedemikian panasnya.

Siang itu, aku hanya seorang diri. Ayah dan Bundaku sedang pergi menginap ke luar kota untuk menghadiri suatu pertemuan rekan bisnisnya.

Cuaca demikian panasnya hingga membuatku terus-terusan meminum es kopi susu espresso double shot di sofa ruang tamuku.

Aku terus memperhatikan bunga mawar merah yang cukup segar di dalam pot bungaku. Aku mendapatkan bunga mawar ini secara tiba-tiba ketika aku tertidur semalam.

Tiba-tiba Zamael menghampiriku dan duduk di sebelahku. Kami berbincang-bincang.

"Selamat siang, Cherry," sapanya sambil menundukkan kepalanya penuh hormat seperti biasanya. Dia mengenakan jirah perangnya dengan lengkap seperti biasanya.

"Hai, Zamael. Sudah lama tidak bertemu," sahutku tersenyum.

"Apa kau merindukanku?" tanyanya tiba-tiba.

Membuat kata-kataku tersedak di kerongkonganku sendiri. Percaya diri sekali dia ya. Aku membatin. Ah, tidak apalah. Biarpun begitu, dia cukup menghibur buatku. "Emm...tidak. Tidak rindu," jawabku berbohong.

"Benarkah? Aku bisa membaca pikiranmu, Cherry," katanya sambil merebahkan badannya pada sandaran sofa di sampingku.

Benar-benar menjengkelkannya dia, sekaligus menggemaskan...aku membatin. Jika dia seorang manusia pria, mungkin dia berbakat menjadi seorang playboy ulung.

"Oh ya, bunga mawar yang bagus," celetuknya tiba-tiba.

"Ah iya. Aku tidak tahu bunga mawar ini dari mana. Tiba-tiba saja sudah ada dalam genggaman tanganku ketika aku terbangun dari tidurku pagi tadi."

"Bunga mawar itu pemberian dari Tuanku, Cherry," jawab Gregorious sambil menundukkan kepalanya menghormati Tuannya, Archangel Zamael.

Aku pun tersentak. Aneh bagiku. Baru saja kenal, tapi sudah memberikanku sekuntum bunga mawar yang indah ini. Apa maksudnya? Menyebalkan, sekaligus menyenangkan juga sih...pikirku.

"Apa kau suka bunga mawar pemberian dariku itu?" tanya Zamael acuh tak acuh.
"Iya...aku suka...bunga mawarnya," jawabku terbata-bata karena agak gugup. "Terima kasih ya."

Tiba-tiba dia membangunkan badannya dan menatapku dari dekat. Jemari tangan kirinya menyentuh daguku. Aku dapat melihat jelas zirah penutup wajahnya itu. Aku masih penasaran, makhluk macam apakah yang ada di balik jirah penutup wajahnya itu. Aku membatin.

"Simpan bunga mawarnya sebagai kenang-kenangan dariku," jawabnya. "Tugasmu sudah dimulai. Bersiaplah, Cherry," bisiknya di samping telinga kananku.

"Apa? Tugas? Aku tak mengerti..." tanyaku sembari mengernyitkan dahiku.

"Coba kau lihat berita hari ini," suruhnya.

Aku bergegas menyalakan televisi di depanku dengan sebuah remote.

Aku menonton berita tentang penangkapan para tindak pelaku kriminal oleh Kapolri. Menurut berita tersebut, masih akan terus terjadi banyak tindakan kriminalitas di saat-saat seperti ini.

Aku pun melihat broadcast isu kekacauan negeri yang beredar dalam pesan-pesan di dalam selulerku. Dan beberapa sahabat yang menanyakanku dalam pesan apakah negeri akan rusuh seperti dulu atau tidaknya. Mereka hidup dalam ketakutan kini.

Batinku bergejolak oleh rasa belas kasihan terhadap para pelaku kriminal itu, dan juga terhadap para sahabat yang dilanda ketakutan dan kekhawatiran belakangan ini.

"Kau paham kan apa yang harus kau lakukan, Cherry?" tanya Zamael kepadaku.

"Iya. Aku mengerti," jawabku.

"Lakukanlah..." Zamael seakan memerintahkanku.

Aku berjalan ke arah ruang doa pribadiku yang ada di lantai satu itu. Lalu aku menyalakan kedua lilin pada altar suciku. Tak lupa menyalakan minyak dupa khas cendana kesukaanku. Sehingga membuat seluruh ruanganku menjadi harum. Biarlah semuanya itu menjadi persembahan terbaikku kepada Bapa.

Aku duduk bersila di atas bantal samadhiku. Hendak melakukan samadhi mendalam. Namun aku teringat sesuatu,

"Oh ya Zamael. Mengapa kau memberikan bunga mawar itu untukku?" tanyaku menatapnya.

Dia terdiam sejenak. "Sebagai penyemangat tugasmu," jawabnya.

Aku menutupkan mataku perlahan dan bernafas sebagaimana adanya, "Terima kasih, Zamael..."

"Ya. Oh ya, hanya mengingatkan...kafein tidak baik untuk batin dan tubuhmu beberapa waktu ini. Kurangi atau tidak sama sekali," nasehatnya padaku.

"Terima kasih, Zamael," jawabku membatin sambil tersenyum padanya. Ah, dia begitu memperhatikan kesehatanku.

Aku memulai samadhiku. Sebelum memulainya, aku memohon izin Para Guru dalam doaku. Aku berdoa :

"Bapa, biarlah anakMu bersamadhi untuk sesaat. Izinkanlah anakMu bersamadhi disini, saat ini. Bimbinglah anakMu selama samadhi ini. Semoga segala rintangan dan marabahaya ditransformasikan menjadi cahaya kesembuhan dan cahaya cinta kasihMu, ya Bapa. Amen."

Aku hening sebentar, memusatkan konsentrasi pada tengah dadaku. Menarik nafas. Membuang nafas. Begitu seterusnya. Itu saja sudah membuat seluruh batin dan tubuhku terasa ringan dan bahagia.

Dalam samadhiku, Bapa membimbingku. Bapa menggerakkan batinku. Batinku bekerja sebagaimana adanya.

Aku mencoba memberi diriku pada penderitaan semesta ini. Aku mengangkat kedua telapak tanganku dalam keadaan terbuka, tanpa keraguan. Biarlah jika ini menjadi kehendak Bapa, Bapa pasti menyertaiku. Aku membatin.

Aku menarik nafas dalam-dalam. Seperti dalamnya penderitaan semesta ini. Batinku menyerap semua kenegatifitasan yang ada pada semesta ini, beserta isinya.

Batinku berbicara :

"Bapa, biarlah seluruh kenegatifitasan semesta ini boleh kuterima di dalam diriku. Biarlah semua penderitaan semua makhluk menjadi penderitaanku."

Aku menerima semua kenegatifitasan yang ada di sekitarku dengan sebuah senyuman. Senyuman sukacita yang berasal dari kekuatan Bapa. Membuatku memahami apa arti dari penderitaan hidup ini.

Lalu batinku berbicara kembali seraya menggerakkan kedua tanganku membawa semua penderitaan itu ke tengah dadaku :

"Bapa, biarlah seluruh penderitaan ini aku terima ke dalam hatiku untuk ditransformasikan menjadi cahaya cinta dan penyembuhan bagi semua makhluk...

Bapa, biarlah segala ketakutan, kecemasan, kegelisahan, kebencian, amarah, keserakahan, dendam dan ketamakan ini Engkau ubahkan menjadi cahaya cinta dan penyembuhan bagi semua makhluk..."

Tak kuasa, air mataku menetes perlahan merasakan penderitaan yang hebat dari semua makhluk. Aku baru memahami saat itu. Mengapa di dalam penderitaan, justru ditemukannya sebuah rumah kedamaian.

Tengah dadaku terasa mengembang sempurna dan bahagia ketika proses transformasi itu. Aku justru merasa lebih bahagia, dan lebih bahagia lagi dari biasanya.

Dalam samadhi ini, aku tidak sendiri. Bapa bekerja melalui para malaikatNya, dan kedua Malaikat Pelindungku. Bukan aku yang memberikan perintah atas mereka. Tapi semuanya terjadi atas seizin Bapa.

Archangel Zamael yang adalah Malaikat Kematian memerintahkan ribuan pasukan malaikat langit lainnya menjalankan tugasnya saat itu. Dia benar-benar berubah jadi Malaikat Kematian yang menakutkan ketika berperang melawan para iblis dan kegelapan di enam alam menderita. Langit dan Bumi berperang, melawan Kegelapan selama proses penyerapan energi negatif itu.

Sedangkan Gregorious membuka gerbang surgawi yang cukup besar di atas Nusantara dengan mengangkat pedangnya pada salah satu tangannya.
Kedua sayap malaikatku pun kembali tumbuh dengan sempurna dan bercahaya.

Kini aku telah siap menyebarkan energi cinta kasih yang sudah ditransformasikan Bapa dari energi penderitaan semua makhluk.

Aku membuka kedua telapak tanganku dan berdoa. Demikian doaku :

"Bapa, kini aku berikan energi cinta kasihMu untuk diterima oleh semesta dan semua makhluk, semoga semuanya berbahagia. Amen."

Saat itu juga, nampak cahaya kekuningan dengan kerlipan keemasan keluar dari kedua telapak tanganku dan memancar sempurna ke segala penjuru alam semesta. Bagaikan serpihan bunga dandelion kuning keemasan yang berterbangan, menari dengan indahnya. Sangat indah.

Aku memancarkan serpihan Cinta Kasih itu untuk semesta beserta seisinya, juga untuk pemurnian para makhluk alam menderita yang berhasil dilemahkan oleh Archangel Zamael beserta pasukannya.

Itulah persembahanku kepada Bapa, untuk semesta beserta segala isinya.

Harapku, semoga semua makhluk terbebaskan dari penderitaan, kebencian, dan amarah. Semoga semua makhluk dapat menikmati kebahagiaan.

Archangel Zamael beserta pasukan langitnya bekerja keras melawan Kegelapan yang ada di dalam diri setiap makhluk di bumi, juga yang ada di dalam diri manusia-manusia yang memiliki andil atas hidup dan matinya negeri ini. Semoga kekuatan Cinta Kasih mampu menembus batin mereka dan menyadarkan mereka.

Beberapa makhluk Kegelapan yang dapat dimurnikan menjadi makhluk Cahaya, pergi menuju gerbang surgawi di atas Nusantara ini. Gregorious yang menjaga gerbang itu supaya terbebas dari penyusup yang dapat memasuki gerbang suci tersebut.

Makhluk-makhluk yang belum dapat dimurnikan, dikembalikan ke alamnya, dan ada yang dimusnahkan oleh Archangel Zamael beserta pasukannya. Supaya, kekuatan Kegelapan setidaknya dapat berkurang dan tidak mampu menguasai para manusia di negeri ini.

Proses itu berjalan sekitar 30 menit lamanya.

Aku kembali dalam keheningan samadhiku. Tentunya dengan perasaan bahagia... dan bahagia luar biasa atas pengalaman hari ini. Tengah dadaku terasa mengembang, dan batinku terlarut dalam keheningan.

Para malaikat terus bekerja melakukan tugasnya hingga beberapa waktu ke depan sampai situasi di negeri ini kembali normal.

"Zamael...Gregorious...dan teman-teman malaikat semuanya, aku mengandalkan kalian. Mohon lindungilah kami," aku memohon pada mereka.

"Serahkan saja pada kami, Cherry," Zamael menjawab, sekaligus menenangkan batinku. Membuatku semakin yakin bahwa negeri ini akan damai sentosa.

Aku mengakhiri samadhiku.

Aku tak kekurangan apapun. Energiku bertambah. Sebab Bapa besertaku. Disertai dengan Bulan Purnama pada malam nanti.

Semuanya boleh terjadi bukan atas kehendakku, melainkan atas kehendak Bapa.

Aku hanyalah wadahNya.
Kepanjangan tanganNya.
KendaraanNya.

Aku tetaplah bukan siapa-siapa. Aku hanyalah Cherry Kecil dengan sedikit kisah yang unik.

Terima kasihku juga pada kedua malaikat pelindungku,

Archangel Zamael...
Malaikat Gregorious...

Beserta para malaikat yang melindungi kedamaian negeri ini...

Amen.

Written by : Yanti Kumalasari, S.Ds.
Editing by : Kepik Romantis / PVA

Tuesday, March 24, 2020

Archangel Zamael & Archangel Jophiel -Chapter 8-

"Cinta hanyalah ilusi. Ia datang dan pergi. Tidak kekal adanya. Terlalu menggenggam cinta maka akan menimbulkan penderitaan...yang amat sangat. Pahamilah ini, Gregorious," pesannya lagi kepada Gre seraya meletakkan sekuntum mawar merah di tangan mungil Cherry yang tengah tertidur lelap.

Hi, namaku Cherry. Saat ini aku adalah seorang gadis biasa, dengan kisah yang sedikit unik. Aku memiliki sedikit kemampuan batin. Banyak orang ingin menjadi sepertiku, memiliki kemampuan diluar natural manusia. Tapi tidak denganku.

Karena, seiring datangnya kekuatan besar, semakin banyak juga datangnya tugas dan tanggung jawab untuk menolong semua makhluk. Cobaannya justru lebih hebat dari manusia yang memiliki takdir terlahir biasa-biasa saja.

Jika boleh memilih takdir, aku lebih memilih menjadi gadis rumahan biasa yang suka bermain boneka, mengerjakan tugas rumah, memasak, merawat bunga di dalam pot, melukis, menuliskan puisi-puisi indah dan santai membaca majalah Vogue sambil asyik mendengarkan satu album K-Pop "BTS" yang sedang kekinian zaman now.

Tapi kenyataan sebaliknya. Takdir membawaku dengan segala urusan yang berbau dengan iblis, hantu, setan gentayangan dan orang-orang yang sedang dirudung masalah serta kesedihan. Kok kelihatannya seram sekali mainanku ya? Iya, sudah takdir mau bagaimana lagi...aku seperti tidak punya pilihan.

Dari kecil, aku sudah dapat melihat dan berkomunikasi dengan Gregorious, Malaikat Pelindungku. Kemanapun aku berada, Gre selalu ada disampingku, menjagaku, menemaniku kala aku sedih, dan membimbingku ke jalan spiritual ini.

Lalu belakangan seiring perjalanan waktu, Bapa menambah kekuatanku dengan mengutus Archangel Zamael untuk menjaga dan membantu misi pelayanan Bapa di dunia ini melaluiku. Waktu serasa cepat sekali berputarnya.

Dan sangat cepat.

Ketika malam tiba, aku pun tertidur lelap di kamar tidurku. Seperti biasa, Gre Malaikat Pelindungku selalu berjaga menemaniku hingga aku tertidur dengan lelapnya. Sangat terlelap malam itu.

Kali ini aku tidak menceritakan tentang diriku sebagai sudut pandang orang pertama. Aku akan bercerita sebagai penulis, sudut pandang orang ketiga. Karena, ini adalah kisah rahasia Archangel Zamael dan Malaikat Pelindung Gregorious yang belum boleh untuk aku ketahui.

Malam itu juga, Archangel Zamael sengaja datang untuk bertemu dengan Gregorius Malaikat Pelindung Cherry. Dia menampakkan dirinya pada Gre di samping jendela kamar Cherry.

"Gregorious...bisa temani aku bicara sebentar?" kata Archangel Zamael sambil menunjuk ke arah luar dengan jari jempolnya.

"Baik, Tuanku," jawabnya seraya sedikit membungkuk dan menaruh telapak tangan kanannya pada tengah dadanya, bersikap hormat.

Mereka berjalan di sekitar kebun halaman rumahku menghadap sebuah danau. Mereka duduk bersama disana.

Zamael dengan pakaian formalnya, dengan jirah penutup wajahnya itu mencoba melempar sebuah kerikil kecil ke arah danau. Jatuh dan menimbulkan gemericik riakan. Memecah keheningan.

Zamael adalah salah satu Archangel yang paling ditakuti di seluruh alam semesta ini. Karena tugasnya adalah mencabut nyawa makhluk yang hidup, baik di surga maupun di neraka. Di samping sisi kegelapan yang dimilikinya, ada banyak sisi menarik dari dalam dirinya. Zamael merupakan Archangel yang paling santai, misterius, lembut, juga seksi dari caranya memperlakukan gadis mungil seperti Cherry.

Zamael memulai pembicaraan dengan Gregorious, "Gregorious, bagaimana keseharian perkembangan spiritual Cherry semenjak bertemu denganku?"

"Lumayan, Tuanku. Banyak simpul kesadaran yang mulai terbuka satu per satu. Tapi dia masih belum dapat mengendalikan emosinya. Semenjak kehadiran Tuanku dalam kehidupannya, emosinya terus bergejolak," lapor Gregorious pada Zamael sebagai Tuannya di surga sebelum turun ke bumi menjaga gadis mungil bernama Cherry dan menjadi Malaikat Pelindungnya.

"Oh, begitu ya."

"Benar, Tuanku," jawabnya menunduk penuh hormat.

"Kau tahu, apa tujuanku datang kemari?"

"Tidak tahu, Tuanku."

Zamael membuka jirah penutup wajahnya kepada Gregorious. Tidak buruk. Zamael memiliki rambut putih yang panjang. Garis rahangnya begitu tegas dan kuat. Begitu juga dengan matanya sangat tajam. Melalui tatapan matanya pun, ia mampu mencabut nyawa makhluk yang hidup. Luar biasa, sekaligus sangat mengerikan.

Zamael menatap Gregorious yang merupakan salah satu anak buahnya sewaktu mereka bersama di surga dahulu kala. Dia sedikit menundukkan kepalanya pada Gregorious, "Aku ingin mengucapkan terima kasih banyak karena telah menjaga Cherry...untukku."

Gregorious agak terkaget menyaksikan Tuannya begitu bersikap hormat padanya. "Sudah menjadi kewajibanku untuk melindungi Cherry yang Tuanku tugaskan," jawabnya menunduk penuh hormat seraya meletakkan tangan kanannya pada tengah dadanya.

Zamael merebahkan badannya pada rerumputan taman rumah Cherry. Dia menatap jutaan bintang di langit kelam malam itu. Dia menghembuskan nafasnya.

"Mengapa tidak Tuanku sendiri yang menjaganya selama kelahiran demi kelahirannya? Cherry pasti bahagia," tanyanya tersenyum pada Tuannya.

"Justru aku tidak mau. Jauh pada ribuan kelahiranku yang lampau, ketika aku masih menjadi manusia pada periode awal terbentuknya bumi ini, aku pernah bersumpah untuk tidak pernah menemuinya lagi," jawabnya.

"Cherry selalu mencari rumah spiritualnya. Ketika menatap bintang seperti Tuanku ini, dia bilang selalu rindu untuk pulang ke rumah. Tapi dia tidak tahu rumah yang mana. Terutama, hatinya selalu kosong. Dia selalu mencari belahan hatinya yang dulu pernah hilang dan amat dalam meninggalkan kesedihannya. Di kala senggang dia juga selalu menuliskan puisi kesedihan sekaligus kerinduannya pada belahan hatinya pada di setiap lembaran buku diarynya," lapor Gre pada Tuannya.

Mata Zamael sedikit berkaca mendengar laporan Gregorious tentang buku kehidupan milik Cherry.

Sesungguhnya, apakah hubungan Cherry dengan Archangel Zamael, Sang Malaikat Kematian itu pada masa yang lampau, sebelum bumi ini hancur, terbentuk, hancur sampai terbentuknya bumi kembali?...

"Apakah itu sebabnya Tuanku belum bisa membuka jirah penutup wajah kepada Cherry?" tanya Gre kepada Zamael.
"Benar. Aku tidak tahan ketika melihat air matanya menetes ketika melihat wajahku nanti. Sebab aku punya keyakinan bahwa dia masih mengenalku dengan sangat baik, ketika dia menatap masuk ke dalam kedua bola mataku. Cherry masih menyimpan rasa rindu padaku," jawabnya.

"Bagaimana dengan perasaan Tuan?" tanya Gregorious kepada Zamael, Tuannya, seperti sahabat.

"Bagaimana rasanya kesedihanku, tak perlu ditanyakan lagi. Bagaimana rasanya kecewaku, tak perlu ditanyakan lagi. Bagaimana rasanya kehilanganku, tak perlu ditanyakan lagi. Bagaimana rasanya kebencianku padanya, tak perlu ditanyakan lagi. Bagaimana rasa kacaunya perasaanku waktu itu, juga tak perlu ditanyakan lagi...

Aku benar-benar menjadi gila.

Dia meninggalkanku begitu saja tanpa sepatah kata, dan tanpa alasan yang pasti.

Buatku, kepastian adalah justru sebuah ketidakpastian itu sendiri.

Saat itu aku benar-benar jatuh ke dalam gelapnya kegelapan yang paling gelap. Berkali-kali aku terlahir menjadi iblis. Memimpin jutaan pasukan disana untuk menghancurkan semua makhluk yang hidup di neraka.

Dengan rasa frustasiku, setiap hari aku mengasah berbagai kekuatan, cara berperang, pengetahuan akan senjata, dan segala macam kesaktian. Sehingga aku menjadi iblis terkuat di neraka," kisahnya kepada Gregorious seperti seorang sahabat, bukan seperti tuan dengan anak buahnya.

Gregorious Malaikat Pelindung Cherry menyimak kisah Tuannya itu dengan perhatian mendalam.

"Maaf, aku jadi bercerita banyak padamu, Gregorious. Tidak seharusnya aku menceritakan masa-masa kelamku kembali. Aku sudah menguburnya dalam...sangat dalam. Setelah ribuan kelahiran dan jutaan tahun kehidupan, malam ini aku baru berani menghadapi masa laluku kembali, Gre," katanya menatap Gregorious.

"Tidak apa, Tuanku. Dulu saya dengan Tuanku juga sering bercerita panjang lebar, hingga menghabiskan berbotol-botol anggur setelah peperangan tiga masa itu," jawab Gre lembut mengingatkan Tuannya akan masa-masa indah di surga bersama kala itu.

"Benar, Gregorious. Sejak saat itu, kita menjadi teman baik dan aku mengangkatmu menjadi komandan dalam peperangan setelahnya. Kau adalah malaikat yang sangat berbakat dalam bertarung, dan juga dalam berteman. Untuk itulah aku mempercayakan tugas ini kepadamu, Gregorious," kenangnya sambil tersenyum.

"Terima kasih atas kepercayaan Tuanku," jawab Gregorious penuh hormat menunduk.

Mereka kembali hening.

Zamael kembali menatap bintang di langit. "Tapi Bapa sangat mengasihiku, Gre. Sama sepertimu di surga. Sewaktu aku masih tinggal di neraka, Bapa mengangkatku untuk memimpin pasukan malaikat terkuat di surga tingkat lima. Tempat kita dahulu kala. Bapa mengandalkan aku untuk tugas penyabutan nyawa makhluk hidup di alam semesta. Tidak hanya di neraka. Bapa terus memurnikan jiwaku, hingga aku bisa melakukan tugas pembunuhan dan pencabutan nyawa itu tanpa kehendakku sendiri. Melainkan atas kehendak Bapa yang bersemayam di dalam diriku.

Sebenarnya, Archangel Jophiel, wujud asli Cherry sebelum ini, sangat berjasa dalam hidupku. Jika bukan karena kesedihan dan keputusasaan yang aku rasakan dahulu kala, aku tak bisa menemukan kegelapan diriku yang paling gelap untuk termurnikan dengan cepat. Sesungguhnya, Kebijaksanaan yang aku miliki ini datangnya bukanlah dari Cahaya, melainkan dari Kegelapan. Archangel Zamael yang banyak dikenal ini datangnya dari Kegelapan yang melebihi Kegelapan. Itulah aku. Hanya sedikit Cinta yang masih teringat di dalam diriku, aku bisa mengendalikan Kegelapan yang aku miliki," jelasnya.

"Saya mengenal Tuanku dengan sangat baik," sahut Gregorious. "Lantas, mengapa saat ini Tuanku ditugaskan oleh Bapa untuk menjaga Cherry?" tanyanya.

"Sewaktu Bapa memberikanku tugas untuk melindungi manusia, akupun terheran. Sebab, sudah lama aku tak menjadi Malaikat Pelindung bagi siapapun. Tapi akhirnya aku mulai paham. Karena misi yang sama, kami dipertemukan kembali," jawabnya.

Gregorious menatap rerumputan yang bergoyang tertiup oleh angin. Hembusan angin malam itu menyibakkan rambut keemasannya. Matanya seperti menatap sesuatu, tapi sebenarnya tidak. Pikirannya sedang memikirkan sesuatu.

Zamael yang adalah Tuannya begitu mengenal baik anak buahnya, Gregorious Malaikat Pelindung Cherry. Dia terbangun dan mengangkat tubuhnya, melayang dengan keempat sayapnya yang berwarna putih keemasan sempurna itu. Jirah penutup wajahnya dipegangnya dengan satu tangan kirinya. Dia menghadap di depan Gregorious. Seolah ia membaca pikiran Gregorious.

"Gregorious...aku ingin berpesan, sebagai Tuanmu. Hati-hati dengan perasaanmu terhadap Cherry. Dia seorang pecinta yang pandai bermain perasaan. Siapapun Malaikat Pelindung selama kelahiran demi kelahirannya, pasti terkena jerat cintanya. Tidak ada satu malaikat pun yang lolos dari api neraka setelah menjadi pelindungnya. Aku berharap, kamu adalah Malaikat Pelindungnya yang ke 9.999 yang bisa lolos dari panasnya api neraka dan kembali pulang ke surga, berperang bersama denganku lagi," jelasnya sambil keduanya melayang terbang dengan kedua sayap mereka ke arah pintu jendela kamar Cherry tertidur. "Baik, Yang Mulia Tuanku," jawabnya penuh hormat.

Zamael mengubah pakaian perangnya menjadi setelan tuxedo ketika memasuki kamar Cherry, dengan sekejap, hanya dengan sebuah kedipan matanya. "Cinta hanyalah ilusi. Ia datang dan pergi. Tidak kekal adanya. Terlalu menggenggam cinta maka akan menimbulkan penderitaan...yang amat sangat. Pahamilah ini, Gregorious," pesannya lagi kepada Gre seraya meletakkan sekuntum mawar merah di tangan mungil Cherry yang tengah tertidur lelap.

"Baik, Yang Mulia Tuanku."

"Terima kasih, Gregorious. Mohon jaga Cherry dengan baik," Zamael berpesan seraya menghilang dari pandangan Gregorious.

Itulah percakapan rahasia antara Archangel Zamael dengan Malaikat Pelindung Gregorious.

Begitu bermakna.
Menimbulkan kesan yang dalam.
Untuk jadi pelajaran semua manusia di bumi.

Tentang manisnya buah cinta.
Sekaligus pahitnya racun cinta.

Written by : Yanti Kumalasari, S.Ds.
Fan-page Writer :  https://www.facebook.com/thesoulreader.jkt/
Editing by : Kepik Romantis / PVA

Saturday, February 22, 2020

Gelap dan Terang - Chapter 7 -

Matahari selalu berganti dengan Bulan. Begitu pun dengan Bulan selalu berganti dengan Matahari. Semua yang ada di alam semesta ini menjadi seimbang karena adanya Gelap dan Terang. Hitam dan Putih. Yin dan Yang.

Beberapa hari ini entah mengapa aku menjadi mudah emosi. Setiap harinya ada saja hal-hal yang membuat emosiku bergejolak. Hanya hal sepele padahal. Begitu sadar, aku langsung menarik nafas panjang dan memusatkan diri pada ketenangan kembali.

Hingga suatu hari aku bersamadhi mendalam, aku baru mengetahui penyebabnya. Ringkas cerita, aku bertemu dengan Malaikat Pelindungku yang baru diutus oleh Bapa. Namanya Zamael. Dia adalah Malaikat Kematian. Gelap dan Terang ada di dalam dirinya. Dia memiliki tugas atas Neraka dan atas Surga.

Dia bisa menjadi sangat bengis dan kejam saat menghajar dan melenyapkan para iblis di neraka yang tidak bisa dibimbing lagi, tapi sekaligus juga sangat sopan, hormat, santun, lemah lembut dan tentunya mengerti bagaimana cara membuatku tenang ketika aku meneteskan air mata.

Zamael adalah salah satu dari tujuh Archangel yang memimpin jutaan para malaikat surgawi yang terkuat.

Gelap dan Terang. Sesungguhnya, jiwa seseorang hanya dapat dimurnikan dengan adanya Gelap dan Terang. Hitam dan Putih. Matahari selalu berganti dengan Bulan. Begitu pun dengan Bulan selalu berganti dengan Matahari. Semua yang ada di alam semesta ini menjadi seimbang karena adanya Gelap dan Terang. Hitam dan Putih. Yin dan Yang.

Archangel Zamael adalah satu-satunya Archangel yang diizinkan Bapa untuk mencabut nyawa makhluk yang hidup. Oleh sebab itu, Archangel Zamael adalah Archangel yang paling ditakuti semua makhluk yang hidup di alam semesta ini.

Karenanya, dia berpesan bahwa dia belum bisa tinggal bersama diriku, seperti Gregorious, Malaikat Pelindungku. Sebabnya, jiwa dan ragaku belum mampu menampung energi kegelapan yang dimilikinya. Dia berkata agar aku selalu memurnikan diriku. Agar kelak, Gelap dan Terang pun menyatu harmonis dan sempurna dalam diriku. Bila sudah memahami ini, aku akan benar-benar bertransformasi menjadi Cherry yang Bijaksana, seperti yang Gre harapkan...

Ya, saat ini aku masih menjadi Cherry Kecil, yang masih bisa menangis melihat penderitaan para makhluk di alam neraka. Batinku masih bisa bergejolak. Batinku belum cukup tenang seimbang untuk melihat semua fenomena yang ada di alam semesta ini. Terutama, soal cinta...cinta adalah ujian terberat sepanjang kelahiran demi kelahiranku menjadi manusia.

Aku memutuskan untuk mengambil waktu dan berbincang dengan Bapa dalam doa. Aku pergi ke kapel doaNya. Berdiam diri disana. Merenung. Menikmati aura spiritual yang penuh dengan Cinta Kasih Bapa.

Doaku :

"Bapa di dalam surga...

Terima kasih atas nikmat hidup yang Kau beri
Terima kasih atas kebaikan yang aku terima
Terima kasih atas penolong yang Kau utus,

Archangel Zamael.

Mampukan aku, Bapa...
agar dapat memahaminya
agar dapat belajar kebijaksanaan darinya
agar jiwaku semakin termurnikan lagi karenanya

Aku tahu...
Zamael yang Kau utus adalah penolong
Tapi sekaligus rintangan hidupku, Bapa.
Oleh sebab itu, Bapa...

Jadikanku semakin sabar
...semakin welas asih
...semakin tenang seimbang
dalam kondisi apapun...

Terima Kasih ya Bapa...
Terima Kasih...

Semua doa dan permohonan ini,
Aku serahkan ke dalam tanganMu
Melalui perantara Yesus Kristus, PuteraMu.

Amen."

Kini hatiku diliputi oleh kedamaian yang amat sangat.

Gregorious dan Zamael, Malaikat Pelindungku pun ada bersamaku saat ini. Mereka mendengarkan doa yang baru saja aku daraskan kepada Bapa. Gregorious mendampingiku berdoa di samping kiriku. Dan Zamael berdiri di belakang kapel menjagaku...oh tidak, tepatnya menjaga semua umat yang datang dan pergi berdoa di kapel doa itu.

Aku masih dalam posisi berdoa. Mataku masih terpejam. Aku hanya ingin menikmati suasana kedamaian ini.

Zamael datang berlutut di sebelah kananku dengan bersimpuh pada salah satu kakinya. Dia di sampingku kini.

"Cherry, suatu saat engkau pasti akan mengenalku dengan baik," katanya membisikkanku dibalik jirah penutup wajahnya.

Aku menatapnya, cukup lama. "Bagaimana aku bisa mulai mengenalmu, jika jirah itu selalu menutupi wajahmu?" aku membatin.

"Apakah sebuah penampilan penting untukmu?" tanyanya.

Aku terdiam. Seakan suaraku tertelan di kerongkonganku sendiri. Ingin marah. Tapi masa kah marah pada Archangel? Kurang sopan rasanya. Tapi dia benar-benar membuatku sedikit kesal.

Ah...lupakanlah amarah ini. Anggap saja ini sebuah cobaan. Ini kedua kalinya kehadirannya justru menghancurkan keheninganku. Selalu begitu. Saatku sudah merasa hening dan damai, lalu timbul amarah dalam batinku sejak dia hadir menjadi Malaikat Pelindungku yang baru.

Ya. Aku tersadar. Aku belum benar-benar menghancurkan kekotoran batin di dalam diriku. Kedamaian yang kurasakan barulah mengendapkan kekotoran batin yang aku miliki.

Justru kehadirannya adalah pengasah batinku agar semua kekotoran batinku dapat lenyap sempurna...kelak.

Aku mencoba untuk menenangkan diriku kembali. Aku menarik nafas mendalam.

"Kau ingin mengetahui seperti apa rupaku?" tanyanya memecah keheningan ini.

"Ya...jika kau mengijinkan..." jawabku. Tidak tahu mengapa, aku merasa harus melihat wajahnya. Terutama kedua bola matanya. Aku dapat melihat masa lalu serta karakter suatu makhluk hanya dari tatapan matanya. Untuk itulah aku sangat penasaran sekali.

Kami terdiam.

Pertanyaanku membuatnya sedikit berpikir. Perlahan ia mulai membuka jirah penutup wajahnya, membuka setengah wajahnya, dimulai dari dagu dan bibirnya. Membuatku semakin penasaran...

Namun tiba-tiba datang umat yang mendaraskan doa kepada Bapa di kapel itu, di depanku. Aku mendengar isak tangisnya. Empatiku tidak dapat bersembunyi dari relung batinku. Hatiku ikut teriris mendengar isak tangisnya. Ada energi kesedihan yang amat sangat dari tangisannya. Aku pun meneteskan air mataku.

Lalu aku berdoa lagi kepada Bapa :

"Bapa...

Aku mohon supaya Engkau memberi jalan keluar, ketenangan, damai sejahtera dan kebahagiaan bagi para umat yang berdoa disini.

Kasihanilah mereka, ampunilah mereka ya Bapa.

Meski aku tidak tahu apa masalah yang sedang dihadapi para umat disini, tapi aku yakin Engkau pasti turut campur dalam setiap mujizat yang datang dalam hidup mereka kelak, ya Bapa.
Terima Kasih, Bapa.

Amen."

Dalam doaku, aku melihat para malaikat melayang di sekitar kapel dan menebarkan benih-benih kasih sayang kepada mereka semua yang mendaraskan doa di tempat itu.

Gregorious dan Zamael turun tangan memberantas kegelapan yang ada dalam diri mereka saat itu. Kegelapan yang ada dalam diri mereka seolah dicabut melalui atas kepala mereka. Semua roh ketakutan, kegelisahan, kecemasan, dan segala roh kegelapan yang tidak baik dalam diri mereka dicabut saat itu juga. Sehingga membuat hati mereka lebih nyaman. Seharusnya. Imanku.

Aku pun menyudahi doa malam hari di kapel itu. Ketika aku membuka mata, tiba-tiba aku melihat secarik kertas kecil yang bertuliskan,

"Ziarah Maria Fatima
Gereja “Konstantine” Jayakerta"

Entah darimana datangnya. Tiba-tiba tertinggal secarik kertas bertuliskan demikian.

Aku pun bertanya pada kedua malaikat pelindungku. Mereka tidak menjawabnya. Mungkin ini hanya Rahasia Tuhan yang belum saatnya untukku tahu. It's Ok. All is Well.

Pasti ada makna dibalik kata-kata. Dan aku menyimpannya dalam tasku. Suatu saat aku pasti membutuhkannya. Pasti. Dengan imanku.

Hanya saja, malam ini aku belum dapat memecahkan teka-teki tulisan itu. Tidak apa.

Akupun turut bahagia.
Harapku, semoga mereka semua berbahagia.

Amen.

Written by : Yanti Kumalasari, S.Ds.
Fan-page Writer :  https://www.facebook.com/thesoulreader.jkt/
Editing by : Kepik Romantis / PVA