Tuesday, July 9, 2013

TOGOG ERA MILENIUM

Togog adalah putra dewa yang lahir lebih dulu sebelum Semar, tapi karena tidak mampu mengayomi bumi maka Togog kembali ke asal lagi alias tidak jadi lahir. Dan pada waktu bersamaan lahirlah Semar. Ia bersahabat dengan Semar dan karena terhitung lebih tua Togog daripada Semar, maka Semar memanggil Togog dengan sebutan Kang Togok.

Pada zaman kadewataan diceritakan Sanghyang Wenang mengadakan sayembara untuk memilih penguasa para dewa di kahyangan dari ketiga cucunya yaitu Batara Antaga (Togog), Batara Ismaya (Semar) dan Batara Manikmaya (Batara Guru). Untuk itu sayembara diadakan dengan cara barang siapa dari ketiga cucunya tersebut dapat menelan bulat-bulat dan memuntahkan kembali Gunung Jamurdipa maka dialah yang akan terpilih menjadi penguasa kahyangan.

Pada giliran pertama Batara Antaga (Togog) mencoba untuk melakukannya, namun yang terjadi malah mulutnya robek dan jadi dower karena Togog salah menelan gunung yang sedang aktif dan mendadak meletus ketika gunung tersebut berada di dalam rongga mulut Togog. Sejak itu Togog digambarkan sebagai sosok bermulut dower/mrongos (jongang), bermata keran (juling), hidung pesek, tak bergigi dan berkepala botak, rambut hanya sedikit di tengkuk. Bergelang. Kain slobog, (nama batik), berkeris dan berwedung. Togog bersuara besar, cara menyuarakannya dengan suara dalam leher dibesarkan.


Giliran berikutnya adalah Batara Ismaya (Semar) yang melakukannya, Gunung Jamurdipa dapat ditelan bulat-bulat tetapi tidak dapat dikeluarkan lagi karena Semar tidak bisa mengunyah akibat giginya taring semua, dan jadilah Semar berperut buncit karena ada gunung didalamnya seperti yang dilihat pada karakter Semar dalam pewayangan. Karena sarana sayembara sudah musnah ditelan Semar maka yang berhak memenangkan sayembara dan diangkat menjadi penguasa kadewatan adalah Sang Hyang Manikmaya atau Batara Guru, cucu bungsu dari Sang Hyang Wenang.


Adapun Batara Antaga (Togog) dan Batara Ismaya (Semar) akhirnya diutus turun ke marcapada (dunia manusia) untuk menjadi penasihat, dan pamong pembisik makna sejati kehidupan dan kebajikan pada manusia, yang pada akhirnya Semar dipilih sebagai pamong untuk para satria berwatak baik (Pandawa) dan Togog diutus sebagai pamong untuk para satria dengan watak buruk (Kurawa).


Togog adalah tokoh wayang yang digunakan pada lakon apapun juga selalu berada di pihak raksasa. Ia sebagai pelopor petunjuk jalan pada waktu raksasa yang diikutinya berjalan ke negeri lain. Pengetahuan Keburukan Togog dalam hal ini, karena ia senang sekali menjelajah ke banyak negeri dengan menghambakan dirinya dan sebentar kemudian pindah kepada majikan yang lain sehingga tidak mempunyai kesetiaan. Karena itulah kelakuan Togog ini sering diumpamakan contoh kehidupan pada seseorang yang belum dewasa / bijak, tidak dapat setia menepati ucapan janjinya, tidak setia pada pekerjaannya (ibarat kutu loncat) dan sering berganti-ganti majikan.


Dalam kultur Jawa selain cerita utamanya adalah wayang purwa, ada tokoh ponokawan, salah satunya yang bernama Togog. Tokoh Togog ini mudah dikenali karena ciri khusus yang melekat pada organ biologisnya yaitu dengan mulut besar (melewati batas kewajaran mulut yang normal). Sebenarnya, nenek moyang dahulu telah memberi peringatan kepada anak cucu (generasi penerus) dengan simbol seperti Togog. Karena itu, Togog dijadikan cermin kehidupan manusia dari sejak zaman dahulu, sekarang maupun masa depan. Tokoh ini sebagai pengasuh atau pengawal kesatria yang berkarakter jahat. 


Pada umumnya, tokoh berkarakter jahat tidak punya hati (perasaan), tidak punya nurani, karena nurani telah mati, penglihatan telah buta, dan pendengaran menjadi tuli. Di dalam hati kesatria yang jahat hanyalah ada nafsu untuk berkuasa (politik) dan nafsu menguasai harta kekayaan (ekonomi-kapitalis). Untuk meraih kekuasaan dan sumber ekonomi ditempuh dengan berbagai jalan yang licik dan mengabaikan faktor moral etik. Akibatnya, dalam masyarakat terjadi chaos (kacau) banyak perbuatan makar, kenakalan, korupsi, narkotika, kekerasan, penipuan, pembalakan hutan, dan sebagainya. Hal itu disebabkan oleh watak (karakter) tamak, rakus terhadap kekuasaan dan materi, seolah-olah jagat mau diemperi (dunia akan diberi teras).


Karakter yang tidak puas secara politik dan secara ekonomi itulah yang digambarkan seperti Togog yang mempunyai mulut besar untuk menelan jagat (bumi) ini. Ketika Togog terlalu bernafsu menelan jagat dan seisinya, dia tidak sadar bahwa perilakunya itu adalah perilaku yang tidak wajar dan merugikan banyak orang.


Dengan mengingat tokoh pewayangan yang bernama Togog, ada kemiripan dengan istilah “Thugocracy” yang dipakai oleh Emmanual Subangun (Kompas, 27 Februari, 2010) untuk mendeskripsikan sebuah demokarasi yang bergerak menjadi premanisme, karena di dalam praktik demokrasi telah mengabaikan moral, etika, dan kesantunan.


Nama tokoh Togog dalam pewayangan Jawa yang sudah berabad-abad lamanya, ada paralenyal dengan kosa kata thogho dalam bahasa Arab. Hal ini terekam dalam azhab ila fir ‘auna innahu thogho; faammaa man thogho (QS, 79: 17, 37). Arti kata thogho adalah melampaui batas. Dalam kitab suci tersebut untuk mendeskripsikan Raja Firaun dan pengikutnya yang memiliki watak jahat, yang suka melampaui batas (thogho).


Togog hanyalah symbol, tentang nafsu angkara murka. Pelajaran bagi manusia yang ingin menguasai semuanya, yang pada akhirnya tidak akan mendapatkan apa-apa. Dan manusia modern di Zaman Era Milenium jauh lebih sakti dan gila daripada Togog. Bukan hanya Gunung yang dimakan. Hutan, Laut, sampai seluruh kekayaan isi perut bumi terus disikat.


Togog di abad 21 dari awal Era Milenium telah lahir dalam model hyper konsumtif. Mengkonsumsi semuanya. Menikmati segalanya. Menguasai semua yang ada. Lihatlah problem masyarakat modern: terus merasa kekurangan. Mobil kurang mewah, Rumah kurang besar / luas, Gadget / Elektronik (Handphone / Telepon, Televisi, Kamera, Komputer, dll) kurang canggih, Fashion (Pakaian, Perhiasan, Sepatu, Tas, Kacamata, Jam tangan, dll) kurang modis, Uang di Tabungan masih kurang banyak.


Sesungguhnya Puasa adalah pembelajaran untuk Tidak menjadi Togog, Karena betapa sering kita bernafsu sebelum waktunya berbuka. Ada istilah "Lapar di Mata" sehingga berusaha membeli semua makanan yang ada untuk persediaan (perasaan takut masih merasa lapar dan haus) dan menyiapkan semuanya. Tapi begitu saatnya berbuka Puasa dan baru saja menegak minuman manis dan takjil secukupnya, kita sudah merasa cukup kenyang.


Cukup adalah kuncinya. Manusia tidak akan pernah merasa puas, tapi ia bisa merasa cukup. Cukup adalah Batasan. Tahu kapan harus memulai dan kapan harus berhenti. Kapan harus menambah dan kapan harus mengurangi, kapan membuka dan kapan menutup. Cukup adalah equilibrium. Titik tengah. Tidak kekurangan. Tidak juga berlebihan. Hanya dibutuhkan segelas air dan sebutir kurma untuk berbuka. Dan hanya dibutuhkan setitik kata syukur dan setetes rasa ikhlas untuk hidup berbahagia.


Dengan demikian, tokoh Togog dalam seni tradisi pewayangan Jawa terdapat cermin bagi setiap manusia agar perilaku hidupnya senantiasa berhati-hati, agar tidak tamak, tidak rakus terhadap kekuasaan dan materi yang dapat berdampak negatif kepada bangsa maupun negara. Jika sedang berkuasa, Jangan sampai berpaling ke arah thugocracy dan thogho (melampaui batas). Jangan sampai juga di antara kita menjadi seperti Togog atau terus menjadi Togog-Togog selanjutnya yang bermutasi dan bertambah rakus, serakah dan tidak pernah merasa Cukup.













No comments:

Post a Comment